HAPPY READING
.
.
.
Malam ini, SMA Rajawali mengadakan kegiatan jejak malam yang penuh tantangan. Kelompok-kelompok dibagi oleh anggota OSIS, mencampur siswa kelas 10 hingga 12 menjadi satu tim.
Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada Agatha dan teman-temannya. Jessica, Biru, dan Leo merasa kecewa karena tidak bisa berada dalam satu kelompok. Agatha dan Awan justru ditempatkan bersama Amber, Asher, Melinda, dan Killian.
"Yah, kita gak bisa satu kelompok. Gimana ini, guys?" kata Jessica dengan nada kecewa.
"Iya nih, sayang banget. Tapi nggak papa, kita tetap semangat ya!" jawab Biru mencoba menghibur.
"Padahal gua berharap kita semuanya satu kelompok, eh ternyata cuma gua" kata Awan sambil tersenyum pada Agatha.
Setelah pembagian kelompok selesai, mereka mulai menjalankan kegiatan jejak malam. Tugas mereka adalah mencari lima bendera yang disembunyikan oleh anggota OSIS di sekitar area perkemahan. Semangat membara dalam diri setiap kelompok saat mereka mulai menyusuri jalan setapak yang gelap.
"Ayo cepet, kita harus jadi yang pertama nemuin semua bendera," kata Melinda dengan semangat.
"Iya, kita gak boleh ketinggalan," tambah Amber.
Namun, di tengah perjalanan, Agatha tiba-tiba menyadari bahwa dia terpisah dari kelompoknya. Dia merasa panik dan cemas saat menyadari dirinya tersesat di hutan sendirian.
POV Agatha:
Sendirian di hutan yang gelap, perasaan takut mulai menyelimuti diri Agatha. Dia berusaha mencari teman-temannya, tetapi semua terlihat sama di kegelapan malam. Saat berusaha berjalan lebih jauh, tiba-tiba kakinya tersandung akar pohon dan dia terjatuh. Rasa sakit menyengat di kakinya yang terluka dan terkilir.
Agatha menangis dan merenungi nasibnya di bawah pohon yang rindang. Rasa takut dan putus asa mulai menguasai dirinya. Di tempat lain, teman-teman Agatha mulai merasa khawatir akan keadaannya.
"Kita harus cari Agatha. Kita gak bisa biarin dia sendirian di hutan," kata Asher dengan nada serius.
"Iya, kita cari selama satu jam. Kalau gak ketemu, kita lapor ke pihak sekolah," tambah Killian.
Sementara itu, Agatha terus menangis di bawah pohon. Namun, tak lama kemudian, Asher datang menemukannya. Raut wajah khawatir terlihat jelas di wajah Asher.
"Agatha! Syukurlah gua nemuin lo," kata Asher dengan suara gemetar.
"Asher, gua takut... kaki gua sakit," jawab Agatha dengan suara terbata-bata.
Tanpa berkata-kata, Asher langsung meluk Agatha, ngebawanya ke dalam pelukannya. Mereka nangis bareng, ngerasain kelegaan yang mendalam.
Asher merasa heran kenapa dia begitu khawatir terhadap Agatha. Ada perasaan yang sulit diungkapkan, tapi dia tahu kalo dia gak bisa biarin Agatha sendirian. Setelah sejenak berpelukan, Asher mutusin buat bawa Agatha balik ke perkemahan.
Asher gendong Agatha ala bridal style, ngerasain beban yang ringan di pelukannya. Perlahan-lahan mereka jalan balik ke perkemahan. Setibanya di perkemahan, Asher langsung ngobatin kaki Agatha yang terluka. Rasa sakit perlahan-lahan reda, dan Agatha merasa bersyukur atas perhatian Asher.
"Makasih, Asher. Lo bener-bener nyelamatin gua," kata Agatha dengan suara pelan.
"Gak usah terima kasih. Yang penting lo selamat," jawab Asher sambil senyum.
Malam itu, Agatha dan Asher ngerasain ikatan yang lebih kuat di antara mereka. Kejadian malam ini jadi awal dari petualangan dan perasaan yang lebih dalam di antara mereka berdua. Temen-temen mereka juga lega lihat Agatha balik dengan selamat. Kegiatan jejak malam berakhir dengan penuh kenangan dan pelajaran tentang kebersamaan dan keberanian.
-TBC-
KAMU SEDANG MEMBACA
Figuran
FantasíaAgatha Caroline, seorang gadis cantik berusia 17 tahun yang kini tengah duduk di bangku kelas dua Sma. Agatha sendiri memiliki sifat hiperaktif. Pada suatu hari Agatha tengah membaca sebuah cerita novel berjudul My Heart, yang mana buku tersebut di...
