Typo 🙏
Happy Reading...!!!
"Gak usah kak, aku kan bawa mobil sendiri." tolak Gita. Sebelumnya Aldo menawarkan diri untuk mengantar mereka pulang karena khawatir, sudah cukup malam untuk dua orang wanita berada di jalanan.
"Aku khawatir sama kalian,"
"Gak papa kak, lagian ini masih jam 9. Jalanan juga masih rame."
"Om Aldo kenapa sih pengen banget nganterin kita pulang? Lagian om gak denger kalo onty gak mau om anterin." sambar Chika yang ada di samping Gita. Posisi mereka masih di parkiran.
"Apa sih anak kecil? Diem aja deh." gurau Aldo mengacak-acak rambut Chika lagi. Chika hanya cemberut, tidak membalas perlakuan Aldo. Dia malah masuk begitu saja ke dalam mobil. Meninggalkan dua orang dewasa itu.
"Kalo nggak gini aja deh, Git. Aku ikutin kamu dari belakang. Jujur aku gak tenang kalo biarin kalian pulang gitu aja." tutur Aldo khawatir. Gita yang merasa tidak enak jika terus menerus menolak tawaran Aldo.
"Emang gak papa kak?"
"Justru aku yang kenapa-kenapa kalo aku gak anterin kalian. Yang ada gak bisa tidur nanti." ujar Aldo terkekeh.
"Lebay deh..." balas Gita sambil memutar bola matanya. "Ya udah, kalo kakak gak keberatan. Dan aku gak ngerepotin kakak."
"Beneran? Aku sama sekali gak kerepotan ko. Aku malah seneng."
"Seneng? Maksud kakak?" tanya Gita heran.
Pria itu terlihat gugup, "Seneng bisa anterin kalian pulang." jawabnya.
Gita mengangguk samar. "Ya udah aku jalan duluan ya. Kamu hati-hati kak."
"Harusnya aku gak sih yang bilang gitu sama kamu?"
"Gitu ya?"
"Onty buruaann!" teriakan Chika menghentikan dialog mereka.
"Iya sebentar." jawab Gita.
"Gih,"
Gita pun sekilas tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya. Begitupun dengan Aldo, kebetulan tempat mereka parkir berdekatan.
***
Sementara itu di rumah, Ve masih berusaha menenangkan Cio. Kali ini putranya itu nampak sudah tenang tidak histeris seperti tadi. Namun yang membuat Ve bingung, sejak tadi Cio sama sekali tidak berbicara. Ia hanya diam seperti melamun, tatapannya begitu kosong. Seolah tidak menganggap keberadaan Ve yang saat ini sedang memeluknya.
"Sayang, anak mami. Gak papa kalo kamu masih sedih dan belum menerima semua yang terjadi. Yang harus kamu ingat mami akan selalu ada untuk kamu, Cio. Kamu bisa cerita apapun sama mami, nak. Kamu jangan terus memendam semuanya sendiri. Mami tau kamu sakit, kamu kecewa, kamu marah sama diri kamu sendiri atas apa yang terjadi sama Shani. Tapi haruskah kamu menyalahkan diri kamu sendiri? Haruskah kamu mengorbankan kami juga yang masih ada sama kamu sampai saat ini? Sementara kamu terus meratapi kepergian Shani. Jujur mami sakit liat kamu kaya gini, nak. Bukan cuman mami, adek kamu, terutama Chika. Kamu tau, bahkan sampai saat ini dia belum tau kebenaran tentang Shani. Sampai kapan kita harus menyembunyikan ini semua dari Chika? Mami udah gak sanggup, Cio. Anak itu sudah terlalu banyak menyimpan luka. Jangan kamu tambah lagi lukanya dengan sikap kamu yang dingin dan kasar sama dia." tutur Ve yang tak henti mengusap punggung Cio.
Cio tidak bergeming, ia semakin menikmati pelukan hangat itu. Tidak bisa dipungkiri, hangatnya pelukan sang mami mampu membuatnya sejenak melupakan rasa sakit itu. Betapa bodohnya selama bertahun-tahun ia lupa untuk pulang ke pangkuan maminya itu. Dan lebih memilih menciptakan kebahagiaan sendiri dalam angan-angan Shani yang selalu ia ciptakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama [Greshan]✓
عاطفيّةKehilangan seseorang akan selalu menjadi luka terdalam.
![Bersama [Greshan]✓](https://img.wattpad.com/cover/368261174-64-k978876.jpg)