HAPPY READING
.
.
.
Suara bel apartemen Agatha berbunyi. Gadis muda itu segera membuka pintu dan melihat seorang pria paruh baya bersama seorang wanita dan seorang anak laki-laki yang sedikit lebih tua darinya berdiri di depan pintu. Agatha merasa bingung dan tak mengerti apa yang terjadi.
"Selamat siang, Agatha." Sapa pria paruh baya itu dengan suara lembut.
"Maaf mengganggu waktumu. Kami ingin berbicara denganmu sebentar."
Agatha, gadis itu merasa familiar dengan pria paruh baya tersebut. Seakan-akan dia pernah bertemu, tapi dimana? dan seketika dia teringat oleh pria paruh baya yang dia tolong beberapa bulan yang lalu.
Dan kemudian Agatha tersenyum sopan meskipun merasa aneh.
"Selamat siang juga om, silakan masuk." Jawab Agatha, lalu membawa pria paruh baya itu beserta keluarganya masuk kedalam apartemennya.
"Agatha, kamu masih ingat saya?" Tanya Pria tersebut.
"Masih, Om yang waktu itu saya tolong dari orang-orang berbaju hitam kan?" Ucap Agatha memastikan apa benar om itu yang dia temui beberapa bulan yang lalu.
(Buat kalian yang lupa, itu ada di chapter 11: Gadis penolong.)
"Iya itu saya." Jawab Pria itu dengan senyum manis.
"Sebelumnya kita belum berkenalan ya? hanya saya yang tau nama kamu waktu itu. Kalau begitu perkenalkan nama saya Liam, William Smith." Lanjutnya sambil memperkenalkan diri.
Sedangkan wanita yang berdiri di samping pria itu maju sedikit dan memegang tangan Agatha dengan penuh kasih sayang.
"Agatha, perkenalkan juga nama saya adalah Lina. Kami datang ke sini karena ada sesuatu yang penting yang harus kami sampaikan." Ucap Carolina, istri dari Willian tersebut menahan air matanya yang ingin terjatuh.
Agatha yang mendengar ucapan dari Carolina pun mengangguk, walaupun masih tidak yakin apa yang akan terjadi.
"Baiklah, saya akan mendengarkan." Jawab Agatha.
William, pria itu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sebelum berbicara.
"Agatha, beberapa bulan yang lalu, kami menemukan informasi penting tentangmu. Kami merasa ada hubungan khusus antara kita."
"Apa maksud, om?" Tanya Agatha karena merasa bingung dengan ucapan om Liam.
Disisi lain, Theo yang ternyata adalah kakak kandung Agatha, mengeluarkan sebuah foto dari tasnya dan memberikannya kepada Agatha.
"Kamu lihat ini, tha. Ini adalah foto kita saat kecil. Ini bukti bahwa kamu adalah adik kandungku." Seru Theo dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selain foto itu, kami juga memiliki bukti bahwa kamu adalah anak kandung saya. Putri bungsu dari keluarga Smith." Sahut William sambil menyerahkan sebuah berkas yang menjadi bukti bahwa Agatha memang benar anak kandungnya.
Agatha melihat foto tersebut dengan hati-hati. Di foto itu terlihat seorang bayi perempuan yang mirip sekali dengannya, dikelilingi oleh orang-orang yang ada di depannya sekarang.
Dan didalam berkas yang satunya terdapat sebuah kertas lampiran berisi tes DNA dari suatu rumah sakit yang menyatakan jika 99% Agatha memang anak kandung dari Wiliam dan Carolina yang beberapa tahun lalu hilang.
"Sistem, ini beneran gua anak kandung mereka?" Tanya Agatha didalam hati, tidak berani bersuara karena takut di dengar oleh mereka.
[Seperti yang anda lihat tuan, anda memang benar-benar anak kandung mereka.]
"Gua harus gimana? Gua gak berhak mendapatkan ini semua, karena ini semua adalah hak Agatha asli bukan gua?" Tanya Agatha dengan tatapan kosong.
[Tuan dengarkan saya...yang perlu anda tau, jika anda dan agatha asli itu adalah sama, karena kalian memang satu. Jadi anda tidak perlu takut untuk mendapatkan hak anda disini.]
Mendengarkan ucapan dari sistem, perasaan Agatha menjadi lebih lebih lega dari sebelumnya. Dan sekarang dia tau harus berbuat apa untuk kedepannya.
"Jadi benar aku adalah anak kandung kalian. Tapi kenapa kalian baru menemukanku sekarang? Kemana saja kalian selama ini?" Tanya Agatha dengan air mata yang mengalir deras.
"Setelah kamu hilang, kami mencari mu ke mana-mana. Tapi selalu ada halangan dan kendala yang membuat kami gagal menemukan mu. Kami tidak pernah berhenti mencari, dan akhirnya nasib mempertemukan kita hari ini." Jawab Liam dengan penuh penyesalan.
"Dulu waktu kecil, aku hanya bisa melihat anak-anak seusiaku bermain dengan keluarganya. Sedangkan aku hanya bisa melihat sambil menangis, dan mencoba bertahan hidup di dunia ini tanpa kehadiran orang tua." Ucap Agatha dengan perasaan campur aduk antara marah, senang dan sedih.
"Maafkan kami, sayang. Kami sangat menyesal tidak bisa menemukanmu lebih cepat. Tapi sekarang, kami di sini untukmu." Sahut Carolina sambil memandang wajah ayu, sang anak sambil berkaca-kaca.
"Kamu tidak sendiri lagi, Agatha. Kami keluargamu, dan kami akan selalu ada untukmu mulai sekarang." Ucap Theo lalu memeluk tubuh sang adik dengan erat, meluapkan rasa rindunya yang bercampur dengan penyesalan.
Agatha akhirnya menyadari bahwa meski hidupnya selama ini mandiri, ada perasaan hangat yang mulai tumbuh di hatinya.
"Aku... aku butuh waktu untuk mencerna semua ini. Tapi aku senang akhirnya menemukan kalian." Ucap Agatha dengan membalas pelukan hangat dari sang kakak.
"Kami mengerti, Agatha. Kami akan memberikanmu waktu sebanyak yang kamu butuhkan. Kami hanya ingin kamu tahu bahwa kami sangat mencintaimu." Jawab William Sambil mengangguk dengan penuh perhatian.
"Terimakasih." Ucap Agatha lalu mereka berempat pun berpelukan, meluapkan rasa rindu yang mendalam.
Dengan perasaan yang campur aduk, Agatha merasa ada harapan baru yang mulai tumbuh di dalam hatinya. Dia tahu perjalanan ini tidak akan mudah, tapi ia siap untuk mencoba membangun kembali ikatan keluarga yang hilang selama ini.
-TBC-
KAMU SEDANG MEMBACA
Figuran
FantasyAgatha Caroline, seorang gadis cantik berusia 17 tahun yang kini tengah duduk di bangku kelas dua Sma. Agatha sendiri memiliki sifat hiperaktif. Pada suatu hari Agatha tengah membaca sebuah cerita novel berjudul My Heart, yang mana buku tersebut di...
