Sudah beberapa hari terakhir ini, Wonwo merasa tubuhnya semakin lemah. Ia mudah merasa pusing, bahkan berdiri terlalu lama pun membuat kepalanya berputar. Awalnya, ia mengira ini hanya efek dari kelelahan, mengingat aktivitasnya sebagai Ibu Negara cukup padat. Namun, saat hidungnya kembali mengeluarkan darah kemarin, ia mulai berpikir bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan tubuhnya.
Ia memutuskan untuk tidak tinggal diam. Diam-diam, pagi ini ia menghubungi seseorang yang ia percayai Dokter Baekho, Menteri Kesehatan sekaligus dokter yang selama ini menangani kesehatannya dalam diam.
"Tolong periksa aku, Dok. Tapi aku ingin ini tetap menjadi rahasia kita berdua."
Baekho yang ada di seberang telepon awalnya terkejut dengan permintaan Wonwo. Namun, melihat betapa seriusnya Wonwo, ia hanya menghela napas.
"Baiklah,. Saya akan menunggu di rumah sakit. Datanglah ke ruanganku di lantai 5."
Pagi ini, Wonwo berpakaian biasa tanpa gaun formal atau riasan khasnya sebagai Ibu Negara. Ia hanya mengenakan sweater hitam, celana jeans, dan masker medis untuk menyamarkan wajahnya. Tidak boleh ada yang mengenalinya. Tidak boleh ada yang tahu bahwa ia akan pergi ke rumah sakit. Terutama Mingyu.
Di sebelahnya, Renjun yang dipercaya untuk mengantarnya hanya bisa melirik Wonwo dengan tatapan khawatir.
"Ibu izin bertanya, apa ini benar-benar perlu disembunyikan dari bapak?" Renjun bertanya pelan saat mobil mulai melaju meninggalkan Istana.
Wonwo menoleh sebentar ke arah asistennya itu dan menghela napas. "Aku tidak mau dia khawatir, Renjun. Dia sudah punya terlalu banyak beban di pundaknya sebagai presiden. Aku hanya ingin memastikan kalau aku baik-baik saja dulu, baru aku bisa memberi tahu dia nanti."
Renjun menggigit bibirnya. Ada perasaan tidak enak dalam hatinya, tapi ia juga tahu Wonwo adalah orang yang keras kepala. "Baik, ibu . Tapi kalau ada sesuatu yang serius, janji jangan merahasiakannya lebih lama, ya?"
Wonwo tersenyum kecil, walau di balik masker senyuman itu tak sepenuhnya bisa terlihat. "Aku janji."
Setelah perjalanan yang cukup panjang dan memastikan tidak ada yang mengikuti, mobil akhirnya berhenti di basement rumah sakit. Wonwo dan Renjun turun dengan hati-hati. Tidak boleh ada yang mengenali Wonwo di sini.
Dengan langkah cepat, mereka menuju lift dan naik ke lantai 5. Wonwo terus menunduk, memastikan wajahnya tidak menarik perhatian. Beberapa orang yang berpapasan mungkin hanya mengira ia adalah pasien biasa.
Begitu sampai di depan ruangan Dokter Baekho, Wonwo mengetuk pintu sekali.
"Masuk," terdengar suara dari dalam.
Wonwo membuka pintu, masuk dengan hati-hati, sementara Renjun menunggu di luar.
Begitu pintu tertutup, Baekho berdiri dari kursinya dan menatap Wonwo dengan ekspresi serius.
"Kamu tahu, aku sebenarnya tidak setuju dengan keputusanmu menyembunyikan ini dari Mingyu," ucapnya langsung tanpa basa-basi.
Wonwo melepaskan maskernya dan tersenyum kecil. "Tapi kamu tetap membiarkanku datang, kan?"
Baekho mendesah dan menggeleng. "Baiklah, duduklah. Aku akan memeriksa kondisimu."
Wonwo duduk dengan tenang saat Baekho mulai melakukan pemeriksaan. Ia mengecek tekanan darah Wonwo, mendengarkan detak jantungnya, hingga mengambil beberapa sampel darah untuk diuji di laboratorium.
Saat Baekho sedang mencatat hasil pemeriksaan awal, Wonwo mengamati wajah dokter itu dengan seksama. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Baekho.
"Ada yang tidak beres, ya?" tanya Wonwo, mencoba membaca ekspresi dokter itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
MAS WAPRES (MINWO) (END)
FanfictionMingyu yang menjabat sebagai Wakil Presiden yang sibuk atas amanat yang diberikan oleh sang kepala negara serta pilihan rakyat dalam menjaga negara ini, yang membuat dirinya sibuk dengan urusan negara yang tidak akan habis . Suatu ketika saat ia da...
