"Ayah, bisa kita pergi dari sini? Kita pidah.... Semuanya?"
Itu peratma kalinya Dayita meminta pada Ayah Ghani nya. Dengan air mata berlinangan, dengan tatapan keputusasaan, dengan raut terluka yang sangat jelas dari mata kecoklatan indah itu.
Mami Rini juga disana, memeluk bungsunya yang sedang memohon pertolongan pada ayahnya. Hal yang baru pertama kali ini terjadi.
Dan siapalah mereka semua untuk tidak mengiyakan permintaan Dayi mereka. Dayita mereka yang jarang sekali meminta sesuatu kecuali ditawari, Dayita mereka yang selalu menerima tanpa protes sedikitpun, Dayita mereka yang selalu saja tersenyum seklaipun dalam hatinya remuk redam tidak karuan.
Dan begitulah semua dari keluarga Wijaya pergi dari negaranya, duduk didalam pesawat pribadi menuju salah satu rumah mereka di Russia, rumah yang dulu pernah ditinggali kakek dan neneknya. Dayi tidak peduli kemana mereka akan pergi, yang dia mau sekarang hanya pergi sejauhnya untuk menenangkan diri dan jika perlu menetap untuk menyembuhkan luka.
Dayi masih terus diam, banyak melamun menatap kosong kemana saja. Semuanya juga tau bungsu mereka terluka dan tidak sekarang untuk menghiburnya. Biarkan sekarang Dayi beristirahat, semua juga tau bisa jadi kepalanya sangat berisik menyuarakan berbagai macam hal yang tidak seorangpun pahami bahkan mungkin oleh Dayita sendiri.
Raynar sudah hampir mengamuk mengetahui kejadian buruk yang mengejutkan ini. Tapi siapa sangka jika Ardan lah uyang jauh lebih meledak emosinya. Dia belum sempat melihat Dayita saat dirinya pergi terburu mencari adik ipar –jika masih bisa dianggap begitu- nya. Menghajar dengan membabi buta, tidak membiarkan Jonathan maupun Tuan Andy melerainya. Ardan marah sekali bahkan menghajar Jeffrian dengan sambil menangis.
"Sayang mau minum sesuatu? Atau makan?"
Itu suara Mami Rini, sejak pesawat meleka lepas landas Dayita hanya melamun menatap keluar jendela, sesekali dia akan memeluk ibunya dan menyembunyikan wajahnya dileher ibunya. Dayi benar-benar tidak bersuara sejak tadi tapi dia juga tidak sedang tidur.
"Enggak... mau gini aja..." Dayi makin mengeratkan pelukannya pada pinggang Rini. Wanita cantik itu kembali mengusap punggung putranya.
Jika ditanya bagaimana maka Rini sendiri tidak tau apa jawabannya. Rini pernah mengkhawatirkan hal semacam ini sebelumnya dan kali itu Dayi menjawab dangan meyakinkan bahwa Jeffrian membahagiakannya, merawatnya dan Dayi percaya pada laki-laki itu. Tapi hari ini ketakutannya menjadi nyata, anak itu mengkhianati putranya. Dayinya kembali terluka tanpa bisa Rini selamatkan hatinya terlebih dulu. Jika ditanya juga apakah Rini menyesal tentang pernikahannya, jawabannya adalah dia menyesal sekarang. Tidak apa jika saat itu dia harus mengurus cucunya yang dikandung Dayita waktu itu tanpa ada pertanggungjwaban dari siapapun.
Tapi.... Tapi sekarang apa gunanya semua penyesalan itu? Jika hari ini hati putranya sudah tidak lagi bersisa maka yang harus dia lakukan sekarang adalah menyembuhkan hati putranya, mengisi kembali kehidupan putranya dengan hal lain yang membuatnya lebih baik. kepindahan mereka kali ini adalah awal baru, kesempatan bagi semua anggota keluarganya untuk memperbaiki sikap pada bungsu mereka yang sudah lama terluka. Ini adalah kesempatan mereka untuk memulai semua yag baru bersama.
Mungkin memang benar ini juga rencana tuhan untuk memperbaiki keluarganya.
Segalanya akan mereka tinggalkan di negara mereka, lalu memulai yang baru ditempat kakek nenek Dayi juga memperbaiki hidup dan menulis lembaran baru. Cerita kembali terulang, dan mereka akan menulisnya dengan cerita yang lebih baik. Dami Dayita mereka. Demi permata mereka yang mereka cintai, seseorang dengan wajah yang mirip wanita hebat dikeluarga mereka, Wirasati Widuri.
KAMU SEDANG MEMBACA
VION
Fiksi Penggemarjika ada hari esok yanglebih baik dan kau bisa membawaku kesana, aku ikut denganmu ~Dayi dia terpaksa tumbuh dengan tekanan kuat dari seorang Alpha, terpaksa tumbuh menjadi seorang yg ketakutan pada para Alpha, tapi malam itu dunia seperti sengaja m...
