Pansa melepaskan sepatunya di dekat pintu, lalu berjalan santai menuju dapur tanpa bertanya. Ia mulai hafal tata letak apartemen itu, seolah tempat tersebut sudah berkali-kali ia kunjungi. Love memperhatikan Pansa dari belakang, senyum simpul terbit di bibirnya.
"Feels like home already, huh?" goda Love sambil menutup pintu apartemen.
Pansa menoleh sekilas, mengangkat gelas wine yang baru saja diisinya dari cooler. "I think I am."
Love terkekeh pelan, lalu mulai membuka blazernya dengan perlahan, seolah gerakannya sengaja dibuat untuk menggoda. Ia menatap Pansa yang kini berdiri di dapur, bersandar santai dengan gelas wine di tangan.
Pansa memiringkan kepala, matanya tak lepas dari Love yang terlihat begitu percaya diri dengan aksinya. Ia mengangkat alis sambil tersenyum kecil, seolah mengisyaratkan bahwa ia menangkap godaan itu dengan sangat jelas.
"You serously doing this to me?" Tanya Pansa sambil menyesap wine di tangannya, matanya tak lepas dari Love.
"Doing what?" Love balik bertanya dengan nada rendah, melempar blazernya ke sofa, menyisakan blus putih tanpa lengan di tubuhnya. Ia berjalan perlahan mendekati Pansa, matanya tak lepas menatap dengan intens.
Pansa tetap di tempatnya, tapi tubuhnya sedikit menegang saat Love berdiri hanya beberapa inci darinya. Wanita itu mengambil gelas wine dari tangannya, mencicipi isinya tanpa izin, lalu tersenyum setelah menelan cairan merah itu.
"Not bad," kata Love ringan.
Pansa tertawa pelan, tatapannya berubah lebih intens. Ia condongkan tubuhnya sedikit ke depan, membiarkan jarak di antara mereka semakin tipis. "You're playing a dangerous game, Pattranite."
Love mengangkat bahu dengan santai, bibirnya melengkung, tersenyum penuh arti. "Oh, I love dangerous game."
Pansa menatapnya sejenak, lalu tiba-tiba menyentuh pinggang Love, menariknya lebih dekat. Jarak di antara mereka hampir tak ada lagi, dan suasana apartemen seketika terasa lebih hangat dari sebelumnya.
Pansa mengatur napasnya yang perlahan mulai tak teratur, menatap Love yang dengan perlahan menarik diri dari jarak yang hampir membakar mereka berdua. Love tersenyum miring, puas melihat Pansa berusaha mengendalikan ekspresinya.
Sebelum Love sempat duduk di sofa, tangan Pansa kembali melingkar di pinggangnya, menariknya dengan lembut. "Kamu pernah main piano buat aku dulu," kata Pansa, suaranya rendah tapi penuh makna. Matanya tertuju pada piano di sudut ruangan, yang sebelumnya hanya ia perhatikan sambil lalu setiap kali berkunjung.
Love menoleh, mengikuti arah pandang Pansa, lalu kembali menatapnya dengan alis sedikit terangkat. "You're bringing that up now?" tanyanya, setengah tertawa, juga penasaran.
Pansa tersenyum kecil, tapi ada sesuatu di matanya yang tak bisa disembunyikan. "Is it too much to ask to play me a song?"
Love menghela napas pelan, mempertimbangkan permintaan itu. Ia tau Pansa tak sekadar ingin mendengar musik. Ada sesuatu di balik permintaan itu, sesuatu yang ingin Pansa rasakan kembali, sesuatu yang mereka tinggalkan di masa lalu.
"Tapi jangan salahin aku kalau tiba-tiba lupa nadanya," kata Love, berusaha mengulur waktu sambil melepaskan genggaman Pansa di pinggangnya.
Pansa terkekeh pelan, tapi tak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengambil tempat di sofa, menyandarkan tubuhnya dengan nyaman sambil menunggu Love berjalan menuju piano. Ada senyum samar di wajahnya, tapi sorot di matanya jelas, ia tak sabar melihat Love memainkan alat musik itu, seperti dulu.
Love akhirnya menyerah. Ia melangkah menuju piano, menarik kursi kecilnya, lalu duduk dengan elegan. Jemarinya menyentuh tuts piano, mencoba mengingat melodi yang pernah ia mainkan untuk Pansa di masa lalu. Butuh beberapa detik sebelum ia mulai menekan tuts-tuts itu dengan hati-hati, memainkan sebuah melodi lembut yang terdengar familiar.
