Kini aku duduk di ruang tamu sebuah villa yang cukup mewah di daerah Seminyak Bali. Aku menginjakkan kakiku di pulau Bali bersama mami Lisa pagi tadi dan langsung dijemput oleh supir pribadi Madam El menuju villa ini. Sebuah Villa dengan bangunan yang cukup mewah dan dengan penjagaan yang bisa kubilang cukup rapat. Setidaknya ketika aku masuk tadi sudah kulihat 6 orang bodyguard yang berjaga-jaga di area villa ini.
"Hai, apakabar?" aku dikagetkan dengan suara seorang lelaki yang menyapa kami.
"Luar biasa baik, ternyata anda bisa bahasa Indonesia," jawabku sambil menjabat tangan lelaki yang tampak sudah separuh baya tapi masih mempunyai tubuh yang tegap dan lumayan kekar. Disebelahnya berdiri seorang perempuan yang sangat cantik ikut menjabat tanganku dan juga Mami.
"Oh kami pernah tinggal di sini lebih dari lima tahun jadi sedikit banyak saya bisa bahasa Indonesia. Perkenalkan saya Xavier dan ini istri saya Helena," mereka mencoba memperkenalkan diri.
"Saya nggak perlu memperkenalkan diri lagi kan ya, dan ini Bide," Mami mencoba mencairkan suasana lalu memperkenalkanku kepada mereka. Sejenak kulihat mereka saling memandang setelah melihatku.
"Oh ini Bide, that's your choice baby?" tanya Xavier yang dijawab dengan anggukan dan senyum simpul dari istrinya.
"Oke, jadi Bide menerima tawaran dari kami untuk forest hunt event ya?" Imbuhnya lagi.
"Tentu saja saya menerimanya, itu alasan saya kemari," jawabku.
"Santai saja... jangan terlalu tegang. Panggil saja saya Xavier," ujarnya untuk melumerkan suasana. "Oke baiklah, saya siapkan berkas yang diperlukan dulu sebentar," lanjut Xavier yang kemudian beranjak meninggalkan kami.
"Tunggu sebentar ya, saya siapkan cemilan dulu supaya lebih asik ngobrolnya," istrinya malah ikut meninggalkan kami di ruang tamu. Aku yang merasa masih sedikit tegang hanya bisa duduk diam dan sesekali menengok ponselku yang tidak ada notifikasi sama sekali sedari tadi.
"Nggak usah tegang Ndom, santai aja," Mami mencoba menenangkanku.
"Segalanya tiba-tiba berasa berjalan terlalu cepat dan malah bikin gugup," jawabku sekenanya.
"Beliau tadi Mr. X yang bikin event Forest hunt, dan istrinya itu tadi Madam El."
"Itu tadi madam El?" tanyaku sedikit kaget.
"Iya... kenapa emang? Coba tebak berapa umurnya?" Mami sedikit Menggodaku.
"Dia istri muda ya? Mungkin 28 tahunan atau awal 30an sih kayanya," aku mencoba menebak.
"42 tahun," jawaban Mami mengagetkanku. Aku tak percaya dengan jawaban itu. Madam El terlihat sangat jauh lebih muda daripada angka yang diucapkan mami. Bahkan menurutku Madam El dipakaikan seragam SMA pun tidak ada yang sadar kalau dia sudah setua itu.
"Yakin itu umurnya segitu?" tanyaku masih tidak percaya.
"Yakin lah, Lakinya sekaya ini mau minta perawatan apapun jelas bisa dilakuin lah," jawab Mami santai.
Madam El kembali ke ruang tamu membawa beberapa bungkus keripik dan juga satu mangkuk besar salad buah lalu mempersilahkan kami menikmati hidangan yang ada. Dihidangkan pula beberapa botol minuman bersoda dan juga alkohol untuk menemani cemilan yang ada. Aku yang masih tidak percaya malah membandingkan Madam El dan Mami Lisa. Bahkan mami jadi nampak lebih tua walaupun umurnya masih belum sampai 40 tahun. Aku berulang kali memandangi Madam El sembari mengobrol dan menikmati cemilan yang dihidangkan karena masih tidak percaya.
"Can you come with me for a moment, Bide?" terdengar suara Xavier dari ujung ruang tamu.
"Yap," jawabku lalu segera berjalan mendekat mengikutinya menuju ruang kerjanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
He(ll)aven
Non-Fictionini yang namanya surga dunia? atau malah neraka? harus berusaha bertahan atau malah harus segera pergi?
