"Mas Gusti!!!"
Ada suara yang mengagetkanku di sore ini. Di hari yang cukup tenang rencana kuhabiskan sore ini di area Epicentrum Kuningan sembari jogging setelah dealing ke konsumen untuk event wisata ke Jogja. Aku memang sengaja untuk tidak ikut pulang ke kantor bersama Mami dan juga Maya agar bisa menikmati jogging sembari bersantai di perjalanan menuju senja ini.
"Mas Gusti!!!"
Sekali lagi ada suara memanggil namaku. Sejenak aku berhenti dan mencoba mencari sumber suara itu. Sepertinya aku taka sing dengan seorang perempuan yang memanggil namaku itu. NIla!!! Itu Nila... keponakan Alex sahabatku di Jogja.
"Mas Gusti ngapain disini? Tak panggil dari tadi ra krungu(nggak ndengerin)..."
"Lha yo Jogging tho Nil cenil... mosok ya ngrombeng(jadi pemulung)," jawabku sambil menjabat tangannya yang langsung dicium ditempelkan ke dahinya.
"Owalahhh... Mas Gusti tinggal di deket sini po? Kok kayane baru sekali ini aku liat Mas Gusti di daerah sini."
"Enggak... aku tadi ketemu klien di sana terus sekalian aja pulang bisa jogging dulu," jawabku sambil menunjuk Epiwalk.
"Lho iya tho... aku juga kerja di dalem situ lho, kok tadi nggak liat Mas Gusti di sana." Nila tampak antusias sambil membuka jaketnya dan menunjukkan logo di seragamnya. "Abis ini mas Gusti mau kemana?"
"Nggak ada rencana lagi sih, paling cari makan aja abis ini terus pulang. Lha kamu pulang kemana?" tanyaku lagi.
"Aku ngontrak di deket sini mas, cuma dibelakang situ kok, mampir ya nanti makan malem sama aku aja... ya ya yaaa..." Nila mencoba merayu.
"Lha kowe numpak opo? (kamu naik apa?)"
"Aku bawa motor kok mas, nanti kita bisa motoran kemana-mana terserah mas Gusti wesss," rayunya lagi.
"Yawes sana pulang dulu, aku mau jogging dulu... kan makan malem e masih nanti,"
"Ah nanti aku pulang mas Gusti trus bablas menghilang... Mas Gusti suka e gitu..."
"Ora Nilll, aku mau Jogging dulu ini lhoooo. Tujuan utamaku kan memang mau jogging di sini."
"Emoh pokok e... nggak mau pulang nanti ndak ditinggal sama mas Gusti."
"Nyoh bawa'en tasku sak isine nyoh... biar yakin nek nggak bakal tak tinggal pulang. Joggingku malah enteng kalo nggak bawa ransel" jawabku mencoba meyakinkan.
"Lha hapene?"
"Yo tak bawa tho ya. Nanti piye nyariinnya kalo aku nggak bawa hape?"
"O iya ehehehehe. Ya udah tak mandi dulu sekalian biar pas maem nanti udah wangi," jawabnya sambil langsung ngeloyor membawa pergi tas ranselku.
Aku hanya geleng-geleng kepala sambil melanjutkan tujuan utamaku yaitu jogging. Sambil mengenakan TWS, kunyalakan playlist spotifyku untuk menemani langkahku sore ini. Aku harus mempersiapkan kebugaranku untuk event Forest hunt yang kian mendekat. Setidaknya tubuh ini kuat untuk menyusuri 'hutan' yang bahkan aku sendiri tidak bisa membayangkan akan seperti apa bentuknya besok. Sepulangku dari Bali kemarin memang ku fokuskan tubuhku untuk mengembalikan kebugaran yang sudah lama kuabaikan. Setidaknya hari ini aku bisa menikmati pemandangan yang berbeda dari rute jogging tiap soreku di area apartemen.
Senja mulai menyeruak ketika ada sebuah panggilan telepon masuk. Lagi-lagi dari Nila yang mungkin sudah mulai mencari keberadaanku. Kuhentikan langkahku dan mencoba mengangkat panggilan telepon itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
He(ll)aven
Nonfiksiini yang namanya surga dunia? atau malah neraka? harus berusaha bertahan atau malah harus segera pergi?
