Typo 🙏
Happy Reading...!!!
Jam pulang sekolah pun tiba. Para siswa pun berhamburan keluar kelas. Lain halnya dengan Chika dkk. Yang masih berada di dalamnya.
"Chris, lo dijemput bunda lo?" tanya Vivi. Christy menghampiri Vivi dengan menggendong tas ranselnya. Diikuti Marsha.
"Kayanya enggak deh."
"Mau bareng kita?" tanya Vivi lagi. Lalu menoleh ke arah Ara yang masih sibuk dengan tas dan buku-bukunya. "Gapapa kan Ra?"
"Gapapa, ayo bareng aja."
"Gue duluan guys." ujar Chika yang seketika berdiri. Mereka semua saling bertatapan bingung. Biasanya Chika akan pulang bersama mereka.
Ara yang merasa khawatir sekaligus penasaran, "Kemana Chik?"
"Ke tempat dimana gue bisa dateng kapanpun gue mau."
"Kita temenin Chik." ujar Vivi menawarkan diri.
"Tangan lo masih sakit Chik. Nanti kalo kenapa-kenapa gimana?" kata Ara.
"Iya bener tuh Chik, jangan pergi sendiri." timpal Christy.
"Gue gapapa guys, tenang aja. Lagian ini ga sakit ko." balas Chika sambil mengusap lengannya yang masih terbungkus perban.
"Lo yakin?"
Chika menyentuh bahu Ara yang masih duduk disampingnya.
"Gue gapapa Ra..." diiringi satu garis senyum yang menghiasi wajahnya. Senyum yang menyimpan banyak luka didalamnya.
Ara menatapnya sendu, mencoba menyelami hati Chika lewat sorot matanya. "Kalo ada apa-apa telpon gue, atau yang lainnya." ujar Ara. Sekilas mengusap lembut tangan Chika yang masih ada di bahunya.
"Pasti."
"Chika mau kemana Chris?" bisik Marsha pada Christy.
"Nanti aku ceritain, Sha." balas Christy. Gadis berkulit putih itu hanya mengangguk berusaha memahami ucapan Christy.
"Makasih lo pada udah mau nemenin gue, tapi kali ini gue mau sendiri dulu."
Ara masih melihat banyak sekali kegelisahan dalam diri Chika. Ingin sekali membawa atau sekadar menghilangkan sedikit rasa itu dari Chika. Tapi apa yang akan dilakukan oleh anak umur 13 tahun dengan semua permasalahan yang Chika alami? Apalagi itu masalah orang lain. Dia hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuk Chika tanpa berbuat apapun.
"Gue duluan." kata Chika lagi.
"Bareng aja ke depannya Chik."
"Bener apa Christy, kita sama-sama ke depannya." sahut Vivi.
"Ya udah ayo."
***
Gita nampak berbeda dari hari sebelumnya. Sejak sampai di kantor senyum tak henti ia berikan pada setiap orang yang menyapa atau berpapasan dengannya. Suatu hal yang sangat jarang terjadi. Biasanya Gita akan memasang wajah dinginkan pada semua orang tanpa senyuman di wajah cantiknya itu. Matanya yang indah, seolah tertutup oleh duka dan luka.
Dey bukannya tidak senang dengan perubahan sahabatnya itu. Namun agak sedikit aneh saja, Gita yang dingin bisa se-ramah itu pada semua orang. Sahabatnya itu sempat kena omelan dari atasan mereka. Biasanya Gita akan menekuk wajahnya seharian, tapi Gita bisa dengan santai menghadapinya. Hari ini entah apa yang membuat Gita sangat terlihat bahagia. Itulah pertanyaan yang ada didalam benak Dey.
Jam istirahat mereka gunakan untuk makan siang bersama. Disebuah cafe. Dey yang sudah lebih dulu menikmati makanannya dibuat kesal karena Gita sama sekali tidak menyentuh makanannya. Sahabatnya itu hanya sibuk dengan gadget di tangannya. Bahkan sesekali Gita tersenyum, entah apa yang sedang ia lakukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama [Greshan]✓
RomansaKehilangan seseorang akan selalu menjadi luka terdalam.
![Bersama [Greshan]✓](https://img.wattpad.com/cover/368261174-64-k978876.jpg)