"Pak Josh mana?" tanya Pansa pada Mia, sambil memandangi layar ponselnya yang menampilkan catatan to-do list hari ini. Ia berniat membahas beberapa hal penting sebelum cuti panjangnya dimulai minggu depan.
"Masih di ruang rapat. Hari ini kan ada rapat sama dewan direksi," jawab Mia, sambil memainkan pena di tangannya. "Nggak sabar banget lo ninggalin kantor, Mbak. Gue jadi kesel lagi kalau inget lo mau cuti panjang," lanjutnya dengan nada sebal.
Pansa tertawa kecil, lalu menarik bahu Mia dan merangkulnya sambil berjalan menuju lift. "Kalau kangen, kan tinggal telepon aja. Lagian, masih ada Vi sama Rando. Lo bisa gangguin mereka berdua," kata Pansa sambil tersenyum jahil.
Mia berdecak kesal. "Yang ada gue yang digangguin sama mereka berdua. Emang lo tega, Mbak, ninggalin gue sendirian di sini?"
Pansa baru saja melangkah masuk ke dalam lift ketika Mia tiba-tiba menarik tangannya. Ia akan bertanya mengapa Mia menariknya ketika pandangannya jatuh pada arah yang ditunjukkan Mia. "Tuh Pak Josh. Gue turun duluan ya kalau gitu," kata Mia sebelum masuk ke dalam lift, meninggalkan Pansa yang kini terpaku di tempatnya.
Di antara rombongan yang berjalan bersama Pak Joshua, ada seorang yang membuat napas Pansa tertahan—ibu kandungnya. Wanita itu, dengan langkah penuh percaya diri, berpisah dari rombongan bersama Pak Joshua. Perlahan tapi pasti, mereka berdua berjalan menuju ke arah Pansa. Rasa bingung dan cemas bercampur aduk dalam benaknya. Apa yang dilakukan ibunya di sini? Mengapa bersama Pak Joshua dan jajaran direksi lain? Pikiran-pikiran itu berputar cepat, tapi tubuhnya tak mampu bergerak. Ia hanya berdiri mematung, menanti mereka mendekat.
Saat akhirnya mereka berhenti di depannya, Pansa masih belum mampu menguasai diri. "Kamu di sini," kata sang ibu, tersenyum lembut padanya, senyuman yang dulu terasa menenangkan, tapi kini justru membuat Pansa merasa semakin tak nyaman. Ada nada samar yang membuatnya sulit untuk menebak apa yang sebenarnya direncanakan oleh wanita ini.
"Bunda baru aja selesai ngomongin kamu sama Pak Josh," lanjutnya, seolah ini adalah hal yang biasa. "Kata Pak Josh, project kamu baru aja selesai ya." Ia beralih menatap Pak Joshua dengan dengan senyum. "Makasih banyak ya Pak Josh, selama ini udah jagain dan bimbing Pansa selama kerja di sini. Rasanya nggak salah saya minta Bapak jadi mentornya Pansa."
Kata-kata itu bergema di kepala Pansa, menimbulkan rasa tak percaya yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih besar—amarah. Ia beralih menatap Pak Joshua dengan sorot mata yang penuh pertanyaan, hampir seperti memohon penjelasan. Laki-laki itu tampak ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi menahan diri. Tatapannya sedikit bersalah, namun juga seolah meminta Pansa untuk tetap tenang.
"Kamu ada urusan sama Pak Josh, sayang?" tanya ibunya, mengalihkan perhatian Pansa kembali. Suaranya terdengar tenang, seolah tak menyadari kekacauan yang terjadi di dalam hati putrinya.
Pansa masih diam. Dadanya terasa berat, penuh dengan emosi yang sulit ia kendalikan. Bingung, marah, dan kecewa bercampur menjadi satu, membuatnya hampir kehilangan kata-kata. Ia ingin menuntut penjelasan di tempat, ingin meluapkan semua yang ia rasakan, tetapi lingkungan formal kantor menahan dirinya.
"Kamu bisa diskusi nanti aja kalau nggak terlalu mendesak. Bunda mau ajak kamu ke suatu tempat dulu," lanjut ibunya, dengan nada yang mengindikasikan bahwa ini bukan tawaran, melainkan keputusan yang sudah dibuat.
Pansa menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Namun gemuruh di dadanya tak mereda. Dengan langkah berat, ia mengikuti ibunya, sementara pikirannya terus berusaha mencari jawaban atas apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Karena rasa ingin taunya mengenai banyak hal, Pansa terpaksa mengikuti sang ibu keluar dari kantor. Dalam perjalanan di mobil, Pansa duduk diam, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan tatapan kosong. Sang ibu sesekali berbicara, menanyakan kabar atau mengomentari hal-hal kecil tentang pekerjaannya, tetapi Pansa tak menimpali. Menekankan bahwa hubungan mereka tak pernah dekat, dan ia tak ingin mendengar basa-basi dari wanita itu.
