Pansa terbangun dari tidur dengan sedikit kesal. Suara ponsel yang berdering keras memaksanya membuka mata. Dengan malas, ia meraba nakas di samping tempat tidur untuk mengambil ponselnya.
"Halo?" suaranya serak, tanda baru saja bangun.
"Lo masih tidur? Udah jam berapa nih?" Suara Rando terdengar di ujung telepon. "Gue udah nungguin nih, brunch yuk."
Pansa mengerang pelan, menutup matanya lagi. "Gue nggak bisa, hari ini mau makan di rumah orang tua gue." Ia meletakkan ponselnya di atas bantal, berharap Rando menyerah.
"Yaelah, lo masih bisa ke rumah bokap lo setelahnya. Ayolah, udah lama kita nggak brunch. Lagian gue butuh lo, nih."
"Butuh gue buat apa?" Tanga Pansa malas sambil membuka mata.
"Rahasia. Tapi lo harus dateng. Gue jemput kalau perlu," ancam Rando.
Pansa berdecak kesal. "Nggak perlu jemput. Gue mandi dulu. Awas aja kalau nggak penting."
"Penting sumpah," sahut Rando cepat, memutus panggilan sebelum Pansa sempat berubah pikiran.
Pansa menghela napas panjang. Ia sebenarnya lebih ingin bermalas-malasan di rumah, tapi Rando memang selalu punya cara untuk memaksanya keluar. Kadang, Pansa mempertanyakan kenapa ia selalu tak bisa menolak ajakan Rando, bahkan untuk hal-hal sekecil apapun. "Jangan-jangan lo dukunin gue, makanya gue mau terus tiap lo ajak ke mana-mana," kata Pansa, dulu di masa kuliah, saat Rando tiba-tiba menjemputnya di kos tengah malam hanya untuk ditemani makan.
Begitu sampai di restoran hotel, Pansa segera mencari Rando. Suasana di sekitar sangat ramai, orang-orang terlihat sibuk menikmati pagi mereka. Pansa mengeluarkan ponsel, hendak menelepon Rando, tapi suara familiar menghentikannya.
"Pansa! Sini!" Rando melambaikan tangan dari salah satu meja.
Pansa berjalan mendekat, tapi langkahnya melambat saat menyadari ada dua orang lagi di meja itu, Gaby dan Love.
Pansa berdiri mematung selama beberapa detik. Love sedang duduk santai dengan cangkir kopi di tangannya. Ketika Love mendongak dan menyadari kehadiran Pansa, sebuah senyum kecil terbit di wajahnya.
"Jadi gue di sini sebagai penyelamat Love, biar nggak jadi nyamuk, gitu?" Pansa coba menyembunyikan kegugupannya dengan bercanda.
Gaby tertawa kecil. "Nggak tau nih, Rando ngajaknya dadakan sih. Gue hari ini ada jadwal nyalon sama Love, makanya gue culik aja ke sini sekalian."
Pansa hanya mengangguk pelan, berusaha mengalihkan perhatiannya dari Love.
Makanan mulai datang satu per satu. Rando dan Gaby asyik mengobrol tentang berbagai hal, mulai dari pekerjaan hingga rencana liburan. Pansa lebih banyak diam, hanya sesekali menanggapi dengan senyum atau anggukan. Di sisi lain, Love terlihat menikmati obrolan, tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arah Pansa.
"Sayang banget Pansa nggak bisa ikut," celetuk Rando.
"Karena cuti ya?" Love menyahuti.
Pansa hanya mengangguk, tapi tak menanggapi lebih jauh.
Tak lama kemudian pelayan mendekat ke meja mereka, membawa teh hangat pesanan Pansa. Namun, sebelum sempat meletakkan cangkir teh di atas meja, ia tersandung kaki kursi, teh tumpah mengenai meja, sebagian mengenai baju Rando dan Pansa yang kebetulan duduk bersebelahan.
"Oh, maaf, maaf!" kata pelayan itu panik, membungkuk berulang kali untuk meminta maaf.
Rando langsung mendumal sambil berdiri, menarik tisu yang diberikan Gaby. "Pagi-pagi udah sial."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gravity 2.0 (Sequel)
Fiksi PenggemarYang dianggap usai, ternyata belum selesai.
