Dealing

145 6 0
                                        

Kenapa rasanya agak aneh ya? Keluhku ketika kembali mengambil minuman kaleng dari kulkas dan menenggaknya sembari mengambil beberapa makanan yang bisa mengganjal perutku sambil menyiksa Anne. Sepertinya ada sesuatu yang ditambahkan didalam minuman kaleng ini yang membuat rasanya sedikit berbeda tapi uniknya tubuhku jadi terasa lebih enteng dan segar setelah menenggaknya.

Dengan santai aku berjalan kembali menuju teras depan sambil membawa beberapa cemilan. Tak disangka ternyata Anne memanfaatkan kelengahanku dan pergi melarikan diri. Tanpa panik sedikitpun aku mencoba melihat sekitar dan nampak jejak kaki menuju kearah hutan. tangannya yang terborgol pasti sangat mengganggu pelariannya.

"Time to hunt your prey, You can use any tools you want and do whatever you want. Chase her until you catch him and torture her to death"

Terdengar lagi suara dari handsfree dan yang membuatku tercengang adalah perintah untuk membunuhnya. Heiii aku tidak dikontrak untuk membunuh.

"Whatt??!!! Kill her??!!!" tanpa sadar aku mengumpat seketika itu juga.

"Mind your behavior, everyone see you on the camera live"

"Fuck!!" jawabku sejadinya dan hampir saja aku memilih walk out sampai akhirnya kudengar suara mami Lisa dari handsfree.

"Tenang Bide, keep calm!!! Kejar dan tangkap saja dia, selanjutnya ikuti saja arahanku,"

"Fuck!!!" sekali lagi aku mengumpat dan segera masuk untuk mencari peralatan apapun yang mungkin bisa kugunakan. Di barisan senjata laras panjang kulihat ada satu airgun glock 17 yang kuanggap jauh lebih aman dan lebih ringan untuk kubawa. Segera kupenuhi gas dan pelurunya dan bergegas untuk mengejar Anne. Kumasukkan juga beberapa tali dan kain ke dalam tas carrier lalu segera memulai pengejaran.

Aku cukup beruntung tanah yang basah dan lembek membuat jejak kaki masih terlihat cukup jelas hingga tak lama aku sudah bisa melihat Anne yang sedang berlari dengan tangan yang masih terborgol. Memar-memar yang ada ditubuhnya dan mungkin dia sudah cukup lama terikat di dalam kandang membuat pergerakannya menjadi melambat.

"Stop or I'll shoot you" aku mencoba mengancamnya. Tapi ternyata teriakanku diindahkannya. Sekali lagi aku mencoba memperingatkannya dengan menembakkan airgun glock ke arahnya tapi sepertinya memang tak dihiraukan. Tanpa pikir panjang aku langsung mengincar betisnya.

Bruag!!!

Anne terjerembab kesakitan ketika peluru gotriku tepat mengenai betis kanannya. Betisnya memar dihajar gotri yang melesat dari Glock 17. Aku berjalan dengan santai mendekatinya yang kepayahan berusaha untuk berdiri. Sekali lagi glock menyalak dan peluru melesat dan membuat lubang di tanah dekat kaki kirinya berpijak. Anne yang sudah sempat berdiri akhirnya kembali terjerembab karena kaget.

"Run away one more time and a bullet will pierce your forehead," ujarku yang membuat Anna semakin takut dan terus menggelengkan kepalanya. Tanganku langsung meraih rantai leash yang masih menggantung di collar besinya dan dengan liar menariknya dengan kasar hingga tubuhnya terhempas ke tanah. Tubuh penuh lukanya terkapar di tanah terbalur tanah basah yang tercampur dengan keringat dan airmatanya. Tanpa ampun kuseret tubuhnya yang tertatih kesakitan untuk kembali menuju ke shelter.

Setibanya di shelter kuguyur tubuhnya dengan seember air untuk membuatnya sedikit kebih bersih. Ruam-ruam bekas cambukannya semakin memerah dan sebagian nampak berdarah. Sekali lagi kuguyur tubuhnya untuk memastikan badannya jadi lebih bersih.

"Please forgive me sirr, let me go please," kudengar dia kembali memohon sambil tersengal-sengal ketakutan dan mulut yang masih dipenuhi spons yang menyumpalnya.

"Bid terbesar kali ini adalah menyiksanya sampai mati Bide" tiba-tiba Lisa berbicara lewat handsfree.

"Tapi di kontrak tidak boleh ada kematian dan memang aku tidak mau jadi pembunuh!" jawabku lirih tapi sedikit tegang.

"Tenang Bide, tenang... aku sudah berusaha berunding dengan Xavier. Dan dia sepakat yang penting wanita itu parah dan bahkan 'seolah-olah mati' dan kamu bisa masuk ke step berikutnya,"

"Oke," jawabku. "tapi beri aku sedikit waktu untuk 'make a deal' dengan dia juga supaya semua bisa tetap dalam kendaliku," imbuhku lagi.

"Xavier setuju, tapi sebagai gantinya tubuhmu akan diinject obat yang akan menambah power dan liarnya tubuhmu... semua camera akan close dalam waktu 15 menit, sepuluh menit waktumu untuk make a deal dan lima menit waktu untuk inject obatnya."

"Deal," jawabku dan tiba-tiba seluruh camera dan lighting mati menandakan waktu dealingku mulai berjalan.

Segera kudekati Anne yang daritadi meringkuk ketakutan, membuka sumpal mulutnya dan berusaha membuat kesepakatan dengannya.

"I don't know what contract you agreed to, but my job now is to torture you to death,"

"Noo, I'll pay for all those items and whatever else you ask for, but don't kill me, please...," Anna nampak ketakutan dan memohon belas kasihan.

"I don't want to kill you either, so we need to make a deal. Just do whatever I tell you to do and accept whatever torture I inflict on you. I promise I won't kill you and will make sure you don't die,"

"Please forgive me please..."

"After this, I'm going to be injected with something I don't even know what the effects will be. But I'll do my best to hold on and make sure you don't die. Trust me and do exactly as I say. Oke?"

Sambil gemetar Anne mengangguk mengiyakan. Kembali kusumpal mulutnya agar semua tampak natural. Tak lama setelah itu muncul seseorang yang tak kukenal membawa spuit dan satu ampul cairan mendekatiku dan tanpa berbicara apapun langsung menancapkan suntikan itu di lenganku. Sejenak kurasakan rasa dingin cairan itu masuk ke tubuhku dan mulai mengalir ikut aliran darah lalu tiba-tiba detak jantungku mulai terasa kencang. Belum sempat kutanyakan obat apa ini, mataku lansgsung disilaukan dengan cahaya lighting yang mulai menyala pertanda camera sudah mulai aktif.

"Do your deal"

Kembali kudengar suara dari handsfree sebagai tanda semua kamera sudah kembali live. Kali ini kuseret Anne masuk kedalam shelter dan membawanya ke ruang tengah. Kulemparkan sebuah mangkuk stainless ke arah Anne lalu menuangkan sereal dan susu ke dalamnya. Kulepas sumpalan mulut yang menyumpal mulut Anne dan membenamkan wajahnya ke mangkok berisi sereal dan susu itu.

"Eat that! I don't want you to die before you've finished serving me. You need to have the strength to serve me," ujarku sebelum meninggalkannya dan menuju lemari untuk menyiapkan semua peralatan yang kubutuhkan. Dengan kepayahan karena tangannya yang masih terborgol, Anne berusaha makan layaknya anjing yang menikmati makanan dari mangkuknya.

Perlahan aku mulai merasakan ada yang berubah dari tubuhku. Badanku jadi merasa sangat segar dan hasratku mulai terasa meledak-ledak. Semakin aku mencoba memilih tools, hasratku semakin meledak dan menegang. Tanpa pikir panjang kuhampiri lagi Anne yang masih berusaha untuk makan, mencengkeram pundaknya lalu menjatuhkannya terlentang di lantai.

Dengan liar badanku merangsek ke selangkanya dan memaksanya untuk membukanya lebar-lebar.

"My body is starting to get out of control, so brace yourself," ujarku sembari melesakkan penisku menghujam liang senggamanya.


Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 14 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

He(ll)avenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang