jika ada hari esok yanglebih baik dan kau bisa membawaku kesana, aku ikut denganmu ~Dayi
dia terpaksa tumbuh dengan tekanan kuat dari seorang Alpha, terpaksa tumbuh menjadi seorang yg ketakutan pada para Alpha, tapi malam itu dunia seperti sengaja m...
Dayi kira dia akan menangis meraung-raung, atau setidaknya mengis sangat keras tadi. Tapi ternyata tidak, hanya sekali air matanya menetes lalu tidak terjadi apa-apa. Dayi sedikit bingung juga soal itu. Tapi apa lagi memang? Nyatanya dia tidak menangis. Dibanding sakit hati Dayi lebih merasa terkejut tadi.
Kakak iparnya mengantarnya sampai ke apartemen, memastikannya tetap baik-baik saja dan tidak dalam keadaan buruk untuk ditinggal sendirian. Dayi sudah mengatakan dia baik-baik saja tau setidaknya dia bisa menjaga diri sambil menunggu suaminya kembali ke apartemen mereka. tentu Jeanneth tidak percaya, dia bahkan menawarkan untuk mengantarkan Dayita pulang ke apartemen lamanya atau rumah utama keluarganya mengingat buhungannya dengan Tuan Ghani sudah membaik sekarang. tapi Dayi menolak, akan menjadi tanda tanya besar dan malah jadi masalah baru jika Dayi pulang sekarang. setidaknya dia harus menyelesaikan dulu masalahnya ini dengan pelaku utama pembuat masalah.
Dayi tidak tau apa yang sebenarnya dia rasakan sekarang. tapi lebih dari apapun ada sesuatu yang menyakitkan walau tidak benar-benar sakit rasanya. Ada perasaan kosong dalam sudut hatinya tapi Dayi sendiri tidak benar mengerti apa dan bagaimana. Regulasi emosi yang buruk. Dayi pernah membaca artikel tentang dampak mental yang dirasakan oleh seseorang yang diselingkuhi. Itu soal harga diri yang terluka dan perasaan dikhianati yang menyiksa. Mungkin Dayi sedang merasakan hal seperti itu tapi belum dalam tahap yang parah, mungkin nanti, entahlah.
Sekarang baru pukul 15, masih ada dua jam lagi sebelum waktu pulang Jeffrian. Tapi sekarang Dayi sedang tidak punya kesabaran untuk menunggu hingga selama itu jadi Dayi mengirim pesan dan mendesak suaminya untuk pulang sekarang juga. Sekarang benar-benar rumah tangganya yang sedang dipertaruhkan. Dan benar saja tidak sampai tiga puluh menit Dayi menunggu Jeffrian datang,
Dengan satu buket bunga peoni putih bersamanya.
"Kenapa? Tumben banget minta Mas pulang cepet..." laki-laki itu tersenyum, meletakkan bunga yang dia bawa didepan istrinya. Dayi memilih untuk duduk di meja bar dapur mereka. Jeff mencium sekilas pipi Dayita. "Kenapa Sayang, hmm?"
Dayita masih enggan bersuara, tidak, maksudnya dia sedang menyusun kalimat didalam kepalanya. Oh, apakah yang dipanggil sayang itu dirinya? Apa panggilan itu benar-benar diperuntukkan padanya selama ini? Bukan orang lain? Bukan untuk seseorang yang kebetulan mukanya mirip dirinya? Apa panggilan itu memang diberikan untuk dirinya? Oh, apakah suaminya bahkan melihat dirinya adalah orang itu selama ini? Tidak tahu, tapi Dayita tidak bisa menghilangkan perasangka buruk itu sekarang.
"Kamu punya galeri di apartemenmu Mas?"
Dan seketika raut muka suaminya itu menegang. Dayi mendengus tanpa bisa dicegah, sudah jelaslah sudah semua pertanyaan dan rasa penasarannya dari tadi.
"Kamu masih suka sama Airi mantan kamu itu?" sepertinya suaminya ini memang cukup pengecut, dia bahkan tidak langsung menjawab cukup lama.
"Ayi..." Jeffrian sesungguhnya juga tidak tahu apa yang akan dia katakan setelah memanggil nama istrinya itu.
"Sekali ini aku tanya dan kamu harus jawab, kamu masih menghubungi dia Mas?"
Dan Jeffrian mengangguk patah-patah.
Dayita menemukan jawaban. Dia mengangguk mengerti. "Aku ambil bunganya Mas, aku pulang dulu ke rumah keluargaku.... Kita jangan ketemu dulu."
Dayi pergi bersama bunga peoni dari Jeffrian. Meninggalkan laki-laki itu terpaku sednrian oleh masalah dan isi kepalanya sendiri di dapur apartemen mereka. Sekarang Dayi tahu kenapa saat kembali dari pernikahan Jonathan dan Hayi dan seterusnya suaminya itu selalu memberinya bunga peoni, dan selalu peoni putih. Sebuah permintaan maaf. Suaminya selama ini dengan sadar melakukan semua itu kepadanya.
Saat Dayi keluar dari apartemennya, Jonathan dan Bapak ada didepan pintu, wajah mereka terlihat gusar. Mereka berhenti saat melihat Dayi akan pergi. Jonathan memilih untuk melanjutkan langkahnya kedalam sedangkan Bapak mendekat pada Dayita. Laki-laki gagah itu menatap Dayita dengan tatapan yang tidak bisa Dayita jelaskan, mertuanya itu terlihat sedih.
"Ayi..." panggil Bapak pelan.
"Ayi mau pulang dulu Bapak... kami selesaikan ininanti lagi, Dayi mau pulang dulu sebentar" Dayi tidak bisa mencegah air matamenggenang dipelupuk, mata cantik itu berkaca-kaca. "Maafin kami ya Pak...."Tidak ingin menunggu, Dayita memilih untuk pergi saat itu juga.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ayo gebukin Jeffrian part II. anak secantik ini kok dibikin nangis, kan goblok. mana..... itu tadi dia cupu banget nggak sih ngangguk doang begitu diakhir 😭jujur habis dibaca ulang Vero emosi sendiri. pokoknya AYO GEBUKIN SI JEFF JEFF INI!!!
selamat membaca semuanya, makasiiiiiih.... ini book kenapa loyo banget anjrot?! makin kesini makin dikit aja yang ngebintangin. nggak laku kah ini cerita??? kesel jujur 🔥