35. Keluarga impian

7.8K 634 27
                                        

Vote dong biar aku seneng
.
.
Typo tandai yeee
.
.
.
.
.


Kini, Gilbert, Arthur dan Rex. Sudah sampai di titik tempat Samuel berada. Sudah ada beberapa polisi yang mengepung tempat itu.

"Kita masuk!" Dengan membawa senjata legal. Gilbert membawa Arthur dan Rex masuk ke bangunan itu.

Beberapa polisi mengikuti mereka. Dengan senjata yang jauh lebih canggih.

Mereka menelusuri gedung yang luas itu. Seluruh pasukan khusus polisi berpencar guna mempermudah pencarian mereka. Namun, sudah lebih dari 12 ruangan yang mereka masuki. Akan tetapi Samuel dan Lino tidak ditemukan.

"Seluruh ruangan sudah kami geledah, komandan. Namun, tidak ada seorang pun di sana." Laporan dari salah satu anggota kepolisian itu membuat Gilbert frustasi.

"Tenang pak, masih banyak ruangan yang belum kita geledah." Pemimpin pasukan khusus kepolisian itu mencoba untuk menenangkan Gilbert, agar pikiran pria itu tetap jernih.

"Lapor komandan!" Suara lantang dari seorang anggota membuat sang komandan mendengar laporan nya.

"Ada apa?"

"Kami mendengar suara teriakan dari ruangan yang berada di lantai 4, komandan!"

"Sepertinya mereka di sana. Pasukan  menuju lantai 4!"

Semua orang mengikuti arahan dari komandan kepolisian itu. Bahkan Gilbert dan Arthur sudah sangat gembira karena mendapatkan keberadaan permata mereka.

Hingga akhirnya mereka sampai di lantai 4. Hanya ada satu pintu ruangan di sana.

"Samuel!"

"Lino!"

Dengan kekuatan militer, seorang anggota polisi menendang pintu itu hingga roboh. Dan terlihatlah, dua orang dengan keadaan pucat pasi dan tak bertenaga, sedang terduduk dengan bersandar pada sebuah tiang.

"Fir."

"Daddy."

Arthur dan Gilbert memasuki ruangan itu, tanpa perduli apa yang telah mereka injak.

Gilbert memeluk tubuh lemah Samuel dengan air mata. "Oh my son, baby El."

Samuel tak bergerak sedikit pun saat Gilbert memeluk nya dengan erat. Ini adalah pelukan penuh khawatiran dari sosok ayah. Maka, biarkan Samuel merasakannya.

Sedangkan Arthur, pria itu membawa Lino ke pelukannya. "Maaf kan aku, Lili."

Panggilan yang sangat lucu, dan itu berhasil membuat Lino tersenyum. "Jangan peluk aku, Fir~. Perut ku sakit." Keluh Lino.

Di saat seperti ini mengapa kedua pria itu harus melakukan ritual pelepasan rindu. Rex harus memberi tahu pada pasangan ayah anak itu untuk membawa Samuel dan Lino ke rumah sakit terlebih dahulu.

Namun, saat ingin memasuki ruangan itu, Rex merasa menginjak sesuatu yang sangat kental. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat empat tubuh tak bernyawa yang tergeletak di ruangan itu.

"Mengerikan." Satu kata yang keluar dari nya. Bagaimana tidak. Keempat tubuh itu terlihat mengenaskan.

"Kami akan meminta petugas forensik untuk menangani ini. Dan untuk korban, mohon kerjasamanya." Mereka tahu apa yang dimaksud oleh komandan kepolisian itu. Bisa dikatakan, ia meminta kesaksian dari Samuel dan Lino.

"Bisakah saat di rumah sakit saja? Mereka harus di tangani terlebih dahulu." Ucapan dari Rex mendapatkan persetujuan dari sang komandan. Mau bagaimana pun, keselamatan kedua korban lebih utama.

Takdirku Berubah (Sudah Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang