Pulau ini, dengan pantainya yang berpasir putih dan airnya yang jernih, terlihat seperti lukisan yang hidup. Ombak yang tenang, air yang jernih, juga pasir yang begitu bersih. Di kejauhan, deretan pohon kelapa melambai pelan diterpa angin, seolah menyambut pagi yang damai. Turis mulai berlalu-lalang, beberapa bersiap menikmati sarapan di teras hotel, yang lain berjalan-jalan di pinggir pantai atau berlari pagi dengan langkah santai.
Speedboat yang ditumpangi Pansa baru saja menepi. Air laut membasahi pinggir celana pendeknya ketika ia melangkah turun, rambutnya yang basah mulai setengah kering. Pansa berterima kasih kepada nakhoda speedboat, pria paruh baya dengan kulit kecokelatan akibat terbakar matahari, yang kini menjadi teman akrabnya selama beberapa bulan terakhir. "Makasih ya mas Kei," katanya dengan senyum kecil.
"Sama-sama Mbak. Besok diving lagi nggak? Kita coba spot baru," tawar Kei.
Pansa mengacungkan jempol tanda setuju, lalu menjauh dari speedboat, membawa fins dan masker miliknya.
"Pansa, tungguin!"
Suara itu terdengar dari belakang. Pansa tersenyum tipis, tapi sengaja tak menoleh. Ia malah mempercepat langkah menuju jalur setapak yang mengarah ke hotel.
"Nyebelin banget lo pura-pura nggak denger." Suara itu semakin dekat, dan tak lama kemudian Marco muncul di sampingnya, terengah-engah sambil membawa snorkel dan fins yang masih basah. "Lo sengaja, ya?"
Pansa tertawa kecil, akhirnya menoleh. "Lo terlalu lambat. Nggak biasa lari pagi ya?"
Marco mendengus, mengusap keringat di dahinya. "Abis renang, wajar aja capek." Ia mendahului Pansa, memutar tubuh dan berjalan mundur. "Tapi serius deh, gue masih nggak habis pikir kenapa lo bisa bertahan di tempat ini selama tujuh bulan. Lo nggak bosen?"
Pansa mengangkat bahu, memandang garis pantai yang tenang. "Nggak ada yang perlu dibosenin di sini. Lautnya tenang, orang-orangnya ramah, suasananya jauh dari hiruk pikuk kota. Apa lagi yang gue butuhin?"
Marco menatapnya lama, lalu tertawa kecil. "Kita emang jarang saling kontak sih selama ini, tapi dari cerita Vi, kayaknya lo orangnya sibuk banget dengan kerjaan."
Pansa tersenyum tipis, tapi tidak memberi tanggapan. Ia melangkah menuju jalan setapak yang dikelilingi semak belukar kecil dengan bunga-bunga liar berwarna ungu. Pulau ini, tempat Pansa mengasingkan diri, adalah segala yang ia butuhkan untuk melarikan diri dari kenyataan. Setiap pagi ia menyusuri pantai, berlayar dengan speedboat untuk free diving, atau hanya duduk di kafe menikmati suasana, seperti turis lainnya. Kadang-kadang ia hanya diam di tepi pantai, mendengarkan suara ombak.
Marco kini berjalan di sampingnya, wajahnya masih menyiratkan rasa ingin tau "Kenapa lo milih tempat ini? Dari semua tempat yang bisa lo datengin, kenapa pulau kecil yang jauh dari mana-mana?"
Pansa berhenti sejenak, menatap Marco. "Karena di sini, gue merasa kecil," jawabnya pelan. "Gue butuh tempat yang bikin gue sadar bahwa dunia ini luas, bahwa mungkin masalah gue nggak sebesar yang gue pikir."
Marco terdiam, mencoba mencerna jawaban itu. Ia meletakkan snorkelnya di atas kepala, lalu melirik Pansa. "Wah kacau, ternyata patah hati bisa bikin lo jadi filosofis gini ya. Tapi gue paham maksud lo."
Mereka berjalan lagi, melewati sebuah pondok kecil tempat seorang penjual kelapa muda sedang sibuk melayani pelanggan.
"Sebenernya malah gue yang nggak nyangka lo bakal dateng ke sini," kata Pansa akhirnya, memecah keheningan. "Lo orang terakhir yang gue harapkan muncul di tempat ini."
Satu bulan lalu, saat Pansa sedang duduk santai di salah satu kafe menikmati sore, tenggelam dalam buku yang ia baca, seseorang tiba-tiba saja duduk di kursi depannya. Dengan senyum yang begitu lebar, koper besar di sebelahnya—mengindikasikan bahwa ia akan tinggal lama di sini, Marco kemudian menyapa Pansa. Dan begitulah, hampir setiap hari mereka habiskan bersama.
