PART 31

83 12 0
                                        

Matahari mulai merangkak naik di langit Jakarta, tetapi suasana di sekitar Istana Negara jauh dari ketenangan. Ribuan orang telah berkumpul di jalan-jalan utama, memenuhi udara dengan suara nyanyian perjuangan, teriakan tuntutan, dan dentuman drum yang dimainkan oleh para demonstran.

Mahasiswa dari berbagai universitas menjadi garda terdepan dalam aksi massa yang menuntut kejelasan kebijakan pemerintah terkait pergantian undang-undang pajak serta kenaikan nilai rupiah yang berdampak pada daya beli masyarakat.

Di antara lautan massa, spanduk dan poster dengan berbagai slogan terlihat berkibar:

"Tolak Pajak yang Mencekik Rakyat!"

"Turunkan Beban Pajak, Stabilkan Rupiah!"

"Rakyat Butuh Solusi, Bukan Ilusi!"

Suasana semakin memanas seiring dengan bertambahnya jumlah demonstran. Dari kejauhan, barisan polisi antihuru-hara dan tentara berdiri dalam formasi rapi, membentuk pagar betis untuk menjaga keamanan di sekitar istana.

Di dalam Istana Negara, Wonwo berdiri di dekat jendela lantai dua, memandangi kerumunan di luar dengan tatapan serius. Ia tidak bisa mendengar dengan jelas teriakan dari luar, tetapi melihat ribuan orang berkumpul dengan wajah penuh semangat dan amarah sudah cukup membuatnya memahami situasi yang sedang terjadi.

Di belakangnya, Alvarez, anak sulungnya yang sudah mulai memahami dunia di sekitarnya, mendekat dan ikut melihat ke luar jendela.

"Ibu, kenapa mereka berteriak?" tanya Alvarez polos.

Wonwo menghela napas sejenak, mencoba merangkai kata agar anaknya bisa memahami tanpa merasa takut.

"Mereka menyuarakan pendapat mereka, Nak. Mereka ingin pemerintah mendengarkan aspirasi mereka," jawab Wonwo lembut, tanpa menjelaskan lebih jauh bahwa ayahnya, Presiden Mingyu, sedang berada di luar negeri dan tidak bisa langsung menghadapi demonstrasi ini.

Di dekatnya, Kanila dan Kalila, bayi kembarnya yang masih berusia enam bulan, tertidur pulas dalam gendongan pengasuh mereka. Wonwo bersyukur setidaknya kedua anaknya masih belum memahami situasi yang terjadi di luar.

Meskipun berada dalam perlindungan penuh, Wonwo tetap merasa ada ketegangan di udara. Sejumlah Paspampres berjaga lebih ketat dari biasanya, mondar-mandir di dalam istana, memastikan keamanan keluarga presiden.

Di luar istana, para mahasiswa dan masyarakat semakin lantang menyuarakan tuntutan mereka. Salah seorang orator naik ke atas mobil komando dan berbicara melalui pengeras suara.

"Saudara-saudara sekalian! Hari ini kita berdiri di sini bukan tanpa alasan. Undang-undang pajak yang baru hanya akan semakin membebani rakyat kecil, sementara harga kebutuhan pokok terus melonjak karena dampak kenaikan rupiah!"

Sorak-sorai memenuhi udara, diiringi suara tepuk tangan dan yel-yel perjuangan.

Barisan polisi yang berjaga mulai terlihat gelisah. Meski demonstrasi masih dalam batas damai, jumlah massa yang semakin banyak membuat situasi menjadi tegang. Di beberapa titik, terlihat tentara dengan perlengkapan lengkap ikut berjaga, memastikan tidak ada tindakan anarkis yang terjadi.

Salah satu pejabat keamanan yang bertugas mendekati komandan lapangan, berbicara dengan nada serius.

"Pastikan tidak ada yang menerobos barikade. Kita jaga situasi tetap kondusif."

Di sisi lain, beberapa kelompok demonstran mulai bernegosiasi dengan pihak kepolisian, meminta agar perwakilan mereka diperbolehkan masuk ke dalam istana untuk bertemu dengan perwakilan pemerintah.

Berita tentang demonstrasi besar-besaran di depan Istana langsung menjadi sorotan utama di media. Siaran televisi nasional dan media sosial dipenuhi dengan rekaman aksi massa yang menggema di seluruh negeri.

MAS WAPRES (MINWO) (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang