36. keluh kesah si sulung

7.6K 696 47
                                        

Vote dong biar aku seneng
.

.
Typo tolong tandai
.
.
.....

Setelah sambutan yang hangat, kini mereka tengah makan malam dengan bahagia. Bahkan kebahagiaan itu dirasakan oleh seluruh pekerja mansion.

Akhirnya mereka memutuskan untuk memulai makan malam mereka. Berbeda dengan suasana romantis itu, kini di ruang tengah sedang terjadi keributan yang singkat.

"Ungh, lepaskan aku, kakak!" Samuel sangat jengah dengan Rain. Pemuda itu selalu saja memeluknya.

"Kakak merindukan mu, adik." Rain semakin memeluk sang adik, namun ia tidak sampai melukai.

Kali ini, Samuel akan membiarkan Rain memeluknya. Dan dia juga ada hal yang ingin dikatakan pada kakak tengahnya ini.

"Kak Rain." Rain bergumam sebagai jawaban.

Samuel mendekatkan wajahnya pada telinga sang kakak. Ia membisikkan sesuatu yang dapat mengubah ekspresi wajah dari Rain.

"Apakah itu benar?" Tanya Rain serius.

"Datanglah ke kamar ku." Hanya itu jawaban dari sang adik.

Rain terdiam memikirkan apa yang di ucapkan oleh Samuel. Jika memang itu benar maka, Rain akan memukulnya dengan penuh dendam.

"Jangan gegabah." Rain terdiam sejenak, benar yang dikatakan oleh Samuel. Dirinya tidak bisa gegabah. Bukti yang ia butuhkan ada pada Samuel.

Keheningan melanda mereka. Rain semakin memeluk sang adik, namun tidak sampai membuat Samuel merasa sesak.

"Dimana Daddy dan mommy?" Arthur datang dengan Lino yang ia tuntun. Entah mengapa pemuda itu ingin ikut dengannya ke ruang tengah, namun kini tidak ingin di gendong.

"Mereka masih makan malam." Jawab Rain. Pemuda itu bersikap seakan-akan aura penuh dendam tadi, tidak pernah ia keluarkan.

Arthur menuntun Lino untuk duduk di sebelah Samuel. Sofa itu, cukup untuk 4 orang dewasa.

Baru saja Arthur duduk, Gilbert dan Monica sudah selesai dengan makan malam mereka. Dan kini, mereka semua berkumpul bersama.

"Ada yang ingin Daddy bicarakan." Ucapan dari Gilbert, mampu mengundang atensi para pemuda.

"Pertama, Arthur dan Lino." Mendengar namanya disebut. Arthur dan Lino semakin serius.

"Ada apa, dad?" Tanya Arthur.

"Arthur, Lino. Jawab kami, sejujur-jujurnya." Monica menarik nafas dalam-dalam.

"Apakah kalian memiliki hubungan?" Tanya Monica yang sudah menyiapkan diri dengan jawaban dari mereka.

"Ya, kami sahabat!" Jawab Lino dan Arthur secara serentak.

"Bukan itu." Gilbert frustasi dengan jawaban mereka.

Sedangkan Rain dan Samuel tersenyum geli mendengar jawaban itu. Walaupun Rain juga memiliki kecurigaan yang sama, akan tetapi, jawaban mereka sangatlah menggelikan.

Monica mencoba untuk tetap tenang. "Bukan itu maksudnya."

"Maksud kami, apakah kalian sepasang kekasih?" Pertanyaan itu membuat sepasang sahabat menjadi terkejut.

"Mom, kami-"

"Jika memang kalian sepasang kekasih, kami tidak masalah. Asalkan kau bahagia Arthur." Monica memotong ucapan si sulung dengan suara lirih nya.

Monica sebenarnya tidak terima jika putra sulungnya itu adalah seorang homoseksual. Namun, ia bisa apa? Monica merasa dirinya lah yang bersalah. Dia merasa bahwa, dia yang kurang dalam memberi perhatian terhadap Arthur.

Takdirku Berubah (Sudah Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang