Part 36

74 10 0
                                        

Suasana sore di Istana terasa lebih santai dibandingkan biasanya. Matahari mulai meredup, menyisakan cahaya keemasan yang menerpa jendela dapur, menciptakan suasana yang hangat dan nyaman. Wonwo, yang mengenakan apron putih dengan rambutnya yang dikuncir rapi, sedang berdiri di meja dapur bersama asistennya, Renjun.

Hari ini, mereka berdua memutuskan untuk membuat gorengan sebagai camilan sore. Wonwo, yang sejak kecil suka memasak, tampak luwes saat mencampur adonan, sementara Renjun dengan cekatan mengiris tempe dan tahu untuk digoreng.

"Renjun, kamu harus coba ini," ujar Wonwo sambil menyodorkan sepotong bakwan yang baru diangkat dari minyak panas.

Renjun menerima bakwan itu dengan penuh antusias dan langsung menggigitnya. "Hmmm! Enak banget, Bu! Tapi kayaknya masih kurang garam dikit deh."

Wonwo tertawa kecil. "Iya ya? Tadi aku takut keasinan, jadi aku kurangin garamnya."

Mereka berdua terus sibuk di dapur, saling bertukar cerita dan bercanda. Wonwo merasa nyaman bekerja dengan Renjun. Asistennya itu tidak hanya cekatan dalam bekerja, tetapi juga ceria dan menyenangkan.

Setelah beberapa saat, Renjun tiba-tiba menghela napas panjang dan bersandar di meja dapur.

"Bu, aku mau curhat," kata Renjun dengan nada serius.

Wonwo menoleh dengan penasaran. "Kenapa? Ada masalah?"

Renjun mengangguk. "Iya. Masalah percintaan. Aku beneran nggak ngerti harus gimana, Bu."

Wonwo tertawa kecil. "Ya ampun, masalah cinta ya? Coba ceritain ke aku, siapa tahu aku bisa kasih saran."

Renjun menghela napas lagi sebelum mulai berbicara. "Jadi gini, aku tuh deket sama seseorang, tapi situasinya rumit. Aku ngerasa ada perasaan lebih, tapi kayaknya dia nggak serius. Kadang perhatian banget, kadang malah menjauh. Aku bingung harus tetap bertahan atau mundur aja."

Wonwo mengaduk adonan bakwan sambil mendengarkan dengan seksama. "Hmmm... Itu memang susah sih. Tapi kalau menurutku, kalau seseorang beneran sayang, dia nggak akan bikin kamu bingung. Kalau perasaannya tulus, dia pasti kasih kepastian, bukan tarik ulur kayak gitu."

Renjun mengangguk, tampak berpikir dalam. "Iya sih, Bu. Tapi aku juga takut kalau aku mundur, aku bakal nyesel nanti."

Wonwo tersenyum lembut. "Kalau kamu bertahan hanya karena takut nyesel, nanti yang ada kamu malah menyakiti diri sendiri. Yang penting, kamu harus tahu harga dirimu. Jangan sampai perasaanmu dipermainkan."

Renjun terdiam sejenak sebelum tersenyum. "Ibu bener. Makasih ya, Bu. Ibu selalu punya nasihat yang bijak."

Mereka kembali tertawa bersama, melanjutkan memasak dengan lebih santai. Namun, tiba-tiba Wonwo merasakan kepalanya sedikit berputar. Ia mencoba mengabaikannya, tetapi rasa pusing itu semakin menjadi. Ia berhenti sejenak, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam.

"Bu, ibu nggak apa-apa?" tanya Renjun yang menyadari perubahan ekspresi Wonwo.

Wonwo tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, mungkin aku cuma kecapekan aja."

Namun, beberapa detik kemudian, Wonwo merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari hidungnya. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh bagian bawah hidungnya, lalu melihat ada darah segar di telapak tangannya.

Renjun yang melihat itu langsung panik. "Bu! Hidung ibu berdarah!"

Wonwo buru-buru mengambil tisu dan menutup hidungnya. "Renjun, jangan panik. Aku nggak apa-apa."

"Tapi, Bu-"

Wonwo menatap Renjun dengan tatapan menenangkan. "Jangan bilang siapa-siapa, ya?"

Renjun tampak ragu. "Tapi ibu kelihatan lemah. Harusnya ibu dipanggilin dokter atau Pak Presiden..."

MAS WAPRES (MINWO) (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang