Pansa, Rando, dan View duduk berkumpul di lantai beralaskan karpet tebal. Layar proyektor besar di depan mereka memutar film yang menjadi fokus utama View dan Pansa, sementara Rando lebih sibuk dengan ponselnya.
"Ayo dong, bocorin rencana cuti lo," desak Rando, nadanya setengah kesal. Ia duduk bersandar pada sofa di belakang Pansa, dengan tangan yang sibuk menarik-narik rambut sahabatnya itu.
Pansa menghela napas, menoleh sekilas pada Rando dengan tatapan jengah, sebelum kembali memusatkan perhatian pada layar. "Gue belum tau mau ke mana. Lagian kalau udah mutusin juga, gue nggak akan ngasih tau lo," katanya kesal. "Gue bener-bener mau mengasingkan diri. Nggak boleh ada yang ngunjungin."
Rando mendesah dramatis, menjatuhkan dirinya ke belakang seperti orang frustasi. "Serius? Bahkan gue nggak boleh dateng? Lo tega banget, sih!"
"Apalagi lo," timpal Pansa, kini menoleh penuh, menatap Rando dengan alis terangkat. "Kalau gue ngasih tau lo, lo pasti bakal nyusulin gue cuma buat ngerusak ketenangan gue."
View tertawa kecil mendengar interaksi mereka, tapi pandangannya tetap pada layar. "Gue juga nggak boleh?" tanyanya tiba-tiba tanpa menoleh.
Pansa mengangguk mantap. "Bahkan enggak orang tua gue. Jadi kalian jangan nanya-nanya lagi."
Rando memasang wajah pura-pura kecewa sambil memeluk bantal sofa. "Gue nggak percaya lo sejahat ini sana gue. Kita kan sahabat yang tak boleh terpisah oleh ruang dan waktu," kata Rando dramatis.
"Lebay lo!" Cibir View.
Pansa hanya mengangkat bahu, malas menanggapi. Ia kembali menatap layar proyektor, mencoba mengabaikan gangguan dari Rando.
"Cair nih Pansa bentar lagi," goda Rando lagi.
Pansa termenung mendengar ejekan itu. Ucapan Rando justru mengingatkannya pada kenyataan yang mulai terasa menggantung di benaknya. Kontraknya dengan perusahaan Love akan segera berakhir. Artinya ia akan kembali ke kantornya.
Pansa menatap layar proyektor, tapi pikirannya melayang jauh. Walau hubungannya dengan Love telah melampaui batas profesional, ada sesuatu yang ia rasa akan hilang. Rutinitas mereka di kantor, kebiasaan kecil yang sering diabaikan, kini terasa begitu berarti. Malam-malam lembur di mana mereka saling mendukung di tengah tekanan deadline, atau tawa kecil di sela-sela rapat panjang yang melelahkan.
Seharusnya Pansa senang. Ia akan kembali ke kantornya, kembali ke rutinitas yang lebih santai. Jumlah uang yang akan ia terima dari proyek ini pun sangat besar, cukup untuk memanjakan dirinya atau bahkan membeli rumah impiannya. Namun, entah kenapa, hatinya terasa berat. Rasanya seperti sedang berjalan meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada semua itu.
Pansa menghela napas pelan, mencoba menyembunyikan kegundahannya. Tatapannya sekilas melirik ke arah ponselnya di meja, berharap ada pesan dari Love, tapi layar tetap gelap. Ia merapatkan selimut di pangkuannya, mencoba mengalihkan perhatian pada film yang masih berjalan di depan mereka.
"The pizza is here!" seruan Mia yang baru datang membuyarkan lamunan Pansa, ada dua kotak pizza di tangannya.
"Yes! Gue udah laper banget," seru Rando, bangkit dengan semangat untuk membantu Mia.
Keceriaan yang terasa di antara teman-temannya membuat Pansa tersenyum kecil. Walau ia berusaha mengendalikan perasaan yang bergejolak. Mungkin ini hanya perasaan sesaat. Mungkin ia hanya perlu waktu untuk terbiasa dengan perubahan. Tapi di sudut hatinya, ia tau, kehilangan waktu-waktu itu dengan Love akan menjadi salah satu hal yang sulit ia lupakan.
***
Love berdiri di depan sebuah display yang menarik perhatiannya. Sebuah heels hitam dengan desain strap minimalis berdiri anggun di tengah-tengah rak kaca di tengah ruangan. Love mengamati sepatu itu dengan mata berbinar, pikirannya kemudian melayang pada seseorang.
