71

2.8K 353 16
                                        

Typo🙏
Happy Reading...!!!









Gita menelungkupkan wajahnya di bantal agar tangisnya tidak di dengar oleh Chika yang saat ini tidur di sampingnya. Rasa sakit bertahun-tahun lalu kini harus ia rasakan kembali. Kehilangan seorang kakak perempuan yang sangat ia sayangi. Bahkan Gita tidak bisa mengantarkan Shani untuk yang terakhir kalinya karena harus menjaga Chika.

Gita bangun dari tidurnya, sejenak membuka balkon kamarnya. Membiarkan dadanya yang sesak itu mendapat udara segar, walaupun diluar hujan. Gita duduk termenung di kursi santai, menatap lurus ke depan. Mengingat semua hal tentang Shani. Kelembutan dan kebaikannya sungguh sangat Gita rindukan saat ini.

"Jadi ini maksudnya kak? Kakak nyuruh aku sama Jinan baikan dan jaga Chika sama-sama. Kalo ini yang bakal terjadi aku lebih baik musuhan selamanya sama Jinan kak. Supaya kakak bisa sama kita terus disini, supaya Chika punya mama..."tangis Gita sambil menutup wajahnya. "Maaf kalo aku sama Jinan suka bikin kakak pusing, maaf aku gak nemuin kakak dulu sebelum pergi. Kak, Kakak tenang ya disana, aku pasti jagain Chika. Makasih... Untuk semua kebaikan dan kebahagiaan yang kakak kasih ke keluarga ini."

Lamunan Gita terhenti saat melihat mobil Veranda yang memasuki pekarangan rumah. Dengan cepat Gita turun untuk menemuinya.

"Miii...."lirih Gita yang terisak memeluk Veranda dengan tubuh yang basah kuyup karena kehujanan.

"Suuttsss... Udah dek, kamu jangan gini. Kita doakan supaya Shani tenang ya."

"Bang Cio mana?"

"Abang kamu masih disana. Dia butuh waktu untuk ini semua."

"Bang Cio, Chika gimana mii???Mereka pasti gak akan bisa nerima ini semua... Apa yang harus kita lakukan?"ucap Gita sambil menangis.

Veranda merenggangkan pelukannya, lalu menangkup wajah Gita. "Kita hadapi sama-sama ya. Meskipun mami gak tau kedepannya kaya gimana. Tapi kalo kita sama-sama kita pasti bisa. Kamu mau kan temenin mami?"tanya Ve, Gita mengangguk samar dengan tatapan sendu.

Ve sekilas mengusap lembut pipi Gita. "Mami ke atas dulu."

Gita kembali menangis setelah kepergian Ve, dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia masih belum bisa menerima ini semua. Apalagi Cio. Gita tidak bisa membayangkan sehancur apa Abangnya itu saat ini.

Drrrttt... drrrttt suara getaran ponsel di kantung celananya, menghentikan tangis Gita. "Jinan."gumamnya.

"Halo Nan?"

"Git, gue mau kita ketemu."

"Ketemu?"

"Iya, di Cafe Orchid."

"Gue lagi gak mau kemana-mana Nan. Sorry gue..."

"Penting Git, ada yang mau gue omongin sama lu."

"Ya udah gue kesana sekarang."

Gita pun kembali ke kamarnya. Disana Chika masih tidur dengan nyenyak. Airmatanya kembali jatuh. Akankah ini semua berakhir dengan bahagia atau sebaliknya. Anak sekecil Chika harus dihadapkan dengan segala tempaan dalam hidupnya. Lukanya baru saja sembuh, tapi jika Chika tau Shani pergi mungkin luka itu akan kembali menganga bahkan semakin besar dari yang sebelumnya. Karena Chika begitu sangat menyayangi Shani.

Selesai berganti pakaian, Gita memutuskan untuk pergi ke kamar Veranda meminta ijin untuk pergi. Dan Veranda pun mengijinkannya.


***

Kini Jinan dan Gita sudah berada di Cafe. Keduanya masih larut dalam suasana duka. Jinan mencoba menenangkan Gita yang sedari tadi terus menangis. Bukankah seharusnya Jinan yang lebih sedih karena Shani adalah Kakak kandungnya, tapi sebaliknya Gita sungguh sangat terpukul. Mungkin karena ini kehilangan untuk yang ketiga kalinya dalam hidup Gita.

Bersama [Greshan]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang