Typo 🙏
Happy Reading...!!!
Veranda dibuat panik karena hari sudah mulai sore, Chika tak kunjung pulang dari sekolah. Di tambah hujan deras yang belum berhenti sejak tadi. Veranda terus mencoba untuk menghubungi Chika, namun tidak ada jawaban. Bahkan ponselnya tidak aktif.
"Chika kamu dimana sih?" ujar Ve sambil memainkan ponselnya mencoba menghubungi kembali cucunya itu.
"Bu, non Chika belum pulang juga?" tanya seorang art.
"Belum bi, ga biasanya Chika pulang telat. Kalo pun telat di selalu ngabarin saya. Ini hpnya juga ga aktif. Hujannya deras lagi. Gimana saya ga khawatir."
"Ibu udah coba hubungi den Cio?"
"Astaga. Kenapa saya ga kepikiran." jawab Ve. Yang kemudian menghubungi Cio.
"Cio!!!"
"Kenapa mi? Ko mami kaya panik gitu?" tanya Cio di ujung panggilan.
"Chika belum pulang, ini udah sore. Di telpon ga aktif. Mana diluar hujan. Kamu tau dia dimana?"
"CHIKA BELUM PULANG???"
"Iya Cio, mami khawatir. Diluar hujannya deres banget."
"Dia ga ngabarin Cio juga mi. Astaga anak itu kemana? Nanti Cio coba tanya ke Gita. Siapa tau dia punya informasi dari temannya Chika."
"Ya sudah, nanti kabarin mami lagi."
"Iya mi,"
Ve pun mengakhiri panggilan tersebut. Menatap keluar jendela. Berharap Chika segera datang.
"Kamu dimana sih sayang? Jangan bikin oma khawatir. Semoga kamu baik-baik aja ya." ujar Ve lirih.
Tak bisa ia pungkiri dadanya terasa sesak saat ini. Membayangkan apabila suatu hal buruk terjadi pada Chika. Dengan cepat Ve menepis pikiran buruk itu dari kepalanya. Yang bisa ia lakukan saat ini adalah hanya berdo'a untuk keselamatan cucu kesayangannya itu.
***
Sementara itu disebuah cafe. Sesuai dengan apa yang sudah mereka bicarakan, Gita dan Aldo bertemu disana. Gita dan Aldo sudah sering pergi kesana, hanya untuk mengopi bersama dan membicarakan permasalahan keluarga Gita. Aldo sangatlah bisa berperan sebagai seorang kakak yang Gita mau. Menggantikan sosok Cio yang kemarin-kemarin tidak pernah hadir dalam hidup Gita.
Suasana di cafe tersebut sangat lain dari biasanya. Terlihat sunyi, hanya suara musik romantis saja yang menemani mereka. tidak ada seorang pun pengunjung disana. Membuat Gita merasa aneh. Aldo yang biasanya sang pencair suasana, kini ia hanya diam. Pertanyaan mulai muncul dari benak Gita, tentang perubahan sikap Aldo padanya.
Pria itu fokus pada makanan yang ada dihadapannya. Tanpa ingin memulai pembicaraan. Dirasa penasaran, Gita memberanikan diri untuk memulai.
"Makanannya enak ya kak." ujar Gita basa-basi.
Seketika Aldo pun menoleh ke arah Gita. "Iya enak, makan makan! Makan yang banyak kamu biar ga kurus." kata Aldo terkekeh.
"Emang aku kurus?"
"E... Enggak. Badan kamu udah bagus segitu ko. Ga kurus, ga gendut juga. Jadi yaa...ideal." jawab Aldo ragu. Ia sangat berhati-hati dalam menjawab pertanyaan Gita. Aldo kembali menyantap makanannya.
Gita hanya mengangguk lalu mengernyit. "Kak," seru Gita.
"Iya kenapa?"
"Harusnya aku yang nanya sama kakak, kenapa kakak diem aja dari tadi? Aku ada salah ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama [Greshan]✓
RomansaKehilangan seseorang akan selalu menjadi luka terdalam.
![Bersama [Greshan]✓](https://img.wattpad.com/cover/368261174-64-k978876.jpg)