98

2.6K 349 68
                                        

Typo🙏
Happy Reading...!!!











Shani terus terisak dalam dekapan Imel. Bayang wajah Chika yang penuh kebencian, serta kata-katanya yang membuat sakit hati terus terngiang-ngiang ditelinganya. Penyesalan itu kembali datang. Andai saja dulu ia tidak mengambil keputusan yang menurutnya benar, pasti ini tidak akan terjadi.

Sebelumnya ia sudah menjelaskan apa yang terjadi pada mamanya itu.

"Mam... Chika..." ujar Shani dengan isakan.

Wanita paruh baya itu terus mengusap punggung Shani.
"Suutt... Tenang kak, percaya deh sama mama. Semua akan baik-baik aja nak."

"Aku berhak dapet perlakuan kaya gitu dari Chika mam. Tapi hatiku juga sakit liat Chika yang kaya gitu. Dia udah kecewa banget mam. Aku ga bisa bayangin, gimana kalo mas Cio tau yang sebenarnya."

"Kamu harus siap untuk itu sayang. Ini konsekuensi yang harus kamu terima. Kalo kamu memang serius mau kembali ke kehidupan Cio dan Chika, kamu harus bisa lewatin ini dulu."

"Aku udah ga berharap bisa kembali sama mas Cio mam. Aku cuman mau minta maaf sama mereka. Aku ga mau terus-terusan dihantui rasa bersalah selama bertahun-tahun mam. Aku bukan Shani yang dulu, aku cacat mam!" jelas Shani. Sungguh ia tidak bisa menahan sesak di dadanya yang semakin menghimpit.

Mendengar hal itu, Imel tersenyum samar. Ia tau kalau anaknya itu masih sangat ingin kembali pada Cio. Hanya saja rasa sesal itu menutupinya. Imel mencoba untuk merenggangkan pelukannya. "Kak, liat mama nak." katanya dengan lembut.

"Jangan bohongi hati kamu sendiri sayang. Mama tau ada banyak cinta yang kamu punya untuk Cio dan juga Chika. Terlepas dari apa yang terjadi sama fisik kamu, kamu tetap Shani yang dulu. Orang yang mencintaimu dengan tulus tidak akan pernah memandang hal itu."

Shani hanya diam, dan sesekali mengusap air matanya.

"Apapun nanti yang akan terjadi, mama selalu berdo'a yang terbaik buat kamu. Mama yakin kamu bisa menghadapi ini semua sayang. Mama mohon kamu harus kuat ya..." ujar Imel sambil menangkup wajah Shani. Shani merasa sedikit lega setelah mendapat nasihat dari sang mama.

"KAK! TUNGGU!!!"

Suara itu membuat keduanya terperanjat.

"Adek, mam."

"Iya kayaknya kak, tapi kenapa teriak-teriak kaya gitu?" timpal Imel.

Brak!!!

Seketika pintu kamar itu pun terbuka. Menampilkan sosok pria yang berdiri tepat di ambang pintu.

Imel yang terkejut seketika bangkit. "Ci-Cio?"

Begitupun dengan Shani. Darahnya seperti berhenti mengalir, namun jantungnya berdegup sangat kencang. Ia tidak menyangka akan bertemu dan melihat Cio lagi. Tapi apakah ini waktu yang tepat? Mengingat begitu dalam luka yang ia berikan pada Cio. Yang sudah pasti tidak akan semudah itu untuk sembuh.

Cio, pria itu diam seribu bahasa. Tubuhnya seolah mematung disana. Memandang seorang wanita yang duduk di tempat tidur. Kini kedua mata itu saling bertemu tatap. Apakah ini mimpi? Itulah pertanyaan yang ada dalam benak Cio.

Imel segera menghampiri Cio. "Cio... Nak..." serunya lirih.

Namun sepertinya Cio tidak menggubris seruan itu. Jinan yang tepat di belakang Cio, memberi kode pada sang mama untuk keluar dari sana.

Imel melihat sekilas Shani lalu beralih pada Cio. "Kalian selesaikan apa yang seharusnya selesai. Mama mohon jangan sampai ada masalah baru yang timbul dari apa yang terjadi. Maafkan jika memang itu harus dan layak untuk mendapatkan maaf. Lupakan apa yang membuat kalian sakit, jika memang kalian ingin benar-benar sembuh dari luka kalian masing-masing."

Bersama [Greshan]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang