101

1.6K 285 15
                                        

Typo 🙏
Happy Reading...!!!











Matahari tak lagi memancarkan sinarnya. Tertutup awan hitam yang bergelayut di langit. Namun itu semua tidak mematahkan niatnya untuk menyelesaikan semua permasalahan yang ada.

Disebuah taman yang dulu menjadi saksi bisu pernyataan cinta Cio padanya. Hari dimana Shani sangat merasa gugup, namun bahagia seketika menjadi satu. Sekarang taman tersebut jauh lebih indah daripada sebelumnya. Lebih banyak bunga yang ditanam disana. Shani begitu takjub dengan perubahan tempat tersebut.

Berbalut sweater rajut berwarna putih dengan syal berwarna senada dililitkan dileher, rambutnya yang panjang tergerai lurus tertiup angin yang berhembus cukup kencang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Berbalut sweater rajut berwarna putih dengan syal berwarna senada dililitkan dileher, rambutnya yang panjang tergerai lurus tertiup angin yang berhembus cukup kencang. Dibantu oleh Jinan yang mendorong kursi rodanya, Shani mulai memasuki area taman. Sepi, bagaimana tidak waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Hanya ada beberapa orang saja disana. Terlebih sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.

"Disana," tunjuk Shani pada sebuah kursi yang berada di bawah pohon. Jinan menurut, perlahan mendorong kursi rodanya untuk sampai kesana. Kursi itu masih diposisi yang sama seperti dulu, menghadap ke danau.

"Aku mau duduk disitu dek." pintanya pada Jinan.

Jinan pun dengan segera menuruti permintaan Shani. Perlahan mengangkat tubuh Shani, kemudian meletakkannya di kursi.

"Makasih dek,"

"Iya kak." balas Jinan yang kemudian duduk disampingnya. Memandang lurus ke arah danau yang tenang. "Kakak udah siap?"

Shani menghela napasnya panjang, "Aku siap dek. Apapun yang akan terjadi nanti. Aku harus mendapatkan maaf dari Chika. Sekalipun hubungan aku sama mas Cio yang harus jadi taruhannya." lirih Shani. Suaranya sedikit bergetar menahan tangis. Shani pun tidak yakin dengan apa yang barusan dia katakan. Akankah ia bisa benar-benar pergi dari Cio selamanya?

Jinan menggenggam tangan Shani erat, memberikan kekuatan pada kakaknya itu. "Kak, aku yakin apapun yang terjadi, ini udah rencana Tuhan. Kita cuman bisa menerima dan menjalankan sesuai dengan skenarionya. Tapi aku mohon kakak tarik lagi kata-kata itu. Aku tau ini ga mudah kak, tapi kakak harus yakin. Semuanya akan baik-baik saja, kembali seperti dulu. Semoga Chika bisa menerima apapun yang kakak bilang nanti. Chika anak yang baik, kakak tau itu kan? Hari ini, harus menjadi hari yang terbaik bagi kalian. Itu adalah do'aku, kak."

Shani tersenyum, tangan kirinya membalas genggaman tangan Jinan. "Semoga de, itu yang kakak harapkan. Meskipun sangat kecil kemungkinannya. Tapi kakak akan berusaha."

"Kakak pasti bisa."

"Makasih dek." balas Shani. Meskipun ada keraguan dalam dirinya. Dan membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Apa yang harus dia katakan. Apakah Chika akan bersikap biasa saja, atau malah sebaliknya seperti saat dirumah?

"Kak!" seru Jinan, yang membangunkan lamunan Shani.

"Iya dek? Kenapa?" kagetnya.

"Kakak kenapa? Ngelamun?"

Bersama [Greshan]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang