20

212 24 4
                                        

                Dayi, dia adalah matahari musim semi yang cantik dan hangat. Senyumnya semakin hari semakin menawan. Kenapa baru sekarang Mahaghani menyadari itu? Putra bungsunya yang dia sayang sejak hari pertama Ghani mendengar tangisnya. Sudah 8 bulan berlalu sejak terakhir kali Ghani mendengar suara Dayinya. Rindu sekali. Baru saja sebentar anaknya itu berani berdekatan dengannya, berani mengadu padanya, berbagi bahagianya pada Ghani. Baru sebentar sekali lalu suara itu hilang, Ghani rindu.

Dayita bisa menyesuaikan diri dengan hal buruk yang baru saja menimpanya, tapi orang-orang disekitarnya yang justru tidak bisa. Oh, Ghani benarkah Dayita bisa menerimanya? Atau justu hanya dirimu yang belum bisa melihat seperti apa sebenarnya putramu? Dayita yang sangat pandai menutupi lukanya karena sudah terlatih seperti itu sejak kecil Ghani, kamu belum sepenuhnya mengenal Dayitamu.

Dayi menemukan kesibukan sejak beberapa waktu lalu, dia ternyata pandai merangkai perhiasan dari besi. Karyanya indah-indah, banyak yang menyukai. Dalam sekejap Dayi sudah disibukkan dengan anak-anak barunya sekarang –begitu Dayi menyebut aksesoris-aksesoris buatannya. Dia menghabiskan banyak waktunya untuk belajar merangkai aksesorisnya, lalu mengembangkannya sesuai karakter brand nya. Hanya mencari kesibukan dan ternyata berhasil. Banyak hal yang ternyata sudah Dayi pelajari sejak dia pindah kemari, setidaknya Dayi tidak terus-terusan memikirkan cerita lalunya di Indonesia.

Ghani melihat Dayinya sungguh berinar ditengah badai. Justru yang terlihat rapuh dan layu adalah isterinya, Rini sering kali terlihat sedang diam-diam mengintip putranya yang sedang sibuk di studio kecil miliknya di rumah ini. Menatapi punggung putranya yang sedang melampiaskan sakit, Rini suka tiba-tiba menangisi putranya saat putranya sendiri itu terlihat lebih sering tersenyum sekarang ini. Ghani tidak bisa menahan karena pun sesungguhnya dia juga merasa sama. Dayi mesih mencoba berdamai dan yang seharusnya mereka lakukan adalah membantu dan mendukungya bukan justru menangisinya seperti saat ini. Tapi bagaimana mereka harus membahsakannya jika mereka tetaplah orang tua yang ikut sakit bahkan merasa lebih sakit saat anaknya yang terluka?.

Jika hanya dilihat sekilas memag yang berubah dari Dayita hanya dia yang tidak berbicara lagi sekarang, hanya itu. Senyumya masih cerah, dia bahkan menjadi lebih banyak tersenyum. Tapi sekali lagi bagi yang mengenalnya Dayi hanya pura-pura tersenyum. Dayi menjadi semakin cerah, juga semakin redup diwaktu yang sama.

Dayi belum belajar Bahasa isyarat, tidak masalah mereka semua mau mengerti. Toh dia juga masih bisa mendengar dengan baik. Dayi sedang melancarkan Bahasa Russia nya, belajar aksaranya agar dia bisa menulis dengan benar. Dayi menyibukkan diri seutuhnya.

Sementara itu ditempat lain Jeffrian mati-matian mencari cara menemui Dayita. Dia sudah tau dimana istrinya, juga sedikit tau bagaimana keadaannya. Tapi Tuan Ghani sepnuhnya menutup jalannya untuk bisa menemui Dayi. Rasanya buntu sekali, tapi tidak mungkin Jeffrian berhent dan menyerah, terlebih dengan kabar kesulitan Dayi yang sekarang. perasaan bersalah itu jadi semakin menggunung-gunung.

"Ayi tolong maafin Mas...."

Foto pernikahannya dengan Dayita masih terpajang di dinding kamarnya, juga masih ada figura kecil disudut mejanya berisi foto Dayinya yang tersenyum. Sungguh begini kah rasanya rindu? Berat sekali.

!!!

Dayi sedang duduk studionya, sednag melakukan panggilan video dengan teman-temannya yang hanya tiga orang itu. Ah rasanya sudah lama sekali. Senyum tidak luntur sejak menit pertama panggilan sedangkan sekarang sudah lebih dari setelah jam panggilan berlangsung.

Vino, Arsy, dan Anan sudah tau keadaan Dayi sejak pertama. Mereka menjadi yang paling anti sejak permasalahan rumah tangga temannya itu mereka dengar, benar kah firasat mereka soal suami Dayi yang ternyata memang tidak oke itu.

'Oh kayaknya kita lupa sesuatu deh dek....' Itu Arsy

'Apaan?' Anan menoleh pada Arsy yang ternyata sekarang sudah resmi pacaran.

Vino sedang asik mukbang dengan makanan-makan yang tersedia untuk acara video call ini.

'Bontot kita ini... si bayi sapi, udah tunangan tau ....'

Dayi tidak bisa menghindari keterkejutan, wajahnya terlihat lucu sekali, mata bulatnya jadi semakin bulat dan itu menggemaskan.

'Beneran Ayi.... Tapi kabar buruknya itu bukan sama Inge, sadly our first couple of the gang harus putus karena perjodohan yang diinisiasi sama Ayah Sam...' itu nama ayahnya Vino sedangkan Vinonya sendiri yang sedang dibicarakan malah terlihat tenang-tenang saja.

Dayi menulis seuatu di scatchbook nya lalu menunjukkan pada layar.

'Ya patah hati lah Kak, tapi gimana Jean nya juga imut hehe.... Sempet sedih pisah sama Kak Inge tapi kita pisahnya baik-baik kok... dan dia ngerti....'

'Tapi beneran tau Ay Jean Jean ini tuh imut... lucu banget, sangat soft, nih fotonya...'

Seklai lagi Dayi menulis 'Kayaknya kalian udah pada akrab sama tunangannya Vino? Dan kenapa baru bilang sekarang?'

'Ya orang baru kemarin malem kejadiannya... eh acaranya....' Anan menyahuti. 'Tapi iya sih kita udah lumayan deket, beberapa kali anaknya udah ikut kalo kita lagi jalan....'

'Kalo gitu Kak Anan kapan lamar Kak Arsy nya?' Dayi terkekeh kecil saat memperlihatkan tulisannya.

'Arsyi nya yang nggak mau buru-buru... ya gue bisa apa kalo gitu, nggak papa bakal tetep gue tungguin sampe dapet sih... tenang aja'

Lalu obrolan itu berlanjut dengan banyak hal lain yang mereka bahas.

Semakin hari, semakin Dayi paham jika dalam jangka waktu yang panjang ini hanya Jeffrian yang meninggalkannya, sisanya yang lain tetap ada bersamanya. Dayi masih memiliki banyak hal dan karena itu dia juga harus bangkit. Hidupnya masih bisa dia jalanani tanpa harus merasa bersalah pada siapapun, termasuk pada dirinya sendiri sebagai seorang istri.

!!!

"Ayah, Jeffrian ada disini lagi... kayaknya dia sungguh-sungguh Yah, ini udah 2 kali sebulan ini dia dating kesini..."

"Dan kamu percaya kalo dia sungguh-sungguh Ray?"

Raynar tidak bisa menjawab. Jika dilihat dari usaha Jeffrian selama ini maka kesungguhannya sudah terlihat, tapi jika soal bagaimana maksud hati anak itu, memangnya siapa yang bisa menjawab? Raynar sependapat soal sikap Jeffrian yang memang terlalu jauh, tapi apa benar adiknya sudah melupakan suaminya itu? Sekalipun tidak rela masih ada sebersit firasat jika bahkan Dayi masih mengharapkan Jeffrian meminta maaf. Karena pun sampai saat ini Dayi masih enggan mengajukan cerai.










CANTIK POLLLL ANAKNYA MAMI RINI!!!! hiksrooot 😭😭😭😭

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

CANTIK POLLLL ANAKNYA MAMI RINI!!!! hiksrooot 😭😭😭😭

maaf kalo jadi bertele-tele ya ini cerita, tapi bentar lagi end kok.... makasiiih udah bacaaaaa, love sekeboooon ~Vero!

VIONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang