92

2.2K 287 24
                                        

Typo🙏
Happy Reading...!!!













Didalam mobil hanya menyisakan kakak beradik itu saja. Cio yang terus fokus mengemudi sedangkan Gita sibuk dengan ponselnya. Cio melirik adiknya itu yang sesekali melempar senyum saat menatap layar ponselnya. Entah apa yang sedang Gita lihat disana. Rasa penasaran dan pertanyaan pun timbul dalam benaknya.

"Dek," seru Cio.

Gita masih fokus pada ponselnya tanpa melihat Cio, "Iya bang." jawabnya.

"Kamu kenapa? Ko senyum-senyum kaya gitu?" tanya Cio penasaran. Matanya sedikit menyipit, curiga.

Gita dengan cepat menoleh. "Senyum?"

Balas Cio dengan anggukan.

"Aku ga senyum ko. Abang salah liat kali." sangkal Gita. Ia dengan cepat menaruh ponselnya ke dalam tas. Dan kembali menatap jalanan.

"Kamu lagi jatuh cinta?" tanya Cio spontan.

Lagi-lagi Gita dibuat shock, matanya sedikit membulat pada Cio. "Ha? Jatuh cinta? Si-siapa yang jatuh cinta sih." Gita terus menyangkalnya.

"Aku abangmu, aku tau gimana kamu dek. Kamu ga bisa sembunyikan apapun dariku. Kalo memang bener kamu lagi jatuh cinta, utarakan perasaan kamu. Sebelum semuanya hilang dan terlambat." kata Cio lirih. Dada bidangnya sedikit terangkat menghela napas berat.

Gita menatap sendu Cio. Ia tau apa yang di maksud abangnya itu. "Aku ga tau bang." jawabnya. Dan memang itulah yang sedang Gita rasakan saat ini. Bimbang.

Setelah jawaban Gita, tercipta sejenak keheningan diantara mereka. Cio tau betul apa yang sedang adiknya itu rasakan namun sulit untuk ia ungkapkan.

"Cinta itu akan datang seiring berjalannya waktu. Bukan tentang seberapa sering kalian ketemu. Bukan tentang seberapa banyak barang atau hal yang diberikan. Cinta itu tentang pembuktian, bukan hanya sekedar kata-kata manis yang terucap. Cinta itu tentang bagaimana kalian bisa merasa dicintai meskipun kata cinta itu tidak pernah terucap. Cinta itu tentang bagaimana kalian memahami satu sama lain, tanpa menuntut apapun. Menjadi apa adanya kamu, tanpa harus berpura-pura."

"Satu lagi, cinta itu tentang menerima. Menerima apapun baik buruknya pasangan kita. Terutama buruknya. Itu hal yang paling sulit kita terima kan?"

Anggukan Gita mengiyakan ucapan Cio.

"Jadi apapun itu, kalian harus bisa melewatinya. Dengan cinta yang kalian punya, sehebat apapun ujian dalam hubungan kalian ga akan buat kalian goyah." imbuh Cio. Mengingat betapa besarnya ujian dari kisah cintanya dulu yang selalu kandas, dan terpisah oleh maut. Berharap itu semua berlalu pergi darinya, namun sakit itu menetap lebih lama didalam hatinya.

Gita mendengarkan dengan seksama apa yang Cio bicarakan. Ini kali pertamanya Cio menasehatinya lagi. Dulu mungkin Cio selalu mewanti-wantinya tentang sekolah, tapi sekarang soal percintaannya. Sungguh waktu sangat berjalan begitu cepat.

Saat ini Gita kembali melihat sosok sang papi dalam diri Cio yang sudah lama menghilang. Ada rasa senang sekaligus haru yang Gita rasakan. Ia hanya tersenyum samar, menatap sendu Cio.

Rasa iba itu selalu menyelimuti hati Gita. Bagaimana tidak, sampai sekarang abangnya itu belum bisa move on sama sekali dari kejadian itu bahkan setelah bertahun-tahun. Jangankan Cio, sejujurnya dia saja masih belum bisa melupakan Shani begitu saja.

Cio yang menyadari akan hal itu pun, balik menatap Gita sekilas. "Kenapa?"

Gita menggelengkan kepalanya.

"Jadi siapa laki-laki yang udah bikin adikku ini senyum-senyum kaya tadi hm?" tanya Cio penasaran. Diiringi dengan tersenyum kecil.

Adiknya itu kini sudah benar-benar dewasa. Selain dari kehilangan waktu bersama Chika, Cio juga sangat banyak melewatkan waktunya dengan Gita. Tanpa sadar Gita sudah menjadi wanita dewasa yang cantik.

Bersama [Greshan]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang