Musim semi sudah datang, tapi dingin musim salju masih terasa. Dayi merapatkan mantelnya, senyum muncul begitu saja diwajahnya. Ah sudah berapa lama dia tinggal di Russia? Sepertinya sudah lama sekali dan hari ini adalah hari jadi pernikahannya dengan Jeffrian yang kedua. Yang bahkan ulang tahun pernikahan mereka yang pertama pun Dayita sudah berada disini. Baru satu tahun menikah waktu itu dan dia sudah kabur hingga sejauh ini.
Dayi sedang berada di toko bunga bersama Ardan, tidak tau apa yang membuat kakaknya itu tiba-tiba mengajaknya dengan ucapan Kakak beliin bunga hari ini, kamu bebas pilih. Entah sejak kapan Dayi menyukai bunga yang pasti saat Ardan melihat ketertarikan adiknya itu dia suka tiba-tiba membelikan Dayita bunga.
Ngomong-ngomong semua dari keluarganya berubah, semua orang dikeluarganya sekarang bekerja. Kakak Ardan menjadi bawahan Ayah sedangkan Abang Raynar bawahan Mami, hanya Dayi yang bekerja secara mandiri, wah keren sekali kan, kalian harus memberi Dayi sebuah pujian yang menyanjung. Dia ini pengusaha aksesoris dan perhiasan yang merintis dari nol, kalian harus bangga pada Ayi, hehe...
Kembali pada Dayita di toko bunga sekarang, dia sedang melihat-lihat ingin bunga yang mana untuk dibawa pulang. Ardan sediri sedang melihat-lihat hal yang sebenarnya tidak terlalu menarik dimatanya, biarkan Dayi memilih, anak itu suka lama. Dayi berhenti didepan satu bunga, sejak terakhir kali bertemu dengan Jeffrian, Dayi jadi membenci bunga Peonni putih. Dayi merasa dikhianati dan bunga harum itu seperti semakin mengejeknya. Tangannya terasa gatal ingin merusak satu tangkai bunga itu tapi buru-buru Dayita pergi dari depan bunga itu, dia tidak boleh membuat masalah disini.
Dengan terburu-buru Dayi mencari bunga lain yang bisa mendistraksi emosinya tapi tiba-tiba seseorang menarik lengannya, menarik Dayita untuk memandang orang itu. Ya tuhan siapa sih ornag seenaknya begitu?.
Tapi demi tuhan Dayi tidak pernah berharap akan bertemu orang ini sekarang. Sosok tinggi itu membuat Dayita harus mendongak dan bahkan membuatnya menahan nafas tanpa sadar.
"Jeff..." yang Dayi tau adalah dia tidak bisa lagi berbicara, tapi barusan dia yakin suaranya kelur wlaau hanya sebatas bisikan kecil yang entah terdengar atau tidak.
"Ayi...."
Tuhan, panggilan itu...
Jeffrian tau bagaimana kondisi Dayinya, tapi melihat langsung seperti apa ternyata sesakit ini rasanya. Jeff melihat bibir cantik itu menyebutkan namanya tadi, tapi nyatanya tidak ada suara Dayita yang bisa Jeff dengar.
"Ayi, Mas minta maaf...."
Tanpa sadar Dayita menangis, rasanya takut sekali. Dia ingin berteriak, dia ingin menangis keras. Rasanya seperti dalam bahaya besar yang bisa membunuhnya sekarang juga. Dayi ingin lari, tapi tidak bisa. Tubuhnya membeku, habis oleh rasa tidak aman dan takut.
Kenapa? Kenapa ada Jeffrian disini? Kenapa dia bisa sampai kemari? Kenapa dia ada didepanku sekarang?
"Maaf kalau masih tetep bikin kamu nangis Sayang" Jeff menarik tangan kiri Dayi untuk memberikan bunga, membuat Dayi melihat sekilas apa yang diberikan orang itu padanya. "Happy Aniversary Sayang..."
Dayi sudah memejamkan matanya rapat-rapat saat melihat Jeff seperti akan menciumnya, Oh, apakah laki-laki ini masih waras? Dia akan mencium Dayi ditempat dan disaat seperti ini? Setelah semuanya selama ini?.
Sebelum seseorang menarik Jeffrian dan melayangkan satu pukulan keras dipipinya. Tangannya yang masih bertaut dengan Dayita tadi langsung terlepas. Siapa lagi jika bukan Ardan. Dayita ditarik untuk berdiri dibelakang punggung Ardan, menyembunyikan adiknya dari laki-laki menyebalkan yang sangat memancing emosi ini.
Jeff hampir tersungkur karna pukulan Ardan. Dayita segera menahan lengan kakaknya yang akan kembali melayangkan pukulan pada Jeffrian. Tidak, mereka sedang berada di tempat umum dan jika dibiarkan mereka akan membuat masalah disini.
KAMU SEDANG MEMBACA
VION
Fanfictionjika ada hari esok yanglebih baik dan kau bisa membawaku kesana, aku ikut denganmu ~Dayi dia terpaksa tumbuh dengan tekanan kuat dari seorang Alpha, terpaksa tumbuh menjadi seorang yg ketakutan pada para Alpha, tapi malam itu dunia seperti sengaja m...
