Suasana kantor di pagi hari seperti biasa, selalu sibuk. Dering telepon bersahut-sahutan dan langkah-langkah tergesa di koridor, terburu untuk meeting atau mengantar laporan mingguan. Bagi Pansa, hari itu terasa berbeda. Ia berdiri di depan pintu ruangan kaca itu, diam memandang gagang pintu seolah sedang mengumpulkan keberanian. Lamunannya buyar ketika Dira, sekretaris Pak Joshua, menghampirinya dengan senyum ramah.
"Mbak Pansa ada janji sama Pak Josh? Masuk aja, ada di dalem kok," kata Dira sambil melirik jam di tangannya, memastikan meeting pertama Pak Joshua hari ini masih lama.
Pansa tersenyum kecil, mengangguk lalu mengetuk pintu sebelum masuk setelah mendengar suara Pak Joshua dari dalam.
Di balik meja kerjanya, Pak Joshua menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Begitu melihat Pansa masuk, ia mengembuskan napas berat, seperti sudah menduga hari ini akan tiba. Pansa melangkah mendekat, menyodorkan sebuah amplop putih ke meja.
"Makasih untuk enam tahun yang begitu berharga, Pak," katanya dengan nada serius, tanpa ada senyum jahil yang biasanya mereka lemparkan satu sama lain.
Pak Joshua menatap amplop itu lama, lalu mendongak menatap Pansa. "Saya bahkan nggak tau mau ngomong apa. Walaupun saya tahan, kamu juga pasti akan tetap pergi dari sini," katanya akhirnya, suaranya sarat dengan nada kecewa. "Terima kasih juga untuk pengabdian kamu di sini."
Pansa mengangguk pelan, lalu bangkit dari kursinya. Ia mengulurkan tangan, dan untuk sesaat, Pak Joshua terlihat ragu, jelas sedih dengan keputusan ini. Tapi akhirnya ia meraih uluran tangan itu dengan erat.
"Saya pamit, Pak," kata Pansa, suaranya terdengar tenang meski dadanya terasa berat. Ia kemudian berbalik dan melangkah ke pintu.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu, Pak Joshua memanggilnya. Pansa berhenti, menoleh ke arah atasannya.
"Maaf karena nggak ngasih tahu soal ini sebelumnya. Hal itu di luar kuasa saya. Tapi satu hal yang harus kamu tau, segala pencapaian kamu di sini, nggak ada hubungannya dengan Bu Giselle. Sejak awal saya nerima kamu murni karena kemampuan kamu, dan saya nggak pernah salah soal itu. Kamu memang selalu bisa diandalkan, Pansa."
Mata Pansa berkaca-kaca mendengar kata-kata itu, tapi ia menahan dirinya agar tak menunjukkan terlalu banyak emosi. Dengan anggukan kecil, ia membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan ruangan yang selama bertahun-tahun menjadi saksi bisu perjuangannya.
***
Setelah meninggalkan kantor, Pansa langsung menuju kafe milik View, tempat Prim memintanya bertemu. Wanita itu tiba-tiba menelponnya pagi-pagi sekali, meminta untuk bertemu dengannya.
View yang melihat Pansa baru saja datang segera menghampiri. "Gue minta Prim nunggu lo di ruangan gue aja, biar kalian lebih nyaman ngobrolnya," katanya sambil menepuk bahu Pansa dengan penuh pengertian.
Pansa mengangguk dan berjalan menuju ruangan pribadi View di bagian belakang. Ia mengetuk pintu perlahan, lalu masuk.
Prim sudah duduk di sofa, terlihat gelisah. Ia mengangkat wajah saat Pansa masuk. "Hei," sapa Pansa, suaranya lembut, mencoba mencairkan suasana. Prim hanya tersenyum kecil sebagai balasan.
"Ada yang perlu lo omongin?" tanya Pansa begitu ia sudah duduk di samping Prim.
Prim diam sejenak, seolah mencari kata yang tepat untuk memulai pembicaraan. "Lo pasti udah denger soal pertunangan Love, kan?" katanya akhirnya.
Meski Pansa sudah tau, mendengar kalimat itu keluar dari mulut Prim membuat dadanya kembali sesak. Seperti ada pisau yang menusuk luka yang masih menganga. Ia hanya mengangguk pelan.
