99

2.3K 303 48
                                        

Typo🙏
Happy Reading...!!!









Kedua wanita dewasa itu sedang cemas, memikirkan apa yang terjadi dikamar tersebut. Apakah sesuai dengan harapan mereka berdua atau malah sebaliknya. Jinan, ia terus mondar mandir kesana-kemari sambil menggigit ujung jari telunjuknya. Ia sama sekali tidak bisa duduk tenang seperti sang mama. Ia terus memikirkan keadaan kakaknya didalam sana.

Imel yang melihat anak bungsunya itu gelisah berusaha untuk menenangkannya. "Dek, duduk." titahnya.

Jinan menatap cemas Imel, "Kakak gimana ya mam? Apa kak Cio mau nerima alasan kakak? Ck, ini diluar rencana aku mam. Bukan ini yang aku mau!" ujar Jinan sambil menjatuhkan tubuhnya ke sofa.

"Tenanglah... Semua pasti akan baik-baik aja. Ini rencana Tuhan, kamu tau itu. Tuhan mau mereka bertemu lebih cepat dari apa yang kamu rencanakan. Harusnya kamu seneng dong."

"Ko mama santai-santai aja si? Mama ga mikirin perasaan kakak kaya gimana? Kakak pasti belum siap buat ketemu sama kak Cio sekarang."

"Cio adalah laki-laki yang tepat buat kakak kamu. Meskipun kakak kamu melakukan kesalahan yang fatal, pasti dia akan memaafkannya. Terlebih Cio dan kakak kamu itu saling mencintai. Mama yakin cinta mereka lebih besar dari kesalahan yang kakak kamu buat. Ya meskipun mama tau, apa yang udah kakak kamu lakukan itu tidak bisa dibenarkan sama sekali."

"Itu yang aku khawatirin mam, huuh...." ujar Jinan yang menyandarkan kepalanya ke sofa dan memejamkan matanya. Sementara Imel hanya mengusap punggung tangan Jinan, agar anaknya itu lebih tenang.

"Loh kalian belum tidur?" ujar Keenan yang baru saja datang.

Imel dengan sigap menyambut kedatangannya. "Pah," sapanya. Sambil meraih tas kerja suaminya.

Keenan pun kebingungan melihat Jinan yang sepertinya sangat kelelahan tidur di sofa. "Anak kamu kenapa mam?" tanyanya sambil melepaskan dasi.

Bukannya menjawab, Imel malah balik bertanya. "Papa mau teh anget? Biar mama buatin."

"Makasih mam. Tapi ga usah, papa masih kenyang." jawab Keenan yang langsung duduk disamping Jinan. Entah anaknya itu menyadari kehadirannya atau tidak. Karena sejak ia sampai, Jinan masih enggan membuka matanya. Keenan mengangkat dagunya samar menoleh pada Imel, seolah meminta jawaban atas pertanyaan tadi.

"Nanti papa juga tau sendiri." kata Imel sambil berlalu ke lantai atas.

Keenan pun semakin dibuat bingung. "Hei! Bangun dek! Tidur ko disini. Pindah ke kamar sana!" ujarnya sambil menepuk lengan Jinan.

"Diem pah!" balas Jinan dengan mata yang terpejam.

"Sana pindah ke kamar! Lagian kamu tumben banget nemenin mama buat nunggu papa pulang." kata Keenan sambil terkekeh.

Jinan pun seketika bangun. "Jinan lagi ga nungguin papa ya. Mohon digaris bawahi."

"Ya terus kamu ngapain disini? Kalo ga nungguin papa?" tanya Keenan penasaran.

Jinan kembali menyandarkan tubuhnya yang lemas. Seolah tidak mempunyai tenaga untuk menjelaskan apa yang terjadi pada sang papa.





***




Dikamar yang terbilang cukup temaram, karena hanya lampu tidur saja yang menyala. Gita terus mengusap punggung Chika yang berada dalam dekapannya. Sejak tadi keponakannya itu enggan untuk berbicara. Gita sudah berusaha untuk bertanya apa yang terjadi. Namun Chika masih saja diam.

Gita sebisa mungkin memberikan ruang untuk Chika bisa menetralkan suasana hatinya. Karena bisa Gita lihat sejak tadi kedatangan Chika, sepertinya ia sangat emosi. Ditambah mungkin ada hal lain yang terjadi saat keponakannya itu saat bersama dengan Cio.

Bersama [Greshan]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang