Typo🙏
Happy Reading...!!!
Brak!!! Pintu kamarnya terbuka dengan kencang. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Kembali menangis mengingat siapa yang baru saja ia temui.
"DIA BUKAN MAMA! MAMA UDAH MENINGGAL. MAMA GUE CUMAN MAMA ANIN, GA ADA YANG LAIN. DIA YANG UDAH BIKIN GUE KAYA GINI." racau Chika, suaranya hampir tidak terdengar jelas. Karena wajahnya yang tenggelam di bantal.
Cio yang panik segera masuk. "Sayang...!" panggilnya. Cio langsung duduk disamping Chika yang masih tengkurap di tempat tidur. Mengusap punggung Chika yang terlihat gemetar. "Sayang... Kamu darimana nak? Papa panik nyariin. Kamu gapapa kan? Ada yang sakit sayang? Bilang papa nak?" tanya Cio lembut, mengusap kepala Chika.
Namun Chika belum merespon apapun. Ia masih betah menangis. Cio semakin bingung, dan bertanya-tanya apa yang terjadi pada anaknya sampai-sampai histeris seperti itu. "Sayang... Bangun dulu nak. Cerita sama papa. Kamu kenapa? Dan kamu kemana tadi?"
Chika perlahan bangun, mengusap air matanya kasar. Tanpa kata, Chika menatap lamat-lamat sosok yang ada dihadapannya itu. Lidahnya terasa kelu, untuk menceritakan apa yang tadi ia alami. Dalam benaknya akankah sang papa kembali bersikap sama atau justru malah berubah kembali. Secara wanita itu yang sudah membuat papanya gila beberapa waktu lalu.
Cio merapikan rambut Chika yang terlihat sangat berantakan. Dengan pertanyaan yang terus berputar dalam kepalanya.
Setelah merasa lebih baik, Chika membuka pembicaraan. "Pah,"
Pria dewasa itu, menatap penuh kasih sayang. Memberikan kenyamanan pada Chika. "Iya sayang, kamu kenapa nak? Cerita sama papa boleh?"
Chika menunduk, air matanya kembali menetes. Namun kali ini tangisnya tanpa suara. Perlahan Cio mengangkat dagu Chika, agar menatapnya. "Kenapa?" tanyanya lembut.
"Pah, sebenarnya tante Shani kemana selama ini? Chika ga pernah tau dia dimana dan kemana. Kenapa dia pergi?"
Seketika jantung Cio berdegup lebih cepat mendengar pertanyaan Chika. Tangan yang awalnya menggenggam tangan Chika, kini terlepas begitu saja. Apakah ia harus memberitahu Chika yang sebenarnya tentang Shani. Apakah ini waktu yang tepat?
"Papa ga pernah jawab pertanyaan Chika, pah. Selama ini Chika diem, bukan berarti Chika ga mau tau lagi soal dia. Chika cuman ga mau papa berubah sikap lagi sama Chika kalo Chika nanya tentang itu." lanjutnya.
"Pa-pa...." balas Cio gugup.
Chika berusaha mengusap sisa air matanya. Kembali menahan tangis. Bayang wajah Shani yang tadi ia lihat, bukanlah Shani yang dulu. Dan sebenarnya apa yang telah terjadi. Itu menjadi pertanyaan besar bagi Chika. Rasa benci mungkin ada, tapi rasa sakitnya lebih besar saat melihat Shani yang sepertinya tidak baik-baik saja. "Setelah sekian lama Chika nanya sama papa, dan sekian lama juga Chika ga pernah dapet jawaban. Akhirnya hari ini Chika dapet jawabannya sendiri."
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Cio. Sungguh ia tidak bisa mengerti dengan apa yang Chika ucapkan.
"Chika ketemu sama dia."
Cio membulatkan matanya. Bagaimana bisa Chika bertemu dengan Shani, sementara dia tau kalau Shani sudah meninggal. Dan ia sendiri yang mengantarkan ke pemakamannya waktu itu. "Coba bilang sama papa, jelasin semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Chika juga ga tau gimana bisa ada dirumahnya, pah. Dan ya Chika ketemu sama dia disana." jelas Chika.
Cio seketika bangkit dari duduknya. Tak percaya dengan apa yang Chika ucapkan. "Gak gak mungkin." katanya sambil menggelengkan kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama [Greshan]✓
RomanceKehilangan seseorang akan selalu menjadi luka terdalam.
![Bersama [Greshan]✓](https://img.wattpad.com/cover/368261174-64-k978876.jpg)