Aku terbangun ketika sinar matahari pagi mulai menyapa. Ternyata cukup dingin untuk bermalam disini ketika hanya berbekal sleeping bag. Aku menggeliat dan memaksa Madam El untuk bangun. Kubiarkan dtubuh terikatnya tetap didalam sleeping bag sedangkan aku beranjak keluar menuju ke sungai untuk membersihkan diri. Lebam di pinggangku semakin gelap walaupun aku sudah mulai terbiasa dengan rasa nyerinya sedang luka dipelipis sudah tidak lagi berdarah. Kubersihkan tubuhku dari sisa-sisa keringat karena pengapnya sleeping bag yang harus kami pakai berdua. Walaupun gerah di awal tapi ternyata rasa hangat itu yang membuat kami bisa melewati dinginnya malam tadi. Selesai membersihkan diri kupakai celana tactical setelah dari kemarin sore bertelanjang badan.
Kupotong botol air mineral untuk merebus air menggunakan sisa perapian api unggun. Dengan sedikit kasar kujambak Madam El sampai terduduk, kubuka sumpalan mulut dan penutup matanya lalu kugendong tubuhnya menuju sungai. Sekali lagi kulemparkan tubuhnya ke dalam sungai setelah sebelumnya sempat kusangkutkan tali ke collar yang melingkar di lehernya.
"Clean yourself up!" teriakku begitu Madam El berhasil berdiri setelah panik tenggelam dalam air karena tangannya terikat dan kakinya terborgol. Dia mencoba membersihkan diri sekenanya dengan menggosok bagian manapun dari tubuhnya yang bisa dijangkau dengan tangan terikatnya. Setelah kurasa cukup kutarik tali yang menambat lehernya dan memaksanya untuk susah payah keluar dari air. Kulepas ikatan kain di tangannya dan juga borgol dikakinya dan membiarkan Madam El mengeringkan tubuhnya dengan handuk lalu melemparinya makanan kaleng untuk sarapan sedangkan aku mulai melipat sleeping bag dan merapikan semua peralatan yang sempat keluar dari tas carrierku. Setelah semua selesai kembali kupakai handsfree untuk bersiap menerima petunjuk selanjutnya sambil kembali melihat GPS untuk mencari letak Shelter yang ternyata sudah tidak jauh dari tempat kami bermalam ini. Terlihat jarak hanya sekitar 5 kilometer yang seharusnya bisa ditempuh tidak sampai satu jam dengan jalan kaki.
"Ready to continue the journey? tie her up and take her to the shelter,"
Kembali muncul suara dari handsfree untuk segera melanjutkan perjalanan. Aku menengok ke arah Madam El yang masih menikmati sarapan kalengannya. Kubiarkan dia menyelesaikan sarapannya dan aku mencoba menikmati sisa ikan semalam untuk mengganjal perutku. Sembari menunggu, kupersiapkan lagi tali, borgol, ring gag, bandana dan kali ini ikut kukeluarkan wireless magicwand untuk sedikit mengganggu Madam El.
"Your time is up," kulemparkan ring gag ke arah Madam El yang masih asyik mengunyah sarapannya. Seolah paham dia segera menelan kunyahan terakhirnya dan meminum air lalu segera memakai ring gag yang kulempar sambil berjalan ke arahku. Begitu sampai didepanku Madam El langsung bersimpuh dan menyodorkan kedua tangannya ke arahku. Dengan cekatan tanganku langsung mengikat erat tubuhnya dan menjejalkan ujung wireless magicwand ke dalam liang senggamanya tak lupa menguncinya dengan simpul yang saling mengait agar tetap bisa tetap tertahan didalam walaupun Madam El berjalan. Kubiarkan kakinya tak terikat agar tak memperlambat perjalanan kami menuju shelter. Kukaitkan leash ke collarnya lalu menariknya untuk mulai melanjutkan perjalanan. Memar di pinggangku semakin gelap dan kembali nyeri ketika aku mulai menggendong carrier.
Perjalanan kami tak lama karena shelter memang tak jauh dari area sungai. Sembari menunggu arahan berikutnya aku menarik Madam El masuk ke shelter. Aku merasa ini bukan shelter tapi lebih mirip dengan villa di tengah hutan. sebuah rumah yang dari luarnya nampak sederhana dengan bangunan yang memang terlihat seperti sudah lama tak dihuni.tapi didalamnya sangat bersih dan terawat.
"Take Madam El to the room and lock the door." Terdengar perintah dari handsfree ketika aku mencoba menjelajahi isi shelter. Sambil celingukan aku mencari kamar yang dimaksud dan menemukan ada pintu dengan kunci yang tertancap pada handlenya. Kuletakkan carrierku dan segera membawa Madam El ke kamar itu. Setelah mengunci Madam El ke dalam kamar sesuai dengan permintaan, aku lalu mencoba menjelajahi ruangan-ruangan yang ada di dalam shelter. Ada sebuah kotak ditengah ruangan yang sepertinya adalah sebuah kandang besi dan nampak ditutupi dengan kain. Samar-samar terdengar seperti suara tangis pelan didalamnya. Dan benar saja ketika kusingkap kain yang menutupinya, nampak ada tubuh perempuan telanjang yang terikat di dalam kandang yang cukup sempit. Terikat hogtied dengan mata yang tertutup kain dan mulut yang penuh tersumpal dan dililit dengan lakban. Mendengar kain yang tersingkap, perempuan itu nampak mencoba berteriak ketakutan.
KAMU SEDANG MEMBACA
He(ll)aven
Non-Fictionini yang namanya surga dunia? atau malah neraka? harus berusaha bertahan atau malah harus segera pergi?
