Hujan masih turun dengan deras, sepanjang hari mengguyur tanpa henti. Seolah awan tak membiarkan matahari menampakkan diri, bahkan semenit saja. Meja makan penuh dengan kotak makanan dan minuman, dibiarkan begitu saja tanpa dibereskan.
Pansa, Rando, dan View tiduran di atas karpet apartemen Pansa, ketiganya sibuk mengelus perut yang kekenyangan setelah makan terlalu banyak. Memesan terlalu banyak makanan karena ucapan "traktir" dari Pansa begitu menggiurkan. Tawa mereka yang sebelumnya riuh kini mulai mereda menjadi keheningan nyaman.
"Kayaknya gue emang diciptakan untuk nggak memiliki atau dimiliki siapa-siapa," celetuk Pansa tiba-tiba, matanya menatap kosong ke langit-langit apartemen. Suaranya terdengar ringan, tapi ada getir yang tak bisa disembunyikan.
View dan Rando otomatis menoleh ke arahnya. Mereka saling bertukar pandang sebelum View menghela napas pendek.
"Gue juga baru ditolak Gaby." Rando mendadak angkat bicara
Pansa dan View kini menoleh serempak ke arahnya. Untuk beberapa detik, ruangan itu terasa sunyi. Fakta bahwa Rando, si pria yang selalu percaya diri dan nyaris tak pernah gagal mendekati perempuan, ditolak oleh Gaby adalah hal yang sulit dipercaya. Pansa bahkan sempat mengira hubungan mereka sudah cukup jauh.
"Patah hati perdana lo ya berarti," celetuk View, mencoba meredakan suasana dengan sedikit humor. Rando hanya mengangguk kecil, ekspresinya lebih serius dari biasanya.
Pansa mendengus, mencoba menyembunyikan senyuman simpati. "Kayaknya kita bertiga emang ditakdirin buat jomblo deh," katanya, mencoba menghidupkan kembali suasana santai.
View, yang tadinya terlihat santai, tiba-tiba berdeham keras. "Sorry, tapi sekarang itu cuma berlaku buat kalian berdua aja," katanya, menambahkan efek dramatis pada ucapannya.
Pansa dan Rando saling menatap bingung. "Maksud lo?" tanya Rando akhirnya, memecah keheningan.
Dengan santai, View mengambil ponselnya dari saku dan menunjukkan wallpaper ponselnya. Di sana terpampang foto dirinya bersama Mia. Keduanya tampak bahagia, dan Mia mencium pipi View dengan senyum lebar. Rando dan Pansa membeku sesaat sebelum seruan kaget keluar bersamaan.
"Apa?!" Pansa nyaris bangkit dari posisi tidurnya, sementara Rando melongo seolah tak percaya. "Lo sama Mia?!" serunya.
View terkekeh kecil, ekspresi puas terpampang jelas di wajahnya. "Surprise," katanya ringan. "Gue sama Mia udah lama deket, cuma kita nggak pengin orang-orang tau dulu."
"Tunggu-tunggu," Rando mengangkat tangan, mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar. "Lo sama Mia? Mia yang sering kita becandain dan selalu lo ejekin tiap ketemu?"
View mengangguk, senyumnya semakin lebar. "Itu namanya love-hate relationship. Kalau nggak ada benci, mana ada cinta."
Pansa menggeleng pelan, masih berusaha memahami situasi ini. "Gue pikir lo sama Mia kayak Tom and Jerry. Nggak pernah kebayang bakal ada hubungan romantis di antara kalian."
View mengangkat bahu. "Hidup memang penuh kejutan."
Rando menatap wallpaper itu sekali lagi sebelum mengembalikan ponsel View. "Gila lo," katanya akhirnya, suaranya terdengar campuran antara kagum dan tak percaya. "Gue nggak tau apa yang lebih mengejutkan, fakta bahwa lo berhasil pacaran sama Mia, atau fakta bahwa lo bisa nyembunyiin ini dari kita."
View hanya tertawa kecil, sementara Pansa menghempaskan tubuhnya kembali ke karpet. Sekarang ia ingat pernah tak sengaja mendapati mobil View di rumah Mia saat ia mengambil dokumen. Ia juga ingat View pernah membeli dress dengan ukuran yang jauh lebih kecil dari ukuran tubuhnya, dan kini ia tau itu adalah untuk Mia.
