"Gue balik dulu ya," Bang Raja tiba-tiba membuka pintu kamarku. Beliau sudah dengan setelan khasnya kaos oblong dan denim pendek serta tas ransel army ciri khasnya.
"Gue anter bang?" tanyaku yang sedikit kaget.
"Ga usah, biar mami aja yang anter. Kalian istirahat aja dulu, entar malem kalian kerja rodi lagi lho," jawab bang Raja sambil tersenyum dan berlalu pergi.
"Ati-ati dijalan ya bang, jangan lupa kabarin kalo dah sampe jogja," kuucapkan perpisahan sebelum beliau benar-benar menghilang dari pandanganku. Sejenak aku menghela napas sambil melihat dua manusia yang sedang terlelap di ranjangku... Maya dan Anggun... mereka terlihat sangat lelap karena mungkin sudah terlalu capek dihajar dari kemarin.
"Ndom, nanti tolong disiapin dulu ya, hari ini tim A yang bakal yang bakal ngurusin client-client kita sampai besok jadi kalian bisa istirahat dulu sampe besok kecuali si Anggun nanti malem ada 1 sesi," tiba-tiba Mami memelukku dari belakang sebelum mengantar bang Raja.
"Terus client siapa yang jemput?" tanyaku
"Nanti aku aja yang urus client, yang penting kamu siapin semuanya sekalian prepare buat tim A supaya clear sebelum client datang," jawabnya lagi sambil mengecupku berulang-ulang.
"Lantai atas aja kan yang dipake? Tim A jam berapa dateng?"
"Iya lantai atas kaya biasanya aja dan buat client nanti disiapin 2 kamar karena yang datang kali ini Cuma 2 pasangan aja kok. Skenario juga sudah dishare ke tim A, tinggal nanti Ndom kasih sedikit pengarahan dan finishing aja ya sayang, paling jam 4an lah mereka dateng... mami mau anter bang Raja dulu," jawab Mami lalu bergegas menyusul Bang Raja.
Setelah kudengar suara pintu gerbang ditutup, aku langsung bergegas ke atas untuk menyiapkan semuanya. Kulihat kamar yang kemarin dipakai bang Raja sudah tampak rapi seperti biasanya hanya ruang tengah yang masih sedikit berantakan dengan beberapa tools masih berserakan. Satu persatu tools ku pungut lalu masuk ke dalam containernya masing-masing. Kukembalikan letak-letak kursi yang bergeser dan mempersiapkan stand lampu, lighting dan juga tripod kamera beserta instalasinya.
Tak lama kemudian kulihat Maya yang menyusulku naik dengan muka yang masih sayu lelah. Hanya dengan senyuman dia menyapaku dan langsung ikut membantu merapikan beberapa kabel lampu lighting yang berantakan.
"Anggun masih tidur?" tanyaku santai sambil mensetting camera dan lighting.
"Masih... abis-abisan dia dihajar dari semalem," jawab Maya pelan.
"Yaudah biarin istirahat dulu aja, nanti malem dia ada session lagi... lu mandi dulu aja sana mumpung tim A belum dateng. Abis ini kita prepare kostum terus briefing bentar kalo tim A udah dateng," ujarku sambil memastikan settingan kamera sudah sesuai. Maya hanya mengangguk sambil tersenyum lalu kembali turun menuju kamar mandi sedangkan aku masih memastikan semua settingan sudah sesuai dengan kebutuhan nanti malam. Setelah yakin semua sudah sesuai termasuk dua kamar untuk client private session malam ini, aku turun untuk menunggu kedatangan Tim A.
"Ndomm, mau makan apa?" kudengar suara Maya yang baru selesai mandi dan hanya berbalut handuk warna putih.
"Ayam goreng aja sih yang spicy, sama cheese burger deh," jawabku.
"Okedeh,"
"Si Anggun udah bangun belom? Sekalian tawarin makan tuh biar ada powernya."
"Udah kok ini tadi mandi bareng tapi dia masih belum kelar masi pengen berendem katanya," jawab Maya sembari asyik mencari diskonan untuk order delivery food.
KAMU SEDANG MEMBACA
He(ll)aven
Non-Fictionini yang namanya surga dunia? atau malah neraka? harus berusaha bertahan atau malah harus segera pergi?
