96

2.5K 293 43
                                        

Typo🙏
Happy Reading...!!!












Jinan baru saja berganti pakaian, suara dering ponselnya memecah keheningan kamarnya. Jinan hanya melihat sekilas siapa yang menghubunginya di malam yang hampir larut seperti ini. Malas. Itu lah kata yang muncul dalam pikirannya. Jinan membiarkan ponselnya itu terus berdering, tanpa ada niatan untuk menerima panggilan tersebut. Jinan dengan santai mengeringkan rambutnya.

"Berisik banget! Dia pasti mau ngadu. Giliran susah aja, gue juga yang kebagian. Giliran gue kasih kepercayaan buat jagain Chika doang, ga bisa." katanya santai namun ada sedikit emosi yang tertahan.

Ponselnya terus berdering, menandakan ada hal penting yang ingin disampaikan. Meskipun Jinan sudah tau akan hal itu. Dengan terpaksa ia menerima panggilan tersebut. "Kenapa?" tanyanya.

"Kemana aja sih lo? Gue telpon dari tadi ga lo angkat?"

Jinan memutar bola matanya, malas. Ia sudah tau ini akan terjadi. "Kenapa?"

"Chika." suaranya terdengar gemetar menahan tangis.

Oke, saatnya Jinan menjalankan perannya. "Chika? Chika kenapa???"

"Chika hilang Nan." kata Gita di ujung panggilan.

"APAA?!" bentak Jinan. Namun setelahnya Jinan tersenyum penuh kemenangan bisa menjahili Gita. Lebih tepatnya memberi pelajaran padanya. "Ko bisa??? Kan gue udah suruh lo buat jagain dia gimana si? Gitu doang ga bisa lo!" lanjutnya kesal.

"Gue juga ga tau. Dia dari pulang sekolah sampe sekarang ga ada kabar, Jinan. Hpnya ga aktif. Kita udah cari kemana-mana tapi ga ketemu. Gue bingung..."

Jinan mulai mendengar suara isakan tangis dari Gita. Sebenarnya ia tidak tega, namun ini harus ia lakukan. "Ya... lo cari lah sampe ketemu. Jangan nyerah gitu aja! Kalo Chika kenapa-kenapa gimana? Kalo Chika di culik gimana, Gitaaa??? Lo mikir kesana ga si?"

"Lo bisa ga si jangan nakut-nakutin gue kaya gitu! Gue lagi panik bukannya lo tenangin malah bikin gue makin panik."

Jinan masih belum puas menjahili Gita, "Ya gimana? Lo tau kan dunia luar kaya gimana? Ga semua orang baik, Gita! Takutnya Chika...."

"Stop! Gue ga habis pikir sama lo ya! Gue ngasih tau lo supaya lo bisa bantuin gue cari jalan keluar buat nemuin Chika. Bukan malah nakutin kaya gini." ujar Gita yang semakin histeris di ujung panggilan.

"Salah lo juga, kenapa bisa teledor kaya gitu. Ga bisa jagain Chika! Pasti lo sibuk pacaran kan? Kayanya emang cuman gue yang pantes jadi onty nya Chika. Bukan lo! Cuman gue yang peduli sama dia. Gue selalu mastiin kalo dia baik-baik aja. Gimana pun itu caranya."

"Stop! Nuduh gue yang enggak-enggak ya! Gue ga pernah ga peduli sama Chika. Dan yang harus lo tau, gue onty nya Chika. Ga akan bisa tergantikan sama siapapun. Sekalipun itu lo orangnya, gue ga akan biarin!" ujar Gita sepertinya sudah habis kesabaran.

"Kalo gitu buktiin. Cari Chika sampe ketemu!"

"Bener-bener lo ya! Gue nyesel ngasih tau lo, kalo lo cuman mau nyalahin dan ga ngasih gue solusi sama sekali."

Panggilan terputus.

Jinan tersenyum penuh kemenangan. "Rasain emang enak! Kita liat sampe kapan Chika bisa bertahan sama gue." kata Jinan yang kembali mengeringkan rambutnya.

"Ngomong-ngomong Chika, gimana ya entar kalo misalkan dia bangun. Huh... Gue harus siap-siap aja sih ini. Yang pastinya semua ga akan baik-baik aja." gumamnya lagi sambil melihat pantulan wajahnya di cermin.






Bersama [Greshan]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang