Typo🙏
Happy Reading...!!!
Minggu lalu, Cio kembali menyampaikan niat baiknya pada orang tua Shani untuk meminang anak pertama mereka. Meskipun dengan persiapan yang sangat mendadak, tetapi semuanya berjalan dengan lancar.
Dalam pertemuan itu mereka juga sekaligus menentukan tanggal pernikahan. Cio, pria beranak satu itu mengusulkan agar pernikahannya esok hari. Namun para orang tua tidak setuju, karena bukan hal yang mudah untuk mempersiapkan pernikahan. Apalagi hanya dalam tempo waktu yang singkat.
Begitupun dengan Chika. Gadis remaja itu sangat mendukung penuh sang papa. Sama seperti papanya, Chika ingin segera menjadikan Shani sebagai mamanya. Sejak hari itu Chika bahkan sudah tinggal bersama dengan Shani dirumahnya. Meskipun Cio membujuknya untuk pulang, namun Chika tetap bersi keras untuk tinggal bersama dengan Shani.
Bukan melupakan sang papa dan anggota keluarga lainnya. Hanya saja Chika sangat rindu dengan Shani, dah tidak ingin kehilangannya lagi untuk yang kedua kalinya. Cio bingung entah siapa yang harus ia cemburui. Shani yang lebih dekat dengan Chika, atau Chika yang lebih dekat dengan Shani. Pria itu hanya bisa mengalah dengan keadaan.
Setelah dua minggu berlalu dari acara lamaran, kini hari yang mereka tunggu sejak lama akhirnya tiba. Persiapan telah 100% selesai. Seperti rencana dulu, para orang tua yang mempersiapkan semuanya. Cio sempat menolak karena ingin mempersiapkannya sendiri, namun para orang tua tetap kekeh pada pendirian mereka. Cio hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya pada para orang tua. Shani dan Cio hanya memberikan konsep pernikahan mereka saja.
Disebuah kamar, Shani tengah dirias oleh dua orang wanita. Dengan masing-masing tugasnya. Untuk menata rambut Shani dan merias wajahnya. Shani dengan balutan kimono yang masih ia kenakan duduk santai didepan meja rias. Meskipun demikian wajahnya telah menampakkan aura pengantin yang begitu indah. Riasannya mungkin sebentar lagi akan selesai.
Saat ini waktu menunjukkan pukul 7.00, akad nikah mereka akan dimulai pukul 9.00. Masih ada banyak waktu untuk Shani mempersiapkan diri. Awalnya ia sangat excited ingin hari ini segera tiba, namun saat hari itu tiba seketika berubah menjadi gugup.
"Tenang kak," ujar Imel yang juga menemani Shani disana. Ibu dua anak itu sudah berias lebih dulu. Begitupun dengan Jinan.
Jinan memperhatikan Shani dari samping sesekali ia pun melihat Shani dari pantulan cermin.
(Aku seneng banget kak, akhirnya kakak bisa sampe di hari yang kakak paling tunggu. Setelah semua rasa sakit dan luka yang kakak alami.) batin Jinan, senyum tipis terlukis di wajahnya.
"Cie cieeee nikah ciee...." goda Jinan sambil mencolek bahu Shani.
"Apaan sih dek," balas Shani yang nampak malu-malu.
"Jangan mulai deh," tegur Imel.
"Oke kak, sudah selesai makeup nya. Saatnya ganti baju."
"Oh iya mba." jawab Shani.
"Apa perlu bantuan mba?" tanya Jinan. Ia tau pasti mereka akan kesulitan memakaikan gaun pengantin pada Shani yang dalam kondisi seperti itu.
"Boleh kak,"
Mereka pun segera mempersiapkan gaun yang akan Shani kenakan, dibantu oleh Jinan.
***
Sementara itu dilain tempat...
"Saya terima nikahnya... Shani dengan tunai." gumamnya sambil mondar mandir didepan jendela.
"Hah? Emang gitu ya?" tanya Cio tak yakin yang kemudian ia membuka secarik kertas berisi catatan yang harus ia ucapkan pada saat akad nanti. Dengan setelan jas pengantin berwarna putih, sepatu hitam yang mengkilap. Rambutnya tertata rapi. Cio nampak gagah dan siap untuk jadi raja sehari dalam pernikahannya nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bersama [Greshan]✓
RomanceKehilangan seseorang akan selalu menjadi luka terdalam.
![Bersama [Greshan]✓](https://img.wattpad.com/cover/368261174-64-k978876.jpg)