16

1.8K 247 49
                                        

Pansa tenggelam dalam tumpukan dokumen yang harus ia selesaikan sebelum akhir minggu. Matanya fokus pada catatan yang penuh coretan, sementara jarinya sibuk menandai bagian-bagian penting. Tapi konsentrasinya buyar ketika suara bel apartemennya tiba-tiba berbunyi.

Ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke pintu. Ia temukan Evelyn berdiri di sana, tersenyum lembut. Tanpa menunggu, Evelyn segera memeluk Pansa erat, mendaratkan kecupan singkat di bibirnya sebelum melangkah masuk.

"Hey," sapa Evelyn, santai seolah tak ada yang aneh dengan kedatangannya.

Pansa sedikit terkejut, beberapa hari terakhir, Evelyn sulit dihubungi. Biasanya, sesibuk apa pun wanita itu, ia selalu menyempatkan diri untuk memberi kabar, bahkan melalui Marcel, asistennya, jika ia benar-benar tak sempat.

Evelyn melepas cardigannya, melirik coffee table yang penuh dengan dokumen. Ia duduk di sofa, menyilangkan kakinya sambil mengamati lembaran-lembaran yang berserakan.

"Kamu lagi sibuk banget, ya," kata Evelyn.

"Nggak juga sih," jawab Pansa sambil menutup dokumen yang sedang ia periksa. "Aku baru bikin kopi tadi. Kamu mau nggak?" tawarnya sambil melangkah ke dapur di sudut ruangan.

Evelyn tak langsung menjawab. Ia hanya mengikuti langkah Pansa dengan pandangan mata, memperhatikan setiap gerakan kecilnya.

Pansa berhenti sejenak di depan mesin kopi, menoleh ke arah Evelyn. "Kamu kenapa? Tiba-tiba dateng nggak ngabarin dulu."

Evelyn tersenyum kecil, lalu menyandarkan punggungnya ke sofa. "Aku kangen aja," jawabnya singkat, tapi tatapan matanya berbicara lebih dari itu.

Pansa mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan rasa lega yang ia rasakan. "Sibuk banget ya beberapa hari ini? Aku sampe mikir kamu lupa sama aku," candanya sambil menuangkan kopi ke cangkir.

Evelyn tertawa kecil, tapi suaranya terasa sedikit datar. "Nggak mungkin aku lupa," katanya. Matanya kemudian kembali tertuju pada Pansa, memperhatikan bagaimana wanita itu memasukkan setengah sendok teh gula ke dalam kopi miliknya, lalu membawanya ke sofa.

"Thanks," kata Evelyn saat Pansa menyerahkan satu cangkir. Ia memegang cangkir itu, tapi tidak segera meminumnya. Sebaliknya, ia hanya memutar cangkir di tangannya, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

"Kamu baik-baik aja, kan?" Tanya Pansa lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius. "Biasanya kamu selalu ngabarin, bahkan kalau lagi sibuk banget."

Evelyn menghela napas panjang. "Aku baik-baik aja," katanya, lalu menatap Pansa dengan senyum yang dipaksakan. "Mungkin cuma... butuh isrirahat aja, banyak hal aja yang lagi aku pikirin."

Pansa mengangkat alis. "Hal apa? Pekerjaan?" tanyanya hati-hati.

Evelyn tak langsung menjawab. Sebaliknya, ia menyandarkan kepalanya ke bahu Pansa, memejamkan matanya sejenak. "Aku cuma mau ada di sini sama kamu."

Pansa menatap Evelyn dengan sedikit bingung, tapi ia tidak memaksa. Ia mencoba memahami apa pun yang sedang dipendam Evelyn. Terakhir kali Evelyn bersikap seperti ini, saat ia bertengkar hebat dengan sang Kakek yang memaksanya untuk berhenti dari dunia model dan memintanya untuk bergabung di perusahaan keluarga.

Suasana apartemen menjadi hening, hanya terdengar suara napas mereka yang tenang, bercampur dengan aroma kopi yang memenuhi ruangan.

Evelyn tiba-tiba bangkit dari sofa, berjalan ke arah rak sepatu di dekat pintu. "Heels kamu baru, ya?" tanyanya sambil meraih sepasang heels hitam itu. Ia memeriksanya dengan seksama.

Pansa menoleh dari cangkir kopi yang hendak ia minum, urung menyentuh bibir cangkir. Sesaat napasnya tertahan. Itu adalah heels pemberian Love. "Iya," jawabnya singkat, coba menormalkan nada suaranya.

Gravity 2.0 (Sequel)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang