79

2.5K 291 39
                                        

Typo🙏
Happy Reading...!!!









Keesokan Harinya

Saat Gita keluar dari kamar Chika, ia berpapasan dengan Cio. Ini adalah hal yang jarang sekali Gita temui, melihat Cio yang akan berangkat bekerja. Biasanya Cio akan berangkat sebelum semua orang terbangun. Entah apa yang ia lakukan sepagi itu, bahkan saat langit masih gelap. Gita selalu dibuat penasaran sekaligus bingung.

"Bang," seru Gita.

Namun Cio hanya lewat begitu saja di depannya.

"Bang, tunggu!" pinta Gita sambil menarik lengan Cio. Seketika Cio menghentikan langkahnya tanpa merubah posisi tubuhnya.

"Bang, aku mau ngomong." lanjut Gita. Meskipun ada keraguan, pikir Gita ia harus membicarakan ini semua dengan Cio. Setelah melihat reaksi Chika kemarin.

Cio pun membalikkan tubuhnya menghadap Gita. Menatap mata adiknya dalam. Sudah lama Cio tidak bertatapan dengan adik satu-satunya itu. Ada rasa rindu, namun tidak bisa ia utarakan. Ada rasa bersalah namun kalah oleh rasa egonya sendiri.

Gita menelan salivanya, berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan Cio. "Bang, aku mohon abang jangan kaya gini terus. Keluarga kita udah berantakan bang. Abang sadar itu? Cukup bang, abang nyakitin diri abang sendiri. Jangan abang sakitin Chika juga. Dia gak tau apa-apa. Kasian dia. Harusnya abang jadi pelindung buat dia. Tapi apa? Abang cuman bisa kasih dia luka. Abang bagi luka itu ke Chika. Tanpa Chika tau alasannya apa."

"Kamu gak ngerti apa-apa. Jangan pernah kamu ngatur hidupku." jawab Cio datar dengan tatapan tajam.

Gita harus menelan pil pahit akan jawaban yang Cio berikan. Dia sudah berusaha untuk bicara baik-baik, tetapi apa yang dia dapatkan.

"Gak ngerti? ABANG BILANG GAK NGERTI??? SELAMA INI AKU KURANG NGERTI KAYA GIMANA LAGI HAH??? SEMUA AKU RASAIN SENDIRI! SEMUA AKU HADAPIN SENDIRI! SEDANGKAN ABANG??? ABANG CUMAN SIBUK SAMA DUNIA SENDIRI, TANPA PERNAH TAU KITA KAYA GIMANA. TANPA PERNAH PEDULI SAMA KITA! KEMANA ABANG YANG DULU???"

Dengan cepat Cio menarik tubuh Gita, mencengkram kuat pangkal lengannya membuat Gita meringis menahan sakit.

Cio mendekatkan wajahnya ke telinga Gita lalu berbisik pelan. "Abangmu udah mati. Dan jangan harap dia bisa kembali lagi." dengan cepat Cio melepaskan cengkramannya dan berlalu begitu saja.

"BANG! TUNGGU!!! GRACIO KAMU KETERLALUAN!!!" pekik Gita, yang melihat kepergian Cio. Setelah Chika dan sang mami, dia pun kini mendapatkan perlakuan kasar dari Cio.

Menyesal sudah pasti karena bertanya pada Cio. Harusnya itu tidak pernah dia lakukan. Harusnya dia biarkan saja Cio menikmati kesendiriannya. Tapi sebagai saudara Gita rasa perlu untuk mengutarakan semuanya. Sekaligus khawatir jika terjadi sesuatu yang buruk pada Cio.

Nyatanya ke khawatirannya itu hanya sia-sia belaka. Cio memang sudah tidak peduli dengan keluarganya. Dia lebih memilih hidup "jauh" dari mereka.

Gita mengusap airmatanya dan kembali masuk ke dalam kamar Chika. Ia tidak ingin kesedihannya itu dilihat oleh siapapun.

"Kenapa?" tanya Chika.

Seketika Gita mengusap air matanya. "Nggak, aku gak papa ko." bohong Gita yang kemudian duduk di samping Chika yang masih duduk di tempat tidur.

(Aku tau onty bohong, aku denger semuanya. Papa jahat!) batin Chika.

Chika merentangkan kedua tangannya pada Gita. Dia sama sekali tidak ingin melihat Gita menangis.

Seketika membuat Gita tersenyum bahagia. Sepertinya Chika sudah melupakan kejadian kemarin. Atau mungkin keponakannya itu hanya berusaha menghiburnya saja.

Bersama [Greshan]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang