Vote dong biar aku seneng
.
.
.
Typo tolong tandai
~o0o~
"Lili,"
Ia mengenali suara itu, Lino mencari dari mana asal suaranya. Ia melihat keberadaan Arthur yang sepertinya sangat khawatir kepadanya.
Ia sedikit tersenyum, dan dengan sudah payah, Lino berucap. "Arthur..."
"Ya, ada apa? Apakah ada yang terasa sakit?" Tanya Arthur dengan raut wajah bahagia.
"Sa-Samuel"
Arthur tidak langsung menjawab perkataannya. Pria itu lebih memilih menekan tombol yang berada di dekat brankar, guna memanggil dokter.
Tak lama setelahnya, datanglah satu dokter dengan dua suster yang mendampingi.
"Permisi, saya akan memeriksa pasien terlebih dahulu." Ucap sang dokter.
Arthur sedikit menjauh dari mereka, karena ia tidak ingin mengganggu pemeriksaan yang dilakukan oleh sang dokter.
Setelah pemeriksaan yang tidak memakan waktu lama, sang dokter berbalik dan tersenyum tipis.
"Kondisi pasien mulai stabil, dimohonkan untuk tidak banyak bergerak terlebih dahulu karena jahitnya belum kering." Ucap sang dokter.
Arthur mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada sang dokter.
Setelahnya hanya ada Arthur dan Lino di ruangan itu.
Lino merasakan tangannya yang menjadi hangat, saat ia menoleh ternyata Arthur memegang tangannya dengan lembut.
"Kau....demam, Fir." Tidak, itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan.
Arthur mengangguk dan menjawab, "Hm, sedikit."
"Di mana Samuel?" Tanya Lino.
Arthur tersenyum tipis mendengarnya. Dia juga kurang tahu di mana adik bungsunya itu berada. Entah dia berada di kantin rumah sakit, ataupun dia sudah pulang. Arthur tidak mengetahuinya.
"Dia kembali ke mansion. Sepertinya dia sangat kelelahan, jadi kami memintanya untuk pulang dan istirahat." Suara itu berasal dari arah pintu. Lino tidak bisa menoleh sampai sana karena tubuhnya masih lemas.
"Mom, dad." Arthur ingin berdiri, namun sang Daddy memintanya untuk tetap duduk.
"Kalian berdua juga istirahat, ini sudah sangat malam. Besok, Samuel baru kembali berkunjung." Monica melihat kearah jam di tangannya, sudah lewat tengah malam, dan kedua orang ini malah lupa waktu.
"Kalian dari mana?" Tanya Arthur. Karena ini sudah tengah malam, dari mana saja pasutri ini?
"Kami di ruangan sebelah mu, dan saat kami ingin ke ruangan mu, kau sudah tidak ada. Kami merasa kau pergi ke sini, dan benar saja." Gilbert menjawab dengan tegas, seakan tak menyukai tindakan Arthur itu.
Sang empu hanya bisa tersenyum dengan ucapan sang ayah. Akhirnya dengan di tuntun oleh Gilbert, Arthur kembali ke ruang rawatnya. Dan hanya tersisa Monica beserta pasien ruangan itu.
Monica memperbaiki selimut Lino dengan hati-hati. Melihat wajah pucat itu, membuat Monica tak tega.
"Apakah Samuel benar-benar kembali ke mansion?" Tanya Lino dengan suara lemahnya.
Monica tersenyum lembut mendengar itu. "Tentu saja, dia terlihat sangat merindukan selimutnya itu. Maka dari itu kami memintanya untuk pulang dengan diantarkan oleh satu bodyguard." Jawabannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdirku Berubah (Sudah Terbit)
Acciónfollow akun bila berminat🥰🥰 Publish: 3 Juli 2024 End: 21 Juni 2025 Samuel Morgan seorang dokter berusia 29 tahun meninggal karena mendonorkan jantung dan ginjalnya untuk kedua saudaranya. Ia berharap pulang ke pangkuan Tuhan. Namun bukannya pergi...
