88

3.4K 379 56
                                        

Typo🙏
Happy Reading...!!!












Entah sudah berapa lama menangis, berapa banyak luka yang harus aku obati. Hanya karena masa lalu. Dan itu selalu menjadi bayangan pedih sekaligus menyakitkan. Berpisah karena keadaan yang sama sekali tidak bisa aku terima.

Ingin selalu bersamanya, namun diri ini rasanya tidak pantas. Terlalu buruk, terlalu cacat untuk dia yang sempurna. Bahkan sekadar untuk melihat pantulan wajah di cermin saja, aku tidak sanggup. Ku coba lari meninggalkan bayangnya, namun bayangnya malah semakin mengikuti kemanapun aku pergi. Rasanya tidak ada ruang dalam hati ini yang kosong tanpa bayangan dan juga cintanya.

Sakit, pilu memang. Tapi ini jalan yang aku tempuh agar dia bisa bahagia tanpa bersamaku. Jika aku bisa meminta, saat itu aku lebih baik pergi selamanya dari dunia ini. Tanpa harus merasakan sakit yang berkepanjangan. Tersiksa oleh rasa sakit yang aku ciptakan sendiri.

Apakah aku egois membiarkannya tenggelam atas kehilangan, yang sebenarnya itu tidak pernah terjadi? Salahkah aku Tuhan, jika aku juga ingin dia bahagia. Meski bukan denganku. Ini sungguh menyiksa batinku. Dulu, aku pikir ini adalah jalan terbaik yang aku tempuh. Tapi nyatanya ini salah. Aku semakin tersiksa karena harus jauh dari dia, laki-laki yang sangat aku cintai.

Lewat semesta ini, aku titipkan rasa rinduku padanya. Aku ingin sekali lagi bisa bertemu dengannya, tanpa aku harus merasa kecewa dan marah pada diriku sendiri. Aku ingin dia tau kalau aku juga masih sangat mencintainya. Dan akan selalu seperti itu. Tuhan, adakah kesempatan untukku?

Monolog itu selalu terdengar dalam batinnya. Sejak saat ia mengambil keputusan terberat dalam hidupnya. Ia sama sekali tidak bisa merasakan ketenangan. Setiap hari harus merasakan gelisah. Selain menahan rasa sakit ditubuhnya, ia juga harus mengendalikan perasaannya yang berkecamuk.

 Selain menahan rasa sakit ditubuhnya, ia juga harus mengendalikan perasaannya yang berkecamuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Lima tahun lalu adalah peristiwa kelam yang harus dia lalui. Membiarkan dirinya dianggap telah tiada oleh orang banyak. Keputusan yang dia anggap terbaik, namun seketika menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.

Flashback

"Ada apa Cio?"

"E...Om, Tante Cio harus ke kantor sekarang. Ada yang harus Cio urus sebentar." ucap Cio gugup, ia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya pada Keenan dan Imel.

"Ya sudah, hati-hati." ucap Keenan.

"Iya, om. Cio permisi dulu." pamit Cio sambil berlalu. Berjalan sedikit cepat, agar ia bisa segera sampai di parkiran.

"Cio kenapa ya pah? Ko kaya buru-buru gitu?" tanya Imel sambil memandang punggung Cio yang semakin menjauh.

"Mungkin ada masalah di kantornya mam."

"Semoga gak ada hal yang serius." lirih Imel.

Seorang dokter dan suster dengan tergesa-gesa menuju ruangan Shani.

Bersama [Greshan]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang