"Big deal, sell her. Go to river and sell her."
Terdengar suara dari handsfree yang memberikan request baru. Aku sedikit bingung karena perintah ini melenceng jauh dari skenario awal.
"Ada request dengan bid sangat besar untuk sedikit merubah skenario, ikuti saja Ndom, semua tim sudah dipersiapkan," tiba-tiba suara Mami Lisa terdengar dari handsfree. Sepertinya mereka paham dengan kebingunganku. Aku mengangguk pertanda paham dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Kujejalkan kembali celana dalam ke mulut Madam El yang masih mencoba memuntahkan air kencing yang masuk ke mulutnya dan menguncinya dengan bandana yang kubawa dalam carrier.
Untuk memperkuat ikatan di tubuhnya kubuat simpul boxtie dengan tali dan melilit dadanya berulang sampai memerah. Tak puas dengan itu, kupatahkan dahan sepanjang penggaris lalu menjejalkannya masuk ke dalam liang senggamanya dan mengikatnya dengan tali ke pinggang agar tak bisa lepas. Madam El yang menangis takut malah membuat adrenalinku semakin naik. Kujepit putingnya dengan binderclip yang sempat kuselipkan ke saku carrier dan membuat Madam El meraung kesakitan.
Aku yang semakin menikmati rintihannya menambah rasa sakit dengan mencambuk tubuhnya dengan tali. Kakinya yang masih terikat neckscarf membuatnya tak bisa melarikan diri dari siksaanku dan hanya bisa menangis dan memohon ampun.
"Obey and satisfy me, okay?" kujambak rambutnya dan mendekatkan mukanya kearahku. Madam El menjawab dengan anggukan sambil ketakutan. Kubuka neckscarf yang mengikat kakinya dan memakainya untuk menutup mata Madam El. Kuambil potongan dahan yang mempunyai ujung bercabang mirip huruf 'Y' yang kupakai untuk mengekang leher Madam El dari belakang lalu mengikat tangannya ke batang panjang dari dahan itu dan membuat dahan itu sebagai kemudi dari tubuh Madam El. Tangannya yang terikat mirip strappado ke dahan kemudi akan memaksanya berjalan maju atau kesakitan bila dia melawan.
Dengan tubuh telanjang mata tertutup, mulut tersumpal dan tangan terikat strappado, Madam El harus berjalan mengikuti arah dorongan dahan ke lehernya untuk menuju ke tujuan kami berikutnya yaitu sungai. Jalannya sedikit terhambat karena liang senggamanya yang tertanam batang kayu pendek. Kakinya melangkah sambil berusaha meraba jalan agar tidak tersandung. Tak lama kemudian aku sudah mendengar suara air yang artinya sungai sudah dekat. Aku terus mendorong Madam El sampai dia jatuh tejerembab masuk ke dalam sungai. Tubuhnya yang terikat berusaha meronta-ronta ketika aku menahan kepalanya tetap masuk ke dalam air. Madam El langsung terbatuk-batuk ketika kepalanya berhasil menyembul keluar dari air. Tubuhnya yang putih kini nampak memerah karena bekas lebam dan lecet karena siksaanku tadi. Dengan kasar kutarik dia ke daratan dan membiarkannya tergeletak di situ.
Aku melihat sekitar dan tak jauh dari situ nampak ada tiga orang pemancing yang sedang duduk menanti umpannya ditarik ikan. Dengan santai aku mendekati mereka dan menyapa untuk mengajak mengobrol mereka. Dengan sedikit bercanda aku mencoba menawarkan Madam El untuk mereka dengan sebutan 'daging buruan'. Mereka semakin tertarik ketika menyebutnya 'betina seksi'.
Setelah deal dengan harga yang lumayan tinggi, kubawa Madam El untuk disajikan kepada para pemancing tadi. Layaknya ikan disungai yang dilempari umpan, Madam El langsung disantap dengan beringas oleh ketiga pembelinya. Aku hanya menikmati pemandangan itu sambil duduk di kursi pemancing dan membuka kaleng bekal pertamaku. Tugasku hanya memastikan Madam El tidak mati karena mereka bertiga.
Hari sudah mulai gelap ketika tubuh Madam El yang sudah lunglai ditinggalkan oleh ketiga pemancing yang puas menggaulinya. kuputuskan untuk beristirahat disini untuk malam ini dan baru akan menuju shelter esok hari. Beruntungnya selain membayar dengan uang, para pemancing juga meninggalkan beberapa ekor ikan hasil pancingan mereka untuk kami. Aku mengumpulkan beberapa ranting kayu dan dedaunan kering lalu membuat api unggun sebelum menghampiri Madam El yang masih saja terkulai. Tubuh lemasnya sangat kotor dengan tanah dan juga berbagai cairan lendir yang entah apa saja itu. Kubopong tubuhnya lalu kududukkan di dekat api unggun dan memberinya minum air mineral. Tangannya yang terborgol membuatnya benar-benar tak bisa memberi perlawanan apapun seharian ini.
Kubuka kaleng makanan keduaku lalu menyuapinya perlahan untuk memberinya tenaga. Awalnya dia menolak sambil ketakutan tapi karena paksaanku akhirnya makan bahkan lahap dengan suapanku. Madam El nampak kelaparan karena memang sedari pagi dia sudah lari dan bergumul denganku sampai akhirnya harus melayani tiga pemancing tadi. Selesai makan kubawa dia ke dalam sungai untuk memandikannya. Kugosok setiap detil tubuhnya dengan bandana yang tadi menyumpal mulutnya. Tubuhnya yang tadinya putih kini penuh dengan memar merah dan juga lebam di beberapa tempat. Dia hanya diam dan tampak menikmati setiap sentuhanku yang menjelajah seluruh tubuhnya. Sesekali Madam El tampak mendesah dan menggigit bibir bawahnya ketika aku menyentuh lebam yang muncul. Selesai memandikannya aku langsung melepas semua bajuku dan mandi dihadapannya. Lebam di pinggangku semakin menghitam dan mulai terasa nyeri karena efek pain killer yang mulai menghilang.
"You must pay a lot for this service," ujarku sambil kembali menggendongnya keluar dari air dan mendudukkannya di dekat api unggun untuk menghangatkan diri. Mendengar itu Madam El hanya tersenyum lalu pasrah menyandarkan kepalanya di bahuku ketika kuangkat. Dengan handuk yang ada dalam carrier kukeringkan badan kami sembari menghangatkan diri. Kulepas borgolnya dan mengganti ikatannya dengan bandana ke depan agar dia lebih leluasa dalam bergerak. Kini giliran kakinya yang kuborgol supaya memperlambat langkahnya bila memang akan melarikan diri.
Sekali lagi kusemprot memar di pinggangku dengan pain killer untuk mengurangi rasa sakitnya. Dan dengan masih telanjang aku membawa ikan dari pemancing tadi untuk dibersihkan di tepi sungai. Setidaknya ada ikan yang bisa kami santap untuk mengisi perut malam ini. Beberapa ekor ikan yang siap untuk dibakar di api unggun setidaknya bisa menghemat jatah makanan kaleng yang bisa dimanfaatkan kedepannya. Aku kembali mengenakan handsfree untuk memastikan tetap terhubung dengan server dan tidak lupa mengecek GPS untuk memastikan posisi kami tidak melenceng jauh dari shelter yang menjadi tujuan akhir.
"Thanks for the great show today, you two can take a rest tonight and enjoy sex in this night"
Kembali muncul suara handsfree yang memperbolehkan kami beristirahat malam ini. Artinya tidak akan ada request lagi untuk malam ini dan aku setidaknya bisa tidur nyenyak setelah makan nanti. Kudekati Madam El lalu memeluknya dari belakang. Tangan kananku mengunci lehernya seolah-olah akan kembali menyiksanya. Kudekatkan mulutku ke telinganya sambil berbisik pelan,
"We can rest tonight but you have to serve me first,"
"I will," jawab Madam El sambil tersenyum dan berpura-pura berontak. Aku memasang ring gag ke mulutnya lalu memaksanya untuk melakukan felatio. Puas dengan mulutnya, kutelentangkan tubuh putihnya ke tanah, membuka borgol dikakinya dan langsung menghujam liang senggamanya yang ternyata basah. Kucengkeram lehernya sambil beberapa kali menampar payudaranya agar desahannya bisa semakin parah. Dadanya semakin menegang dan liangnya mencengkeram yang membuat hasratku semakin meluap-luap. Kutarik tubuhnya dan merubah posisi kami menjadi WOT. Pinggulnya bergoyang berirama yang membuat liangnya semakin basah mencoba memberi pelayanan terbaiknya. Salivanya menetes tak karuan karena mulutnya yang terganjal ring gag. Kenikmatan kami mencapai puncaknya ketika kami saling bergantian menggelinjang dan menumpahkan cairan kenikmatan. Sejenak kupeluk tubuhnya agar tetap diam diatasku lalu kubuka ring gagnya agar kami bisa bertukar kecupan.
Kuminta dia menyiapkan ikan bakar yang sudah siap untuk disantap sedangkan aku menyiapkan sleeping bag yang bisa kami pakai untuk tidur dan menikmati malam ini berdua. Aroma ikan bakar menggugah selera walaupun tanpa bumbu selain garam tetap saja sangat nikmat untuk melawan perut yang lapar. Selesai menikmati makan malam kusumpal lagi mulut madam El dengan bandana bersih dan kembali memborgol kakinya lalu menggendongnya menuju sleeping bag.
"Goodnight honey," kukecup keningnya sebelum menutup matanya dengan bandana lalu memeluknya didalam sleeping bag. Setidaknya hari pertama sudah terlewati dan kami harus bersiap untuk hari berikutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
He(ll)aven
Non-Fictionini yang namanya surga dunia? atau malah neraka? harus berusaha bertahan atau malah harus segera pergi?
