"Kalau butuh bantuan atau saran, jangan ragu tanya saya," kata Pak Joshua ramah, saat Pansa berpamitan di depan pintu. Ia baru saja konsultasi mengenai project yang ia tangani, yang kini sudah masuk tahap final. "Cuti udah di depan mata," godanya.
"Thank you, pak," balas Pansa sambil tertawa sebelum menutup pintu ruangan bosnya.
Ia melanjutkan langkah menuju ruangan Rando. Sudah lebih dari seminggu sejak mereka bertemu terakhir kali di rumahnya, dan meskipun mereka tetap berkomunikasi lewat pesan, rasanya tetap berbeda saat bertemu langsung.
"Hai mbak, tumben ke kantor," sapa salah satu staff yang kebetulan berpapasan dengan Pansa.
"Iya, ada urusan sama pak Josh," sahut Pansa ramah, lalu melanjutkan langkah.
Pansa mengetuk pintu ruangan Rando yang setengah terbuka.
"Masuk aja, Pansa Vosbein!" Suara Rando terdengar ceria dari dalam.
Pansa membuka pintu sepenuhnya, mendapati Rando duduk di balik meja kerjanya, dengan beberapa dokumen berserakan di atas meja. Laki-laki itu tersenyum lebar saat melihatnya. "Tumben lo ke sini. Ada angin apa?"
"Lagi ada urusan sama Pak Josh." Pansa mengulangi jawaban yang sama. "Sekalian mampir. Kangen juga nggak ketemu lo seminggu."
"Wah, merasa terhormat gue. Tumben lo kangen," sahut Rando sambil terkekeh. Ia menunjuk kursi di depan mejanya. "Project lo gimana? Udah sampe mana?"
Pansa duduk dengan nyaman, mulai bercerita sedikit tentang diskusinya dengan Pak Joshua. Rando mendengarkan sambil sesekali bertanya detail, tapi pembicaraan mereka tak berlangsung lama karena tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar, menampakkan Mia dengan wajah riangnya.
"Halo halo!" Mia masuk tanpa menunggu undangan, membawa dua gelas kopi di tangan. "Tadi gue liat mobil lo di parkiran, mbak. Ternyata bener lo ke sini."
Mia menyodorkan kopi pada Rando dan Pansa, lalu duduk di sofa di pojok ruangan. Ia menatap Pansa dengan senyum jahil. "Lagi bahas apa nih? Kenapa nggak ngajak gue?"
Pansa tertawa kecil. "Cuma ngobrol biasa kok. Lo abis dari mana?"
"Baru balik dari meeting. Capek banget, jadi mampir ke pantry dulu buat ngopi, terus kepikiran sekalian mampir ke sini buat nyamperin kalian."
Rando mengangkat alis, melirik Mia yang sudah duduk nyaman di sofa. "Santai banget ya, belum juga dipersilahkan."
"Yaudah sih mas, santai aja," sahut Mia santai sambil meregangkan tubuh.
Mia menatap Pansa dengan tatapan sedikit penasaran. "Jadi, mbak Pansa sekarang jarang banget nongol di sini karena udah betah banget di kantor baru, ya?" tanyanya dengan nada setengah bercanda.
Pansa tersenyum tipis sambil menyandarkan tubuh ke kursi. "Lagi sibuk banget sama project yang udah masuk tahap final, makanya belakangan sering lembur. Kalau ada waktu luang mending dipake tidur."
"Lo juga jarang banget bales di grup chat."
Pansa memutar bola mata malas. "Grup chat yang isinya kalian baru ditinggal bentar isinya udah ratusan. Jadi males duluan gue bukanya."
Rando terkekeh. "Mia sama Vi tuh cerewet banget di grup. Padahal kalau mau ngobrol berdua kan personal aja bisa." Senyum jahil kemudian muncul di wajah Rando. "Atau mungkin lo lebih betah karena warga kantor baru lo cantik-cantik ya?"
Mia mencibir, melempar pandangan penuh ejekan ke arah Rando. "Mas, lo pikir mbak Pansa kayak lo. Lo ngomong gitu karena lo yang punya gebetan di sana, kan? Lagian mbak Pansa mana mau ngelirik yang lain kalau dia udah punya Evelyn yang levelnya bidadari. Ya kan, mbak?"
