PART 44

78 5 0
                                        

Hari ini, Jakarta masih terasa panas dengan segala hiruk-pikuk politik dan pekerjaan pemerintahan yang harus segera diselesaikan.

Di dalam ruang kerja di Kantor MPR, Presiden Mingyu tengah duduk dengan tenang, membaca dokumen-dokumen penting yang disiapkan oleh para menterinya.

Sejak pagi, ia sudah mengikuti beberapa rapat penting, salah satunya mengenai pemilihan Wakil Presiden yang selama ini kosong.

Sementara itu, di meja kerjanya, sebuah panggilan video dari Hangyul masih terbuka, menampilkan laporan real-time dari berbagai sektor pemerintahan yang sedang ia awasi.

Namun, di antara semua informasi yang diterimanya hari ini, ada satu berita yang membuat Mingyu bisa bernapas lega Wonwo telah sadar dan kembali tersenyum.

Saat pagi tadi, Mingyu menerima pesan dari dokter yang merawat Wonwo di Singapura.

"Pak Mingyu, Bu Wonwo telah sadar pagi ini. Kondisinya membaik dan tampak lebih bersemangat. Ia meminta untuk segera berbicara dengan Anda."

Mingyu yang saat itu sedang bersiap mengikuti pertemuan langsung merasakan beban di pundaknya terasa lebih ringan.

Selama beberapa minggu terakhir, ia merasa seperti dihantam badai dari berbagai sisi demonstrasi besar-besaran, kebijakan ekonomi yang harus segera diperbaiki, hingga kondisi Wonwo yang membuatnya hampir kehilangan arah.

Kini, mendengar bahwa istrinya telah sadar dan kembali tersenyum, ia tahu bahwa harapan masih ada.

Tanpa ragu, ia langsung menelepon nomor yang diberikan oleh dokter.

Setelah beberapa detik menunggu, akhirnya terdengar suara yang sangat dirindukannya.

"Halo...?"

Mingyu menghela napas dalam-dalam. Suara itu lembut, sedikit serak, tapi penuh dengan kehidupan.

"Sayang... Kamu sudah sadar?"

Dari seberang telepon, terdengar suara tawa kecil dari Wonwo.

"Iya mas aku sudah sadar. Dan aku merasa jauh lebih baik sekarang."

Mingyu tak bisa menahan senyum.

"Aku bersyukur... Aku benar-benar bersyukur."

Wonwo tertawa kecil lagi.

"Mas tidak perlu khawatir lagi. Aku baik-baik saja, Mas Mingyu."

Kalimat itu, sesederhana apapun, adalah hal terbaik yang didengar Mingyu hari ini.

Namun, kebahagiaan itu tidak bisa membuat Mingyu melupakan tugasnya.

Hari ini, ia masih harus menghadiri rapat di Kantor MPR yang membahas beberapa isu penting, salah satunya adalah kekosongan jabatan Wakil Presiden.

Saat Mingyu masuk ke dalam ruang rapat, para anggota MPR sudah menunggu.

Seorang anggota langsung membuka pembahasan.

"Pak Presiden, kita sudah hampir melewati periode pemerintahan ini tanpa Wakil Presiden. Bagaimana rencana Anda?"

Mingyu duduk dengan tenang, meletakkan tangannya di atas meja.

"Aku memahami kekhawatiran kalian. Tapi waktu pengabdianku sebagai presiden tinggal satu tahun lagi. Aku rasa tidak ada urgensi untuk menunjuk seorang Wakil Presiden dalam waktu yang sesingkat ini."

Beberapa anggota tampak mengangguk, sementara yang lain tampak masih ingin mendebat.

"Namun, Pak Presiden, bagaimana dengan stabilitas pemerintahan? Bagaimana jika Anda harus meninggalkan Indonesia lebih lama?"

MAS WAPRES (MINWO) (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang