Hari-hari yang sangat berat bagi Cio, dia harus bolak-balik ke rumah sakit menemani Shani yang masih tergeletak tak berdaya. Harapan dan do'a selalu ia lantunkan dalam hatinya. Dia terus merayu Tuhan dalam setiap sujudnya, agar mengembalikan Shani ke pelukannya lagi.
Selama beberapa hari itu juga Cio berusaha untuk menyenangkan hati Chika. Disela-sela waktunya terbagi untuk Shani. Sebisa mungkin dia berusaha agar Chika tidak menimbulkan pertanyaan dalam benak putrinya itu. Pagi hari ia akan pergi ke rumah sakit, dan sore harinya pulang untuk menemani Chika. Dan seiiring berjalannya waktu Chika sudah mulai terbiasa tanpa hadirnya Shani.
Chika disibukkan dengan berbagai hal, mulai dari les berenang, les piano dan juga kegiatan lainnya di sekolah. Tapi gadis kecil itu sama sekali tidak mengeluh, ia sangat senang bisa belajar lebih banyak lagi. Sesekali Chika juga bertanya soal Shani, disitulah Veranda dan juga Gita memerankan perannya dengan mengalihkan perhatian Chika. Meskipun sempat tantrum, tapi itu hanya sesaat. Mungkin Chika yang sekarang sudah lebih mengerti dan memahami keadaan disekitarnya. Lain halnya dulu saat Chika masih kecil.
Cio sudah membicarakan perihal niatnya untuk tetap menikahi Shani pada Imel, Keenan dan juga Veranda. Awalnya Imel dan Keenan menolak, terutama Keenan. Bukan tanpa alasan, mengingat kondisi Shani yang sama sekali belum ada perkembangan. Membuatnya sedikit ragu untuk menikahkan putrinya dengan Cio. Bagaimana kalau kemungkinan buruk itu benar-benar terjadi, Keenan tidak bisa menjamin kehidupan Shani selanjutnya.
Namun Cio berusaha untuk meyakinkan mereka semua kalau Shani akan baik-baik saja. Dan Cio menerima keadaan Shani apapun itu. Meskipun sekarang Shani tidak seperti dulu lagi. Dan vonis dokter beberapa hari yang lalu mengatakan kalaupun Shani sadar, sudah pasti dia akan mengalami kecacatan. Karena luka bakar itu sudah mengenai sebagian syarafnya. Tapi itu tidak menjadikan Cio mundur, dia semakin ingin selalu bersama dengan Shani. Apapun dan bagaimanapun, Shani adalah orang yang sama.
Esok adalah hari yang Cio nantikan. Hari dimana dia akan bersatu dengan Shani dalam sebuah ikatan pernikahan. Entah harus bahagia atau sedih. Takdir sungguh sangat membuatnya terombang-ambing dalam kehidupan.
Cio kini berada di kamar, tempat menyimpan semua hantaran untuk Shani. Seharusnya rumahnya itu hari ini ramai oleh banyak orang, untuk menyiapkan pernikahan mereka. Nyatanya, hanya sepi. Pernikahannya esok akan digelar secara sederhana. Tanpa ada tamu undangan, tanpa ada dekorasi apapun yang menggambarkan pesta pernikahan. Bahkan pernikahannya akan di gelar di rumah sakit, di ruang ICU tempat Shani di rawat.
Bukan, bukan ini yang dia inginkan. Dalam benaknya dulu, ini akan menjadi pernikahan yang sangat megah dan indah, dia selalu membayangkan bersanding di pelaminan bersama dengan Shani. Namun kenyataan pahit harus mengubur dalam-dalam angan Cio itu.
Cio berjalan menuju kotak perhiasan, dimana itu adalah benda yang akan menjadi pertanda sekaligus pengikat antara dirinya dan Shani. Sebuah cincin bertahtakan berlian berwarna putih, pasti akan sangat cocok di jari lentik milik Shani.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.