~Suci Rahmadani~
15 tahun bukan waktu yang mudah untuk seorang gadis bernama SUCI RAHMADANI bertahan hidup dengan siksaan dan Caci makian dari keluarganya
"Mah cici juga kepengin disayang "
~Suci Rahmadani~
"Mah cici kapan...
Suara pintu dibuka, muncul lah seorang gadis berambut panjang dari balik pintu,
"Iya bi," ucap Suci sembari tersenyum
"Yaudah bibi duluan ya non," ucapnya dan berlalu pergi
Suci pun turun kebawah untuk makan malam, sebenarnya dia sangat malas sekali jika harus makan malam bersama keluarganya. Dikarenakan pasti bakalan ada percecokan antara dirinya dan keluarganya yang membuat dia sangat menghindari hal itu, namun mau tidak mau dia harus turun untuk makan malam bersama karena dia masih menghargai keberadaan keluarganya. Walaupun keluarganya sudah merusak mentanya tapi dia tetap masih menganggap mereka keluarganya.
Suci sudah berada dianak tangga terakhir, Yah lagi lagi dia harus melihat keluarga yang tampak harmonis itu tanpa dirinya,sesak itu lah yang dia rasakan.
Jika boleh bertanya kenapa harus dia yang mengalami hal ini??kenapa??sebenci itukah alam semesta kepadanya?sampai sampai dia tak boleh sedikit pun merasakan kehangatan keluarga, Kadang Suci merasa bahwa dunia itu tidak adil untuk sesorang sepertinya.
Huh lagi lagi Suci hanya bisa menelan pahitnya kehidupannya,
Srekk
Bunyi bangku yang digeser, Suci duduk dan mulai mengambil makananya. Suasana yang tadinya berisik tiba tiba berubah hening ketika hadir kedatangannya.
Mereka pun makan dengan susana yang dingin.
Setelah Suci sudah selesai makan ketika dia hendak bangkit dari tempat duduknya, ada sesorang yang menghentikan pergerakannya.
"Besok akan ada perkumpulan keluarga, saya harap kamu menyambut baik kedatangan mereka." ucap sesorang yang tak lain adalah Nata papahnya dengan nada tegas
"Jangan pernah berbuat keributan lagi yang membuat keluarga kita malu," lanjutnya dengan tatapan tajam menata Suci lalau dia bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi, dan tidak lama diikuti oleh semua keluarganya kecuali Cahaya mamahnya. Tersisalah dia dan Cahaya
Suci hanya bisa diam dengan tatapan kosong mengarah kepada piring makanya,
"Seharusnya kamu contoh sepupu kamu Hani, dia Cantik, pintar selalu mendapatkan pringkat satu, dia juga anak yang baik.ngga kaya kamu yang hanya main sana sini dan ngga ada yang bisa kami banggakan dari kamu, bisanya membuat kami malu saja," sarkas Cahaya mamahnya