41. Hari tenang lainnya

6.3K 592 28
                                        

Vote dong biar aku seneng
.
.
.
Typo tolong tandai



Romeo berjalan perlahan menuju pemuda itu. Semua orang terdiam, mereka ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Ya, walaupun suasana seperti ini sangatlah membuat was-was.

Romeo berhenti tepat di hadapan Lino. "Kau ini.... Mafia atau pembunuh?"
.
.

"Tentu saja aku manusia."
.....

Suasana mendadak hening.

Lino menjawab dengan tatapan polosnya. Namun, jawaban macam apa itu?! Tapi, memang benar dia adalah manusia.

"Bukan itu maksud ku!" Romeo frustasi, sungguh. Berbicara dengan Lino, tidak jauh beda Arthur. Mereka sama-sama pandai mengalihkan pembicaraan.

"Lalu anda ingin jawaban seperti apa? Apakah saya harus menjawab, aku adalah seorang peri yang menyamar sebagai manusia! Hahahaha!" Tingkah yang di tunjukkan oleh Lino, seolah-olah dirinya memang tidak mengerti.

Semua orang tertawa dengan jawaban datar dari Lino. Entah bagaimana wajah manis itu tetap terlihat datar saat sedang dalam keadaan seperti ini.

Dan, hey! Candaan macam apa itu?

Samuel yang mendengarkan itu, sedikit menahan tawanya. Sungguh, sesuatu yang tidak bisa terjadi setiap hari.

'pfff, Dia bodoh' Samuel harus mati-matian menahan senyumannya. Mau bagaimana pun, saat ini dia sedang berpura-pura tidur.

Romeo semakin frustasi. Sungguh, tidak bisakah situasi menjadi kembali serius?.

"Saya serius, Lino." Romeo menahan rasa kesalnya.

"Saya juga serius tuan, benarkan Arthur?" Ah lihat itu. Bagaimana bisa wajah yang semulanya datar, tiba-tiba saja menjadi menggemaskan saat bertanya pada Arthur.

Arthur mengigit bibir agar dia tidak mengigit pipi sahabatnya itu. "Iya,"

Lino tersenyum puas. "Lagi pula, mengapa anda sangat penasaran tentang saya, tuan? Apakah ada dari saya yang membuat anda curiga?"

Wajahnya yang terlihat tenang membuat Romeo menjadi bimbang dengan kesimpulannya tentang pemuda manis itu.

"Sebaiknya kalian pergi membersihkan diri, sebentar lagi waktu makan malam." Instruksi dari Gilbert, membuat mereka pergi ke kamar masing-masing.

Gilbert bahkan pergi lebih dulu dengan Samuel di gendongannya.

Mereka hanya menyisakan Zitou dan Louisa di kamar itu. Tentu saja dengan ancaman dari Romeo agar mereka tidak melakukan hal yang belum seharusnya.

Meninggalkan mereka yang asik dengan masalah itu. Kini, Samuel sangat nyaman berada di pelukan sang Daddy.

"Daddy." Panggilnya.

Gilbert hanya bergumam sebagai jawaban. Pria itu masih fokus dengan suasana di balkon kamar si bungsu.

"Selimut El di mana?"

Pertanyaan dari si bungsu membuat Gilbert tersenyum puas. Dia sangat suka sifat acuh tak acuh dari Samuel, remaja itu tidak akan pernah ikut campur dalam urusan orang lain.

"Selimut mu ada di atas kasur mu." Hanya itu jawaban dari Gilbert, namun itu sudah membuat Samuel lega.

"Ayo Daddy, kita harus cepat-cepat ke kasur El. Pasti selimut El kedinginan di atas kasur empuk itu."  Ucapan datar nan polos itu, mampu membuat Gilbert tertawa lepas.

Bagaimana Samuel bisa mengatakan hal itu dengan wajah datarnya? Sungguh luar biasa anak bungsunya ini.

"Sebelum naik ke tempat tidur, ada baiknya El membersihkan diri terlebih dahulu." Samuel menuruti ucapan sang Daddy.

Takdirku Berubah (Sudah Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang