PART 39

63 6 0
                                        

Satu minggu telah berlalu sejak Wonwo menjalani kemoterapi pertamanya. Mingyu selalu berada di sisinya, memastikan Wonwo mendapatkan perawatan terbaik dan tetap merasa nyaman.

Namun, waktu yang dihabiskannya di rumah sakit juga berarti satu minggu penuh tanpa bertemu dengan anak-anaknya. Setiap malam, saat Wonwo tertidur, Mingyu akan duduk di kursi samping tempat tidurnya, memandangi layar ponsel dengan foto-foto anak-anak mereka.

Ia tahu Wonwo juga sangat merindukan mereka, terutama Alvarez, yang pasti mulai mempertanyakan ke mana ibunya pergi.

"Mas, besok aku mau video call sama anak-anak," ujar Wonwo pelan saat Mingyu sedang menyuapinya makan malam.

Mingyu menatap istrinya, kemudian mengangguk. "Tentu, sayang. Besok pagi, ya? Aku akan minta mereka bersiap-siap."

Wonwo tersenyum tipis, meskipun wajahnya masih tampak lelah. "Aku kangen mereka..."

Mingyu menggenggam tangan istrinya dan menatapnya dengan penuh kasih. "Aku juga, sayang... Tapi mereka pasti baik-baik saja. Mereka kuat seperti ibunya."

Wonwo tersenyum, meskipun di dalam hatinya, ia tak bisa menghilangkan perasaan bersalah karena tidak bisa bersama anak-anaknya.

Minggu pagi di rumah keluarga Mingyu biasanya ramai oleh suara anak-anak yang bermain, berlari-lari, atau bercanda dengan para sepupu mereka. Namun, pagi ini terasa berbeda.

Alvarez duduk sendirian di sofa, menatap layar televisi tanpa ekspresi. Kartun favoritnya sedang tayang, tapi entah kenapa, ia tidak terlalu menikmati seperti biasanya.

Di sekelilingnya, sepupu-sepupunya sedang bermain, dan si kembar, Kanila dan Kalila, sibuk dengan mainan mereka. Tapi Alvarez tetap diam di tempatnya.

Jinyoung, yang sedang berdiri di dekat tangga, memperhatikan tingkah ponakannya itu. Biasanya, Alvarez bukan tipe anak yang diam. Ia aktif, banyak bicara, bahkan kadang terlalu cerewet untuk anak seusianya. Tapi hari ini, bocah itu terlihat sangat tenang terlalu tenang.

"Hmm... Ini anak kenapa?" gumam Jinyoung dalam hati.

Sebagai Om dan juga anak bungsu dan ia juga yang hobi ngisengin ponakannya terutama Alvarez, Jinyoung biasanya akan memanfaatkan kesempatan seperti ini untuk mengganggu Alvarez, tapi kali ini, entah kenapa, ia memilih diam.

"Kalo aku isengin sekarang, bisa-bisa aku yang kena balik," pikirnya.

Saat itu, Chanyeol baru saja sampai di rumah setelah keluar pagi-pagi. Begitu masuk, ia melihat adiknya, Jinyoung, berdiri dengan ekspresi berpikir keras.

Chanyeol melirik ke arah sofa dan melihat Alvarez yang duduk diam.

Dengan ekspresi bingung, Chanyeol melirik Jinyoung dan menggerakkan bahunya, seolah bertanya, "Kenapa tuh bocah?"

Jinyoung, tanpa mengeluarkan suara, menjawab dengan gerakan tangan, "lagi model senggol bacok."

Chanyeol mengangguk paham. Jika Jinyoung yang biasanya jahil saja memilih diam, berarti memang ada yang tidak beres dengan bocah itu.

Chanyeol berjalan mendekati Alvarez dan duduk di sampingnya.

"Pagi, Mas Alva Kok diem aja? Biasanya nggak bisa diam kalau nonton."

Alvarez menghela napas pelan, lalu menjawab tanpa menoleh. "Nggak apa-apa, Pakde."

Chanyeol mengangkat alis. "Yakin? Kamu kelihatan nggak semangat."

Alvarez akhirnya menoleh ke arah pamannya. Matanya yang jernih dan polos menatap Chanyeol dengan penuh kerinduan yang tersembunyi.

"Mas kangen sama Ibu, Pakde..." ucapnya pelan.

MAS WAPRES (MINWO) (END) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang