18+
•
•
•
Hawa keberadaan Alucard bagai mencabut sisa kehidupan Hanzo, bagai melenyapkan darah dalam tubuh muda yang kini sepucat mayat saat melihat sosoknya di sana. Ngeri, merinding. Jantung Hanzo berdetak lebih kencang dari siapapun, membuat dadanya sesak dan oksigen seakan berkurang drastis. Tubuhnya hampir mati rasa, tapi perasaannya masih merasakan ketakutan yang tak terbendung hingga rasanya dia ingin merobek tubuhnya sendiri sampai mati demi melarikan diri dari kengerian yang mencekal jiwanya. Dia ingin lari, tapi kakinya bagai terpasung, tubuhnya bagai tak bertulang.
"Kerja bagus, Granger." Alucard mengeluarkan pemantik dan membakar rokoknya. Bara itu menyala bagai kunang-kunang dalam gudang gelap. Asapnya terhirup oleh penghidu yang ada di sana, berbagi racun yang sama, barangkali akan bertiga terjun ke neraka.
"Kukira kau tidak akan datang hari ini. Bukankah hari ini ada kiriman?" Tanya Granger dengan wajah yang nampak terkejut karena kedatangan Alucard yang tidak disangka-sangka.
Alucard mengembuskan asap, nampak tidak tertarik membicarakan itu. "Tidak, itu ditunda. Ada serangga yang mengganggu ekspedisi."
Granger mengangguk mengerti. Dia melirik Hanzo yang duduk lemas tanpa pakaian apapun yang menutupi tubuhnya yang menyedihkan. Dia sudah berusaha untuk membersihkan tubuhnya dengan kain dan air hangat, tapi Hanzo berontak dan nampak ketakutan saat disentuh. Tiap kali ketakutan, dia akan muntah dan menggigil hebat. Itu membuat Granger ngeri, dia takut rasa takut pemuda itu akan menggerogoti hidupnya perlahan. Setidaknya dia ingin membuatnya tenang dengan mengabarkan bahwa Alucard tidak akan datang. Namun dia berakhir seperti memberi harapan palsu.
Alucard ada di sana, sudah mengamati Hanzo dan barangkali merencanakan sesuatu yang akan memperburuk kondisi pemuda malang itu.
"Toh, aku punya barang bagus di sini. Waktuku sia-sia jika tidak kuhabiskan bersamanya."
Granger mendongak saat mendengar Alucard mengatakan hal itu. Dia merasakan bulu kuduknya meremang karena merinding membayangkan hal apa lagi yang akan dilakukan Alucard pada Hanzo. Dia bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa rasa takut yang dirasakan Hanzo sekarang.
Dia ingin sekali mengatakan pada Alucard bahwa ada penawaran yang lebih baik saat ini, tapi dia tidak punya kuasa apapun.
"Alu-"
"Tinggalkan kami, Granger. Kembalilah nanti malam."
Granger mendesah pasrah, mau tak mau dia harus pergi atau Alucard akan marah. Adakah cara untuk menjauhkannya dari Hanzo? Granger tetap merenung sembari berjalan keluar dari gudang pengap itu dan menutup rapat pintu di belakangnya.
Netra tarum milik Alucard mengawasi kepergian Granger, kemudian bergeser menatap Hanzo yang jelas sekali tidak sudi menatapnya. Pemilik surai merah itu tak ubahnya seperti arca yang tertunduk dan hening, bahkan napasnya tidak terdengar dalam kesunyian yang menyelimuti atmosfer kelam nan mencekik ini. Alucard mendekati Hanzo dan berdiri di hadapan surai merah itu, menegaskan bahwa dia memiliki kendali penuh di situ.
"Yah, tinggal kita berdua di sini. Apa yang menyenangkan untuk dilakukan berdua. Kau punya ide?"
Hanzo diam seribu bahasa. Dia tercekik dalam ketakutan dan rasanya ingin muntah. Udara di sekitarnya seakan raib. Dia bahkan tidak tahu apakah dia masih waras atau sudah sakit jiwa oleh bangsat di hadapannya itu, yang bertingkah seolah seperti dewa yang memilikinya sejak awal.
"Seingatku kau tidak tuli pun tidak bisu, tapi kenapa aku tidak mendapatkan respon apapun darimu?" Alucard menyilangkan tangannya sambil berdecak kesal. "Kau mau menyembunyikan wajah cantikmu itu dariku dengan terus menunduk seperti itu, huh?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ANIKI
Romance[Hayabusa x Hanzo] [Modern AU] Dalam kehidupan yang gelap, Hanzo hanya ingin menemukan kehangatan... * MY FIRST BOOK * - Jadwal up tidak tentu, kadang ide mandek di tengah jalan. - Banyak kesalahan tipografi, jadi kalau menemukan tolong komen untuk...
