11

2.3K 271 28
                                        

Sore itu begitu cerah, sinar matahari menyelimuti halaman belakang rumah orang tua Pansa. Di tengah suasana tenang, tawa Leo dan Rando terdengar menggema ketika bola yang mereka kejar bergulir tak tentu arah. Pansa duduk di gazebo sudut halaman, menyandarkan tubuhnya santai, menikmati pemandangan sederhana penuh kehangatan itu.

Senyumnya melengkung saat melihat Leo begitu gigih berusaha merebut bola dari Rando. Ia tenggelam dalam momen itu hingga tak menyadari ayahnya muncul, membawa segelas jus dingin dan duduk di sampingnya.

"Panas ya?" Kata sang ayah.

Pansa menerima jus itu dengan anggukan kecil. "Lumayan, yah. Tapi seru liatin mereka main bola."

Ayahnya tertawa kecil, menatap Leo dan Rando yang kini saling mengejar bola dengan penuh semangat. "Rando nggak pernah bosen kayaknya main sama Leo."

"Rando pengen banget punya adik dari dulu, makanya seneng main sama Leo."

Pansa menyadari ayahnya sejak tadi menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ia akhirnya menoleh "Ayah mau ngomong sesuatu?" tanya Pansa.

Sang ayah tampak ragu sejenak, tapi akhirnya ia menarik napas dalam dan berkata, "kamu... udah ketemu bunda?"

Kalimat itu membuat Pansa terdiam. Jemarinya berhenti memutar gelas di tangannya. Ia tau cepat atau lambat topik ini akan muncul.

"Kenapa tiba-tiba nanyain dia, yah?" Tanya Pansa, rasanya menyebutnya ibu saja ia enggan.

Sang ayah menghela napas panjang. "Ayah cuma penasaran. Kamu udah ketemu dia lagi?"

Pansa menunduk dan mengangguk kecil. "Beberapa bulan lalu," katanya pelan.

Ayahnya terlihat terkejut, tapi ia menutupinya dengan anggukan kecil. "Trus gimana pertemuan kalian?"

Pansa mengedikkan bahu. "Kacau," katanya.

Sang ayah terdiam, memandang Leo dan Rando yang kini duduk kelelahan di atas rumput, lalu kembali menatap Pansa. "Sebenernya, sejak kepergiannya, ayah ketemu lagi sama bunda kamu beberapa tahun kemudian."

Pansa menoleh cepat, sorot matanya penuh pertanyaan. "Kapan?"

"Waktu kamu kuliah, dia tiba-tiba muncul," jawab sang ayah, nada suaranya berat. "Dia bilang mau ketemu kamu, tapi waktu itu dia juga bilang belum siap."

"Kenapa ayah nggak kasih tau aku?" Tanya Pansa, tak bisa menyembunyikan nada kecewa dalam suaranya.

Sang ayah menggeleng pelan. "Dia yang minta, sayang. Katanya, dia sendiri yang akan nemuin kamu kalau udah waktunya. Ayah juga nggak mau ganggu konsentrasi kamu waktu itu, apa lagi kamu lagi fokus sama tugas akhir. Maafin ayah, ya?"

Pansa menggigit bibir, mencoba mencerna kata-kata itu. Di satu sisi, ia mengerti alasan ayahnya. Tapi di sisi lain, ia merasa seperti melewatkan sesuatu yang seharusnya ia ketahui lebih awal. Tapi mengingat pertemuannya beberapa waktu lalu, rasanya Pansa tak apa jika sama sekali tak bertemu.

"Ayah... pernah mau dia kembali?" Tanya Pansa, suaranya hampir berbisik.

Sang ayah menatapnya, tersenyum tipis. "Dulu, sebelum ketemu ibu, ayah nggak pernah berhenti mengharapkan itu. Tapi setelah ibu dateng di kehidupan ayah, kehidupan kita, perasaan itu lenyap seketika."

Pansa tersenyum, merasakan hal yang sama. Kehidupannya kini, bersama ayah, ibu, dan sang adik, tak lagi membuatnya menginginkan orang lain dalam hidupnya. Ia merasa cukup, ia merasa bahagia dengan apa yang mereka miliki sekarang.

"Ayah sebenarnya mau tau satu hal lagi," kata sang ayah setelah beberapa saat. "Kira-kira, kapan kamu bawa seseorang ke sini?"

Pansa menoleh, dahinya mengernyit. "Seseorang?"

Gravity 2.0 (Sequel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang