Typo tolong tandai
.
.
Vote dong biar aku seneng
Saat ini Samuel tengah duduk tenang mendengarkan sang guru menerangkan pelajaran. Tidak ada yang sulit dari pelajaran nya, hanya saja Samuel masih harus beradaptasi dengan pelajaran di negara ini.
Bel berbunyi, namun bel yang terdengar adalah bel pulang.
"Eh, seharusnya bel istirahat kan?" Tanya sang guru pada murid-murid nya.
"Seharusnya memang bel istirahat Bu, tapi yang berbunyi bel pulang." Ucap si ketua kelas.
[Mohon maaf pada para siswa dan guru yang sedang menjalankan proses pembelajaran, ada kesalahan teknis dari sistem. Silahkan untuk istirahat makan siang para siswa dah guru. Maaf atas kesalahan operator]
Penjelasan dari operator sekolah, membuat warga sekolah mengerti. Ternyata hanya kesalahan sistem.
"Baiklah anak-anak, pembelajaran sampai disini saja. Selamat istirahat." Ucap sang guru.
Seluruh siswa meninggalkan kelas untuk mengisi perut mereka di kantin. Namun tidak untuk Samuel, dirinya sendirian dikelas karena malas untuk bangun dan pergi ke tempat ramai itu.
Padahal, teman sekelasnya sudah menawarkan untuk pergi bersama, namun dengan lembut ia menolaknya.
Kelas sepi, hanya tersisa Samuel yang memikirkan rencana untuk balas dendam.
Samuel menatap kosong kearah luar melalui jendela. Orang yang mengikutinya masih berada di sana. Di balik pohon yang lebih tinggi dari tembok sekolah.
Senyuman tipis terukir di bibir Samuel. "Tenang saja, setelah kami menghabisi kalian. Kau, tidak perlu mengawasi ku lagi."
Langit mendung membuat rintik gerimis yang mengundang senyum lebar dari Samuel.
"Dug dug dug~ bunyi jantung dibawah rusuk~"
"Samuel datang~ jantungnya hilang~"
"Cobalah lihat, yang aku pegang."
"Jantung ku pegang,"
"Nyawa melayang~"
"Astaga aku bisa gila, sudah lama sekali tangan ini tidak memegang benda kecil yang berdegup di dekat paru-paru." Pikiran gila itu, hanya Samuel yang bisa memikirkan nya.
Lagu anak-anak itu di ubah oleh Samuel sedemikian rupa. Entah apa yang merasukinya. Namun, suaranya yang lembut, tatapannya yang kosong dan senyuman yang lebar itu. Membuat suasana kelas yang dingin, terasa menyeramkan.
"Aku tidak sabar."
.
.
.
Sebuah mobil tengah melewati jalanan yang padat. Mobil itu dibawa dengan tenang oleh si pemilik.
Itu adalah Lino. Sebenarnya mobil itu bukan milik Lino, hanya saja Lino yang menyetir. Si pemilik mobil masih saja dalam suasana hati yang tidak bagus.
"Sudahlah, jangan cemberut seperti itu. Jika rapat ini berantakan, makan jangan salahkan aku jika kau ku mutilasi." Ucapan itu, tidak terdengar seperti bujukan, itu malah terdengar seperti sebuah ancaman.
Dia sudah sangat geram dengan tingkah Arthur yang seperti anak kecil. Hanya karena tidak bisa mengantarkan Samuel, dia menjadi seperti ini.
"Hm," jawaban itulah yang didapat.
"CK, jika bukan karena uang, maka aku akan meninggalkan mu sedari pagi!" Lino sudah mulai kehabisan kesabaran.
Dia, tidak seperti Rex yang amat sabar menghadapi satu keluarga ini. Jangankan satu keluarga, Arthur dan Samuel saja sudah membuatnya ingin memutilasi manusia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Takdirku Berubah (Sudah Terbit)
Actionfollow akun bila berminat🥰🥰 Publish: 3 Juli 2024 End: 21 Juni 2025 Samuel Morgan seorang dokter berusia 29 tahun meninggal karena mendonorkan jantung dan ginjalnya untuk kedua saudaranya. Ia berharap pulang ke pangkuan Tuhan. Namun bukannya pergi...
