Dua bulan berlalu sejak Dayi diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Entah banyak yang berubah atau banyak sekali yang berubah. Masih sering mengelus perutnya yang sekarang sudah kosong, juga hatinya yang ikut menjadi kosong.
Rencana Dayi yang awalnya mengambil cuti kuliah untuk kelahiran putranya akhirnya dia batalkan. Dayi memilih untuk kembali berkuliah demi untuk menjaga kewarasannya yang semakin menipis. Tidak tahu, rasanya hanya dia semakin ingin pergi dari dunia ini. Dunia yang baik ini seperti ingin seklai Dayi tinggal lari, menjauh ke langit menyusul Kakak Ar yang sangat dia rindukan.
Semuanya berubah. Semua orang terutama Ayah Ghani menjadi sangat baik pada Dayi. Dunia ini menjadi sangat ramah pada Dayi. Keinginan kecil Dayi tentang hubungan Ayah dan anak seperti dalam cerita bahagia terwujud. Harusnya dia senang, harusnya. Tapi entahlah.... Hatinya seperti ikut terkubur dalam pusara putranya yang belum sempat dia rengkuh sama sekali. Jika dulu keluarganya yang menjadi tumpuan, sekarang berbeda. Dayi menggantungkan hidupnya pada Jeff sekarang, jika bukan karena ditemani prianya itu setiap hari mungkin Dayi sudah memilih melompat dari lantai gedung apartemennya.
Dayi mencoba hidup sekalipun sulit sekali rasanya, padahal bukan hanya dia yang kehilangan, padahal bukan hanya dia orang tua Kakak Ar. Bukannya Jeff juga sama? Bukannya Jeff juga kehilangan putra pertamanya? Bukankah Jeff juga sama ditinggalkan? Iya memang seperti itu, tapi entahlah Dayi hanya tidak mampu keluar dari lingkaran setan yang menyesakkan ini, dia seolah sengaja menenggelamkan hatinya disana. Berkubang dalam kesedihan kemudian berlarut-larut sendirian.
Dayi baru saja menyelesaikan kelasnya, kelas terakhir untuk hari ini. Ada Arsyi yang sedang bersamanya sekarang menemani menunggu Jeff untuk menjemput. Tiga teman Dayi jadi semakin menempel kemana-mana, tentu karena kabar duka dari bungsu palsu geng mereka. juga pasti dari permintaan Jeff untuk membantu Dayi. Dengan seneng hati mereka melakukannya, mereka melihat sendiri seberapa banyak Dayi berubah. Dayi yang mereka kenal sebelumnya sudah memiliki lukanya sendiri, Dayi yang mereka kenal sudah sering terlihat sendu, sudah sering menatap sedih. Tapi Dayi yang sekarang jauh lebih menyedihkan daripada yang mereka tau sebelumnya. Mereka jadi tau seberapa banyak Dayi pernah bahagia namun ternyata dihempas juga.
"Main ke apart ku sih Kak.... Sepi tau kalo Mas Jeff lagi lembur gitu" bibir tebal Dayi manyun dengan lucu.
"Mana bisa sih? Salahin suamimu itu yang suka uring-uringan sama Vino sam Anan, ntar kalo si Jeff Jeff itu udah nggak emosian sama mereka barulah itu kita bisa main juga..."
Dayi terkekeh kecil. Memang Jeff lebih tua jauh dari mereka semua, tapi karena ketiga temannya ini seperti punya dendam pribadi pada suaminya mereka jadi memanggil Jeff dengan sebutan seperti itu 'Si Jeff Jeff itu' dan lagi Jeff memang juga seperti sangat antipasti pada Vino dan Anan karena mereka berdua dianggap membahayakan posisinya sebagai pasangan Dayita. Jeff menilai Vino dan Anan terlalu dekat pada Dayi sedangkan mereka berdua merupakan Alpha juga sama seperti dirinya.
"Yak an tadi aku bilang pas Mas Jeff lembur Kak... sepi tau sendirian di rumah begitu, bikin mood jelek..."
Ada hening sesaat saat Arsyi menyadari riak sendu dari mata Dayita. Anak itu jujur soal dia yang bisa tiba-tiba moddnya buruk karena harus sedirian di apartemennya. Tidak ada orang yang akan membantunya menjauhkan pikiran buruk dan suasana hati menyebalkan miliknya.
"Ya oke asal suamimu itu pas lagi nggak di rumah ya.... Pastiin dia lembur dulu...."
"Iya iya.... Dendam banget kayaknya kalian sampe nggak mau senbut nama gitu, najis kah nama suamiku?"
"Emang iya..."
"Halahh.... Padahal kalian tiap disogok juga mau-mau aja kan kalian?"
"Kok tau?" jujur yang ini Arsyi terkejut.
KAMU SEDANG MEMBACA
VION
Fiksi Penggemarjika ada hari esok yanglebih baik dan kau bisa membawaku kesana, aku ikut denganmu ~Dayi dia terpaksa tumbuh dengan tekanan kuat dari seorang Alpha, terpaksa tumbuh menjadi seorang yg ketakutan pada para Alpha, tapi malam itu dunia seperti sengaja m...
