"Bikinin gue mi rebus donk May, rasanya pengen makan yang ada kuahnya," pintaku ke Maya. Aku kembali mencoba fokus dengan layar untuk memantau keadaan lantai atas sedangkan Maya bergegas ke dapur untuk memasak mi rebus untukku. Aku mencoba mencari berkas catatan skenario yang dipersiapkan untuk malam ini. Kubaca lagi catatan berkas itu dari awal. Ada catatan identitas dari client. Richard dan Marry pasangan dari Australia sedangkan pasangan dari Singapura Javier dan Emma. Mami memang cukup detail dalam membuat catatan berkas bahkan ada note tentang waktu dan durasi untuk setiap sesinya.
Kulihat masing-masing kamar yang sudah sangat sibuk dengan skenarionya masing-masing. Kulihat Ratna yang memaksa Emma untuk melakukan blowjob kepada Javier yang sudah telanjang dan terikat dan duduk di kursi. Sedangkan Lee asyik menghajar anal Emma dengan batangnya. Ratna membuka blindfold Javier agar dia bisa melihat pasangannya diperkosa analnya oleh Lee. Emma ditarik menjauh sambil tetap disodok oleh Lee sambil dipaksa menegakkan badannya. Ratna dengan cekatan menjejalkan vibrator ke dalam liang vaginanya untuk menambah siksaan yang ada. Samar terdengar suara tangisan Emma yang dikeroyok dua orang dari microphone yang terpasang di kamar dua. Ratna semakin liar dengan menjejalkan dildo ke mulut Emma yang membuat suara tangisannya semakin parah sembari tersedak berulang-ulang.
Sedangkan di kamar satu terlihat jauh lebih santai, Nampak Marry sedang menikmati pegging ke pasangannya sembari Mami Lisa asyik memainkan leather Whipnya ke punggung Richard. Sedangkan putra dan Cela melakukan pertunjukan 'scene' didepan mereka yang memang suka menonton sembari melakukan sesi.
Sejauh ini masih sesuai dengan skenario yang dipersiapkan pikirku. Setidaknya masih ada sekitar satu jam lagi sampai pada sesi bersama di ruang tengah sebagai arena 'penjagalan' nanti.
"Mau disuapin sekalian Tuan?" Maya datang sambil membawa semangkuk Mi rebus yang masih panas.
"Nggak usah... taruh aja dulu di meja biar agak dingin," jawabku.
"Masih mikirin tentang forest hunt?"
Aku hanya mengangguk mengiyakan. Pada dasarnya tidak ada ruang untukku menolak forest hunt. Bagaimana tidak? Bahkan Madam El, yang notabene adalah istri dari pemilik event forest hunt yang memilihku. Menolak bisa saja malah aku yang akan menjadi buruan mereka berikutnya. Fee yang dijanjikan pun luar biasa angkanya dan memang benar kata Maya, kesempatan nggak akan datang dua kali.
"It's okay Ndom, semua akan baik-baik saja," Maya kembali memelukku yang kembali melamun. "Ini kesempatanmu untuk bisa jauh lebih besar bahkan bisa melampaui mami kelak," imbuhnya lagi.
"Gue nggak pengen lebih jauh dari ini May, ini pun sudah terlalu jauh buat gue," jawabku.
"Tapi ini kesempatan besar yang nggak mungkin bisa lu lewatkan begitu saja."
"Iya sih... memang ini kesempatan yang bisa mengubah jalan cerita hidup gue kelak... entah menjadi lebih baik atau malah sebaliknya."
"Dengan fee sebesar itu sih iduplu bisa kaya surga Ndom"
"Atau malah Shortcut menuju neraka May," jawabku.
"Kok lu bisa ngomong gitu sih Ndom?"
"Lu tau kan 1 aturan terpenting dari forest hunt?" aku balik bertanya ke Maya.
"Apa itu? Setau gue cuma jangan sampai mati..."
"Nah itu dia..."
"Kan itu artinya cuma elu nggak boleh menyiksa sampai mati kan?"
"Aturan itu mengikat dua arah May... pemburu tidak boleh menyerang mangsanya sampai mati tapi juga jangan sampai si pemburu mati..." aku mencoba menjelaskan. "Jadi buruan pun bisa melawan dan bebas menyerang untuk mempertahankan diri. Dengan kata lain ini bukan sekedar berburu tapi juga bertarung," imbuhku lagi.
"Tapi dari segi fisik dan skill sih gue yakin Ndom mampu lah ikutan event ini."
"Ya memang dari segi skill dan fisik pun gue yakin mampu tapi lu tau nggak siapa yang jadi buruan gue besok di forest hunt?"
"Siapa emang?" Maya mulai penasaran.
"Madam El."
"He??? Beneran itu?" Maya kaget mendengar jawabanku.
"Beneran lah... istri dari penyelenggara event sekaligus pemilik pulau yang harus gue buru besok... salah dikit tamat lah gue," jawabku ketus.
Tiba-tiba ponselku berdering dan nampak panggilan dari Mami Lisa. Ternyata sebentar lagi sudah akan masuk ke sesi ruang tengah. Aku segera menyalakan lighting yang tadi sudah kupersiapkan dan ternyata Anggun juga sudah bersiap di sana. Satu persatu pasangan digiring menuju ruang tengah untuk sesi puncak dangan tambahan Anggun yang akan menjadi sajiannya.
Aku hanya mengamati dari layar sembari menikmati Mi rebus buatan Maya yang sudah mulai dingin. Maya pun juga hanya duduk terdiam di lantai sambil memeluk kakiku tanpa berkata apapun lagi. Mungkin dia pun ikut memikirkan nasibku andai aku menerima tawaran Forest hunt itu. Sesi 'penjagalan' yang sedang berjalan nampaknya cukup seru. Tim A memang sudah cukup berpengalaman untuk melakukan sesi-sesi seperti ini. Mereka memang salah satu tim andalan dari mami untuk melayani client-client VIP. Nampak Anggun yang sedang 'diperkosa' oleh Richard dan Javier yang memang dipaksa untuk merudapaksa Anggun. Terlihat Marry yang nampak tertawa girang sedangkan Emma ikut menyiksa Anggun dengan melakukan felatio ke Anggun.
Night Session kali ini bisa dibilang sukses karena tidak ada masalah berarti apapun yang terjadi di tiap sesinya. Semua mengalir dengan baik dan setiap personel yang terlibat telah melakukan perannya dengan maksimal. Setelah sesi 'penjagalan' selesai, maya dipanggil ke atas untuk membantu membenahi dan merapikan semua tools yang sudah berantakan di ruang tengah. Sebetulnya akupun juga dipanggil untuk ikut naik keatas agar bisa bercengkrama dengan para client sebelum mereka beristirahat tapi aku menolak dan lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan file rekaman dari beberapa kamera yang sudah terpasang. Setelah sejenak bercengkrama sembari cooling down di ruang tengah, mereka semua beristirahat di kamar mereka masing-masing yang telah disediakan. Termasuk Tim A dan juga Anggun sedangkan Mami dan Maya akhirnya turun dan menemuiku.
"Ndom kenapa? Tumbenan ga mau kalo diajak ngumpul?" Mami menyapaku sambil mengelus kepalaku.
"Ngga papa kok," jawabku sedikit cuek.
"Nggak biasanya lho kamu kaya gini Ndom... cerita sama Mami sini."
"Galau Forest Hunt itu Mi," tiba-tiba Maya ikut menyambar pembicaraan.
"Galau kenapa lagi sih? Kesempatan besar lho ini, masak iya bakal dilewatin?" tanya Mami lagi.
"Gue takut..."
"Apa yang ditakutin? Aku yang bakal ngejamin semuanya aman dan feenya akan dibayar full," giliran Mami yang mencoba meyakinkanku.
"Kalo gue mati gimana?"
"Justru kalo kamu menolak sekarang malah bisa jadi masalah besar Ndom, selama Forest Hunt keamananmu dijamin seratus persen supaya eventnya bisa berjalan sukses," Mami mencoba menenangkan. "Minggu depan jadwal kita ketemu sama Mr. X dan istrinya di Bali, kamu bisa baca detil kontraknya Ndom... tenang aja semua aman," imbuhnya lagi.
Aku masih saja belum puas dengan kalimat itu. Aku masih merasa belum ada jaminan apapun atas nyawa dan juga keberlangsungan hidupku kedepannya. Walaupun belum pernah kutemukan track record kematian yang berhubungan dengan forest hunt, tapi tentang keanonimitas dan gelapnya acara ini tetap membuatku merasa setengah hati.
"It's okay Ndom, aku dan Mr. X yang pegang kendali event Forest Hunt kali ini. Aku yang akan menjamin dan jadi jaminan semua akan baik-baik saja," sekali lagi Mami mencoba menenangkan.
"Dan mami bakal berurusan sama gue kalo Ndom kenapa-napa besok!" lagi-lagi Maya menyambar pembicaraan.
Sejenak kami terdiam sambil saling memandang lalu tertawa karena Maya yang sedari tadi bersaha masuk ke pembicaraan kami. Okelah setidaknya aku sedikit lega dan memang harus rela untuk ikut ke forest hunt. Tantangan besar dengan imbalan yang sangat luar biasa yang harus bisa kulewati segera datang. Aku harus mempersiapkan tubuhku agar bisa datang dengan performa terbaik. Hitungan mundur dimulai untuk sebuah tantangan baru.
KAMU SEDANG MEMBACA
He(ll)aven
Não Ficçãoini yang namanya surga dunia? atau malah neraka? harus berusaha bertahan atau malah harus segera pergi?
